Industri Mamin Diminta Pasok Kebutuhan Pasar

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian, Saleh Husin meminta industri makanan dan minuman dapat terus memberikan kontribusi yang maksimal bagi pemenuhan permintaan pasar minuman di dalam negeri maupun luar negeri.

Hal tersebut sesuai dengan visi dan misi Nawa Cita Kabinet Kerja, dimana kedaulatan pangan akan terus diupayakan seluas-luasnya dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri melalui pengembangan industri berbasis agro, baik sebagai bahan pangan pokok mapun untuk memenuhi bahan baku industri makanan dan minuman.

“Pembangunan ekonomi nasional, khususnya sektor industri mempunyai peranan penting antara lain dalam kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan devisa, penyerapan tenaga kerja dan pemerataan pembangunan,” tegas Menperin di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut data di 2014, kontribusi industri makanan dan minuman (termasuk tembakau) secara kumulatif terhadap PDB non migas sebesar 36,94%, dan pertumbuhan cabang industri ini terhadap industri non-migas mencapai 8,80%. Selain itu, industri makanan dan minuman dapat menyerap tenaga kerja langsung lebih dari 1,6 juta orang pada tahun 2014.

Nilai ekspor industri agro pada periode Januari-September 2014 mencapai USD 31,37 miliar atau 35,72% terhadap ekspor industri pengolahan nasional, meningkat sebesar 12,69% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kontribusi produk makanan, minuman dan tembakau pada penerimaan devisa melalui ekspor pada periode Januari-September tahun 2014 mencapai USD 1,64 miliar.

Realisasi investasi PMDN Industri Makanan dan Minuman pada Januari-September 2014 sebesar Rp. 13,93 triliun atau meningkat sebesar 7,95% dibanding periode yang sama tahun 2013. Investasi sektor industri makanan dan minuman memberikan kontribusi sebesar 33,3% dari total investasi PMDN sektor industri.

Di sisi lain, nilai investasi PMA sektor industri ini mencapai USD 2,54 miliar atau meningkat 71,34% dibandingkan periode tahun sebelumnya. Investasi sektor industri makanan memberikan kontribusi sebesar 25,09% dari total investasi PMA.

“Berdasarkan fakta tersebut memberikan harapan bagi kita, agar pada masa mendatang perkembangan positif dan kontribusi yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional, dapat terus dicapai,” harap Menperin.

Menperin juga meminta kepada dunia usaha hendaknya melakukan langkah-langkah untuk peningkatan mutu, peningkatan produktivitas dan efisiensi di seluruh rangkaian proses produksi, yang sejalan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta kegiatan penelitian dan pengembangan.

Saat ini, Pemerintah Pusat dan Daerah sedang mengupayakan berbagai perbaikan di bidang iklim usaha termasuk insentif bagi dunia usaha, perbaikan dan peningkatan infrastruktur, perbaikan akses dunia usaha kepada lembaga keuangan dan kebijakan lain yang dapat mempercepat pengembangan sektor industri.

“Kita sedang berada pada prespektif baru persaingan internasional. Salah satu yang ramai dibicarakan dalam berbagai kesempatan adalah pasar bersama ASEAN atau masyarakat ekonomi ASEAN yang akan diberlakukan pada akhir tahun 2015,” kata Menperin.

Sektor industri agro dengan subsektor industri pangan olahan merupakan salah satu prioritas dalam tahap persiapan melalui pembentukan working group. “Working group ini menjadi media harmonisasi bagi setiap negara anggota ASEAN dibawah koordinasi ASEAN Consultative Committee on Standard and Quality for Prepared Foodstuff Product Working Group (ACCSQ-PFPWG)," paparnya.

Oleh karena itu, pengembangan industri ke depan harus fokus kepada penguatan seluruh mata rantai produksi agar tercipta pembangunan industri yang berkelanjutan dengan struktur dan kapabilitas industri yang tangguh serta nilai tambah yang tinggi. “Dalam pembangunan industri nasional juga harus didorong pembentukanjejaring industri secara nasional,” tutur Menperin.

Untuk itu, Menperin mengharapkan kepada semua pelaku usaha industri dalam negeri agar bersama-sama dengan Pemerintah untuk menghimpun kekuatan nasional dan menghadapi tantangan persaingan pasar antar ASEAN serta pemenuhan pasar dalam negeri dalam rangka meningkatkan kinerja sektor industri guna mendorong pertumbuhan industri nasional.

Pada kesempatan itu, Menperin memberikan apresiasi kepada PT. AIBM yang merupakan perusahaan joint venture antara PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dengan perusahaan Jepang, Asahi Group Holdings, Ltd. Sejak tahun 2012. “Saya memberikan apresiasi atas kerjasama yang dijalin antara kedua perusahaan, yang sekaligus memperkuat hubungan ekonomi Indonesia-Jepang”.

Dapat disampaikan, sebelum joint venture, divisi minuman Indofood CBP telah mencatatkan nilai penjualan sebesar Rp. 218.9 miliar dan menargetkan untuk mencapai Rp. 5 triliun pada tahun 2017. Sementara itu, dalam upaya menciptakan lapangan kerja baru, PT. AIBM akan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 200 orang, belum termasuk agen dan pengecer.