Januari-Februari 2015, Pertamina Rugi US$212,3 Juta

Akibat Pendapatan Bisnis Hilir Merosot

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta – Dalam kurun waktu Januari-Februari 2015, PT Pertamina (Persero) mengalami kerugian sebanyak US$212,3 juta. Hal itu dipicu dari merosotnya pendapatan pada bisnis hilir. Namun begitu. Dirut PT Pertamina (Persero) Dwi Sutjipto mengatakan defisit selama Januari-Februari 2015 tidak bisa dijadikan ukuran kinerja perusahaan secara keseluruhan sepanjang 2015. "Tidak bisa menyebutkan kerugian hanya dalam satu dua bulan. Kerugian itu lebih karena faktor harga minyak yang sedang turun sehingga mengakibatkan adanya beban persediaan (stok),” kata Dwi, di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut Dwi, kerugian tersebut lebih karena adanya persediaan yang merupakan stok pada Oktober 2014 yang ketika itu masih tinggi. "Jadi ketika harga sudah stabil maka beban terhadap inventori akan otomatis hilang. Karena itu tidak bisa melihat posisi dua bulan itu menjadi keskimpulan, karena masalah harga," ujarnya.

Nilai kerugian tersebut meleset dari laba yang ditargetkan periode Januari-Februari 2015 sebesar US$280 juta dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2015. “Penyebab utama kerugian karena rugi bisnis hilir yang mencapai US$368 juta,” ujarnya.

Dwi juga menambahkan, tren penjualan produk BBM utama perseroan terlihat pada empat bulan terakhir yaitu November 2014 sampai dengan Februari 2015. Penurunan yang terjadi pada premium sebesar 0,12%, solar juga melemah 0,17%, dan kerosin melemah 0,16%. Sedangkan pada pertamax meningkat 0,93%.

“Penurunan premium dan solar lebih karena adanya disparitas harga yang semain kecil dengan pertamax dan pertadex. Selisih yang semakin kecil tersebut mendorong konsumen beralih menggunakan pertamax dan pertadex. Sedangkan, penurunan kerosin karena adanya konversi ke LPG,” terangnya.

Untuk mengatasi permasalahan kerugian tersebut, mantan Dirut PT Semen Indonesia (Persero) itu mengatakan, Pertamina segera memasang strategi dengan melakukan efisiensi pengadaan, pengolahan dan distribusi. “Efisiensi menjadi fokus, bagaimana melakukan restrukruturisasi pembelian impor dari yang tadinya melalui Petral (Pertamina Energy Trading Limited), langsung ke Pertamina Integrated Supply Chain (ISC),” ujarnya.

Menurut catatan, ISC Pertamina mulai melakukan tender pengadaan minyak mentah pada pertengahan Januari 2015 untuk untuk pemenuhan kebutuhan hingga April 2015. “Jadi, dengan pengalihan lewat ISC tersebut dalam dua bulan Pertamina bisa mendapatkan efisiensi sekitar US$22 juta,” tegasnya.

Di sisi efisiensi pengolahan, Pertamina sedang melakukan review pengadaan minyak mentah (crude oil) dengan mengidentifikasi kilang-kilang yang tidak efisien. “Kalau yang pengadaan crudenya tidak efisien kilang itu tidak perlu operasikan secara optimum. Seperti kilang Plaju, Palembang dan kilang Kasim, Papua, produksinya diturunkan, sehingga tidak menjadi rugi atau lebih efisien,” katanya. Sedangkan dari sisi transportasi, Pertamina menargetkan mampu menurunkan tingkat loses dari saat ini 0,45% menjadi 0,22%.

Dinilai Gagal

Sementara itu, saat dimintai komentarnya terkait kerugian yang dialami oleh Pertamina, Ketua Komisi VI DPR RI Hafizh Tohir mengatakan bahwa kepemimpinan Direksi Pertamina saat ini dinilai gagal. Karena hanya dalam kurun waktu dua bulan di awal tahun 2015 ini saja, Pertamina sudah merugi masing-masing sebesar US$107 juta pada bulan Januari dan US$105 juta pada bulan Februari. Terlebih lagi, menurutnya, kerugian Pertamina yang sebenarnya bukan sebesar yang disebutkan Dwi, akan tetapi ada kerugian Pertamina yang tercecer sebesar US$700 juta.

“Ada kerugian US$212 juta. Kalau kita hitung target keuntungan Pertamina per bulan Maret itu US$502 juta. Artinya ada target yang terececer US$700 juta. Jadi minus US$210 juta dan positif US$502 juta itu nggak tercapai selisih nya itu, yang gap nya itu US$712 juta.” ujar Ketua Komisi VI Hafisz Tohir.

Hafisz juga menambahkan, apabila Pertamina tidak merubah pola pikir dan bisnisnya, hal ini akan berlangsung sampai semester kedua kuartal ke-3 tahun ini. Dan tentunya dapat membuat kerugian Pertamina semakin membengkak di akhir tahun. Hafisz mengatakan jika diambil rata-rata kerrugiannya, sampai dengan bulan Desember 2015 mendatang, Pertamina bisa mengalami kerugian mencapai US$1 miliar.

Executive Energy Watch Indonesia (EWI) Ferdinand Hutahaean menegaskan kerugian yang dialami oleh Pertamina ini karena buruknya kinerja Direksi Pertamina. Bahkan dari awal, EWI menegaskan bahwa Dwi Soetjipto tidak layak dan tidak akan mampu memimpin perusahaan sebesar Pertamina. Karena menurutnya, ketika Dwi Soetjipto memimpin Semen Indonesia, ia juga meninggalkan hutang yang besar.

Namun, kerugian dalam BUMN juga belum tentu dikategorikan sebagai korupsi. Karena hal ini memerlukan penelitian dan pemeriksaan kenapa kerugian itu terjadi. Sementara dalam konteks Pertamina yang merugi, perlu dicermati apa penyebab kerugiannya, apakah karena aksi konspirasi yang salah atau karena kewajiban subsidi atau karena ketidakhati-hatian direksi dalam menjalankan tugasnya.

“Kerugian Pertamina yang terjadi saat ini menurut pengamatan kami cenderung terjadi karena ketidakhati-hatian direksi dalam menjalankan tugasnya, tidak mampu melakukan efisiensi operasional dan tidak mampu menjadikan Pertamina untung, padahal kewajiban subsidi yang diberikan negara lewat pertamina sudah tidak seberapa besar,” tutur Ferdinand.