OJK Akui Pasar Modal Sulit Berkembang

Jika Asing Masih Mendominasi Pasar

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta – Klaim PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila selama enam tahun terakhir terjadi peningkatan rekening efek saham hingga tiga kali lipat, rupanya belum menjadi prestasi sukses bagi industri pasar modal dalam negeri. Pasalnya, dominasi asing terhadap kepemilikan saham masih menjadi tantangan besar.

Kata Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sardjito, sulit berkembangnya pasar modal di dalam negeri karena banyaknya saham yang dimiliki asing. Selain itu, juga didasari oleh pemahaman masyarakat yang masih terbatas, dengan lebih memilih menyimpan dananya di bank, dari pada diinvestasikan ke instrumen lain,”Dunia dalam genggaman teknologi. Semua harus berubah. Kenapa market kita sedikit? Akibat dari ownership saham di negeri ini, 60% dimiliki asing. Kenapa sulit sekali tumbuh? Karena effort-nya yang dilakukan tidak melembaga dan berbudaya," ujarnya di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut dia, generasi muda harus mulai berpikir untuk melakukan investasi dari pada hanya menabungkan uangnya. Dengan demikian, dapat menumbuhkan jumlah investor muda yang handal di dalam negeri,”Mahasiswa harus menjadi pemain market dan menjadi bagian dari market. Tetapi, ketika menjadi investor jangan terlalu kreatif dengan banyak mainkan saham," jelas Sarjito.

Dia menuturkan, jumlah masyarakat Indonesia yang sadar untuk investasi di pasar modal masih minim terhadap. Padahal, menurut Sardjito, banyak orang hebat di dunia yang menginvestasikan dananya di pasar modal,”Saya tidak mengatakan menabung tidak baik, tetapi orang hebat dunia, seperti Warren Buffet dapat menjadi hebat karena dia masuk ke capital market. Beberapa orang kaya di Indonesia juga menjadi hebat karena di capital market," pungkasnya.

Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito mengungkapkan, selama enam tahun terakhir terjadi peningkatan rekening efek saham hingga tiga kali lipat. Dengan jumlah rekening efek saham mencapai 500 ribu."Tahun 2009 sampai sekarang naik tiga kali lipat, dari 160 ribu rekening efek menjadi 500 ribu pada saat ini," kata Ito Warsito.

Menurut dia, jumlah rekening efek saham saat ini masih sangat kecil, jika dibanding jumlah keseluruhan penduduk yang ada di Indonesia. Makanya, hal itu merupakan tantangan yang besar bagi pasar modal dalam meningkatkan jumlah rekening saham,”Kita bakal tingkatkan jumlah rekening saham kedepannya. Kegiatan ini merupakan gerakan nasional untuk meningkatkan pasar modal," tukas dia.

Memang ada perbedaan antara rekening saham dan rekening bank. Tapi, dengan adanya perbedaan itu, dia berharap masyarakat bisa mengubah gaya hidup dari menabung di perbankan menjadi investasi,”Hanya investasi yang bisa menjamin hari tua sejahtera. Ini yang harus diubah," ucap Ito. (bani)