Subsidi BBN Dinaikkan Sekitar Rp3000 - Pada 2012

NERACA

Jakarta----Pemerintah berencana menambah subsidi untuk bahan bakar nabati (BBN) sekitar Rp3.000-Rp3.500 per liter pada RAPBN 2012. Alasan penambahan subsidi itu terkait harga BBN yang lebih tinggi disbanding harga bahan bakar minyak (BBM). "Kami berencana memberikan subsidi untuk biodiesel Rp3.000 per liter, dan bioethanol Rp3.500 per liter," kata Menko Perekonomian Hatta Radjasa kepada wartawan di Jakarta, (19/9)

Dalam Nota keuangan dan RAPBN 2012 tercatat, volume produksi BBM, termasuk BBN adalah 40 juta kiloliter (kl). Dari jumlah tersebut, jenis premium/bioethanol ditargetkan memproduksi 24,41 kl, dan solar/biodiesel 13,89 juta kl.

Lebih jauh kata Ketua umum PAN ini, kuota BBN etanol berkadar satu persen adalah 244,1 ribu kilo liter dengan total tambahan subsidi Rp854,4 miliar. Sementara, BBN biodiesel berkadar lima persen dengan kuota 694,4 ribu kl akan mendapatkan total tambahan subsidi Rp2.083,3 miliar. "Pengembangan BBN dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan energi karena menggunakan pasokan dari dalam negeri," paparnya

Pada 2011, Pemerintah memberikan subsidi bahan bakar nabati sebesar Rp2.000 per liter.

"Subsidi diasumsikan sebesar Rp2.000 per liter," kata Menteri Energi dan sumber daya Mineral (ESDM) Darwin Zahedy Saleh saat itu.

Kemungkinan besar subsidi BBN tersebut masih kurang. Sehingga perlu diberi tambahan agar bisa bersaing di pasaran. "Namun demikian, subsidi sebesar Rp2.000 per liter tersebut kemungkinan tidak mencukupi apabila harga indeks pasar BBN jauh lebih tinggi dari harga indeks pasar BBM. Diperkirakan BBN subsidi BBN ini dapat mencapai Rp2.500 per liter," tambah Darwin.

Pemberian subsidi BBN dimaksudkan untuk mendorong pertumbuhan industri bahan bakar nabati domestik, dalam rangka mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, mendukung program pengurangan gas rumah kaca, menuju ketahanan energi nasional.

Menurut salah seorang anggota Komisi VII, Setya W Yudha mengatakan bahwa perlu ada suatu paparan dari pemerintah. "Kalau mau menaikan ke Rp 2500 tentu ada elastisitas dari harga minyak itu sendiri agar lebih meyakinkan," tuturnya.

Sedangkan anggota Komisi VII lainnya, Ismayatun mengatakan sebaiknya dipergunakan ke harga Rp2.000 karena sudah ada Dirjen EBT yang telah sekapat untuk membahas masalah ini lebih lanjutnya kedepannya dengan undang-undang.

Namun dengan adanya argumen dari para anggota dewan yang pada intinya tidak sepakat untuk subsidi BBN lebih dari Rp2.000, maka Darwin pun pasrah bila subsidi tersebut diputuskan sama seperti yang telah tercatat dalam Nota Keuangan.

"Pada dasarnya kami sudah menyimak apa yang telah disampaikan, dan kalaupun nanti diputuskan pada Rp 2000 per liter kami siap melaksanakan," ujar Darwin.

Dan akhirnya keputusan Komisi VII, pada 2010 memutuskan bahwa subsidi BBN sebesar Rp2.000 per liter. **cahyo

Related posts