Kondisi Pemerintahan Pengaruhi Laju IHSG

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Semarang – Setelah sempat tembus rekor baru di level 5.523 pada penutupan perdagangan saham Selasa (7/4) kemarin, kini laju indeks harga saham gabungan (IHSG) Rabu (8/4) kembali terkoreksi akibat aksi ambil untung. Namun yang pasti, terciptanya rekor indeks BEI tidak bisa lepas dari peran serta dari roda pemerintahan yang berjalan kondusif.

Kata analis saham PT Ciptadana Securities, Dedi Kristianto, kondisi pemerintahan mempengaruhi pergerakan indeks harga saham gabungan di pasar saham Indonesia,”Selama pemerintahan berjalan bagus, maka kami optimistis IHSG akan membaik dan rupiah menguat, mungkin pada tahun ini antara 12.000-13.000/dolar AS,”katanya di Semarang, Rabu (8/4).

Menurutnya, sejauh ini para investor cukup optimistis dengan kondisi ekonomi di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari banyaknya dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia, bahkan beberapa waktu lalu IHSG menguat di level tertinggi yaitu 5.522,”Dari IHSG tersebut diketahui dana asing yang masuk cukup banyak yaitu Rp400-500 miliar, bahkan dari awal tahun hingga saat ini belum ada dana asing atau dari investor asing yang keluar dari pasar saham Indonesia,"ujarnya.

Pihaknya menilai, IHSG yang tetap menguat meski rupiah melemah tersebut merupakan bukti dari rasa optimistis investor terhadap pasar saham Indonesia. Menurutnya, yang biasa terjadi adalah pelemahan rupiah akan langsung berpengaruh terhadap pelemahan IHSG.

Dedi memprediksikan, pelemahan rupiah akan berlangsung antara 2-3 bulan ke depan. Meski demikian kondisi tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global khususnya Eropa dan realisasi rencana peningkatan suku bunga acuan oleh the Fed.

Sementara itu, diakuinya pasar saham Indonesia masih sangat bergantung dari investor asing. Bahkan, secara keseluruhan investor asing mendominasi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu mencapai 60%. Sedangkan untuk sisanya adalah investor lokal.

Menurutnya, pergerakan investor lokal sangat dipengaruhi oleh investor asing. Oleh karena itu, hingga saat ini investor asing masih menjadi patokan saham karena terbukti menguasai kapitalisme pasar,”Harapannya investor lokal akan semakin banyak, dengan demikian kita tidak lagi bergantung pada investor asing," katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke pasar modal Selasa kemarin mengatakan, IHSG menyentuh rekor tertinggi disepanjang sejarah itu, menunjukkan kepercayaan investasi di Indonesia sangat baik sekaligus menunjukkan ekonomi Indonesia ke depan akan positif,”Pemerintah akan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkan dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi lagi ke depannya,”ujarnya.

Presiden menjelaskan, dengan ekonomi Indonesia yang positif maka akan memberikan persepsi yang baik bagi investor. Oleh karena itu, dirinya mengharapkan target indeks BEI bisa tembus ke level 6.000 di penghujung tahun 2015, “Kalau bisa di atas 6.000 akan sangat baik. Tapi tadi saya tanya ke Pak Ito, bagaimana pak, kelihatannya bisa, Insya Allah bisa,"kata Jokowi.

Sementara Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Ito Warsito mengatakan, industri pasar modal memiliki kinerja positif sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang kondusif sehingga menarik minat bagi investor asing ke pasar saham domestik,”Kalau Indonesia ingin menjadi ekonomi yang terbesar di Asean maka pemerintah juga harus mendorong industri pasar modal menjadi besar," katanya. (ant/bani)