Mengapa Lulusan Pendidikan Formal Susah Cari Kerja?

Oleh: Aries Musnandar, Dosen Salah Satu Perguruan Tinggi

Kamis, 09/04/2015

Kalau Anda mengadakan survei terhadap lulusan pendidikan khususnya para sarjana S1, maka besar kemungkinan akan diperoleh temuan data bahwa lebih dari 50% lulusan S1 berusaha mencari pekerjaan alias melamar kerja di perusahaan atau instansi tertentu agar dapat menjadi pegawai atau karyawan. Fenomena umum tersebut diatas mudah dijumpai, padahal pendidikan tinggi (baca" universitas) di negeri ini tidak menyiapkan mahasiswa untuk langsung siap kerja sekalipun dari jurusan kedokteran (S1) karena memang setelah menjadi sarjana kedokteran mereka mesti melalui program "co-as" sebelum boleh bekerja sesuai keahliannya. Demikianlah realitas yang terjadi di negeri ini banyak sarjana S1 yang mencari pekerjaan sementara "ilmu bekerja" tidak diperoleh dibangku kuliah termasuk juga tidak diajarkan kiat-kiat memenangkan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan yang bergengsi.

Selama ini saya kerap didatangi dan di hubungi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi yang menanyakan teknik-teknik menghadapi tes karyawan. Umumnya mereka sudah mengetahui bahwa saya pernah memiliki pengalaman kerja hampir dua puluh tahun dan sebagian besar berpengalaman di bidang personalia atau sering dikenal dengan bagian HRD (Human Resources Development). Berdasarkan pengalaman saya berinteraksi dengan para pencari kerja itu tampak bahwa rata-rata sikap penampilan mereka kurang meyakinkan, sehingga kerap pada saat wawancara awal saja sudah tidak memenuhi kriteria mengikuti tes lanjutan.

Terpaksa saya perlu kerja keras membenahi kualitas softskills mereka dalam menjalani wawancara dan tes masuk kerja perusahaan. Tak jarang saya melakukan simulasi danrole playdengan mereka untuk memoles dan meningkatkan kualitas "attitude & response" pelamar agar nantinya dalam mengikuti serangkaian tes yang dilakukan perusahaan mampu memperlihatkan kecakapansoftskillsyang diharapkan. Tentu "crash program" peningkatansoftkillsmelalui bermain peran dan simulasi hanya memiliki waktu terbatas, namun paling tidak sedikit banyak menambah wawasan mereka tentang perlunya selalu menaruh perhatian pada kecakapan yang diperlukan di dunia kerja tersebut.

Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya diterima kerja di berbagai perusahaan dan biasanya mereka mengabarkan saya baik melalui sms maupun kembali datang kerumah saya untuk membagi cerita cerianya sehubungan dengan penerimaan mereka sebagai karyawan. Tak lupa tentu saya memberikan wejangan dan masukan dalam menghadapi suasana baru dilingkungan kerja yang tentu amat berbeda dengan lingkungan kampus tatkala masih menajdi mahasiswa. Saya juga biasanya mengingatkan mereka bahwa bagi pemula yang belum punya pengalaman tawaran yang diajukan sebaiknya diterima saya dulu dan bekerja dengan samangat tinggi, sebab tatkala kita sudah memiliki pekerjaan "nilai jual" kita lebih tinggi dibanding dengan mereka yang belum punya pengalaman kerja, sehingga memudahkan mereka jika ingin pindah kerja.

Sikap, cara menjawab, penampilan diri serta perilaku dalam menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan bagian HRD tidak menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah calon karyawan yang tepat dan layak untuk diterima bekerja di perusahaan itu. Tidak hanyacontentatau kualitas jawaban yang kurang meyakinkan tetapi juga komunikasi non verbal mereka tidak menunjukkan dukungan yang signifikan sebagai calon karyawan berpotensi untuk menjadi orang profesional yang dibutuhkan dunia usaha dan industri. Kita akui bahwa mereka (pencari kerja) merupakan hasil didikan dari sekolah formal di Indonesia yang membentuk karakter lulusannya seperti itu.

Pengalaman pendidikan kita di Indonesia mengindikasikan bahwa kegiatan akademik sangat diperhatikan mulai dari pemangku kebijakan bidang pendidikan pusat hingga pelaku atau praktisi pendidikan seperti guru. Saking besarnya perhatian mereka pada kemampuan akademik untuk menentukan siswa/mahasiswa itu terbaik atau teladan kriterianya adalah memiliki nilai prestasi akademik (IP) yang tertinggi. Sementara itu kecakapan softskills seperti kreativitas mengatasi masalah, keterampilan berkomunikasi, percaya diri, interaksi sosial dan sejumlah sikap dan perilaku soft lainnya tidak atau kurang diberdayakan oleh para guru/dosen di ruang-ruang kelas pada saat pembelajaran berlangsung.

Alhasil, lulusan sekolah formal hanya pandai mengerjakan tes tertulis atau ujian yang dibuat sekolah sekolah secara tertulis tetapi ungkapan lisan dan kepiawaian dalam bekerja dengan atribut inisiatif, kreatifitas, inovasi, sensitifitas, aplikatif, efektivitas (IKI SAE, Aries Musnandar 2012) tinggi tidak terejawantahkan dalam wujud-wujud kegiatan belajar mengajar baik di ruang kelas maupun saat belajar di liuar ruang kelas. Bertahun-tahun kebijakan dan pendekatan pendidikan diarahkan hanya pada keunggulan intelektual akademik secara sempit dan linear sehingga kemampuan berpkir dan bekerja secara lateral dan kreatif tidak terasah dengan baik. Konsekuensinya lulusan pendidikan kita amat buruk dalam menampilkan diri sebagai calon karyawan yang mampu bekerja dalam tataran softskills memadai sebagaimana yang dibutuhkan dunia usaha dan industri.

Mencermati situasi dan kondisi tersebut maka wajar jika banyak para pengganguran intelektual sementara dunia usaha dan industri sulit mendapatkan calon karyawan berpotensi baik dengan kecakapansoftskillscanggih. Sebenarnya lowongan kerja tidaklah sedikit namun ketersedaiaan tenaga kerja yang diharapkan dunia usaha masih belum memiliki standar yang diinginkan. Oleh karena itu kiranya, pihak pemangku kepentingan perlu mencermati ulang dunia pendidikan kita khususnya dalam persoalan metodologi pembelajaran. Pemberdayaan guru dan dosen dalam mengantarkan materi belajarnya yang dapat meningkatkan kualitassoftskillspelajar sangat mendesak dibutuhkan, oleh karena itu kualitas softskills guru dan dosen adalah yang pertama dan utama untuk ditumbuhkembangkan terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan lulusan yang siap kerja. (umm.ac.id)