Tujuh Jurus KKP Bikin Rumput Laut Berkelanjutan

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Sumba Timur - Rumput laut merupakan salah satu komoditas utama perikanan budidaya yang menjadi andalan dalam peningkatan produksi, meningkatkan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pengembangan budidaya rumput laut secara sinergi dan simultan merupakan bagian dari visi misi pembangunan Kabinet Kerja untuk mendorong laut sebagai sumber ekonomi bangsa di masa depan.

"Kualitas dan kuantitas produksi rumput laut akan selalu kita tingkatkan dan mendukung laut sebagai halaman depan kita, sebagai masa depan kita dan sebagai sumber devisa untuk menggerakkan perekonomian bangsa," demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat memberikan arahan pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Kelautan dan Perikanan Prop. Nusa Tenggara Timur di Kab. Sumba Timur, Selasa (7/4).

Slamet melanjutkan bahwa ada tujuh jurus agar budidaya rumput laut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. “Pertama adalah mengunakan bibit dari tallus yang terbaik. Kedua, Disiplin panen pada usia 40-45 hari, kemudian ketiga, tidak menggunakan pupuk/probiotik/bahan pemacu pertumbuhan. Selanjutnya, keempat, mengupayakan mencari kawasan budidaya yang baru untuk rotasi penanaman," ucapnya.

Sementara itu, untuk jurus kelima adalah masyarakat harus menjaga lingkungan pantai dari sampah (plastik, dll). Berikutnya, keenam, dengan tidak menjemur rumput laut di pasir dan dijaga dari bahan-bahan yang menempel lainnya dan yang terakhir, serta ketujuh, yaitu segera menutup rumput laut yang sedang dijemur dengan plastik/terpal jika turun hujan. "Dengan menerapkan jurus ini, budidaya rumput laut akan berhasil dan berlanjut untuk mendukung peningkatan produksi dan kualitasnya," jelas Slamet.

Ketujuh jurus tersebut dikenalkan di propinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan salah satu sentra produksi rumput laut nasional. Kondisi perairan pantai di NTT sangat mendukung peningkatan produksi rumput laut nasional dan di dukung pula oleh komitmen dari pemerintah daerah. “Penetapan Kab. Sumba Timur sebagai kawasan minapolitan perikanan budidaya dengan komoditas utama rumput laut, merupakan wujud nyata dukungan pemerintah untuk mengembangkan usaha budidaya rumput laut menjadi suatu industry yang membawa efek bagi peningkatan perekonomian daerah,” tambah Slamet.

Lebih lanjut Slamet mengungkapkan bahwa target produksi perikanan budidaya di Propinsi NTT sebagian besar di dukung dari produksi rumput laut. “Target produksi perikanan budidaya Prop. NTT pada tahum 2015 mencapai 2,1 juta ton, dimana 99 % nya berasal dari produksi rumput laut. Ini akan kita dukung melalui pengembangan industry rumput laut yang mandiri dan berkelanjutan. Dan sebagai kawasan pengembangan akan di pilih Kab. Sumba Timur yang sudah mempunyai embrio sebagai kawasan industry rumput laut yang merupakan pengembangan dari kawasan minapolitan perikanan budidaya," ungkap Slamet.

Kab. Sumba Timur dapat dijadikan contoh untuk pengembangan kawasan industry yang terintegrasi karena telah menerapkan konsep zonasi yang saling menguntungkan dan saling membutuhkan satu sama lain. “Kawasan Minapolitan di Kab. Sumba Timur dibagi menjadi tiga zona. Zona satu adalah zona produsen yaitu zona produksi rumput laut, penyediaan bibit dan juga penyediaan sarana produksi. Zona dua adalah zona kelembagaan ekonomi dan zona penyangga, dimana zona ini membuat kerjasama dengan zona satu tentang pembelian hasil produksi rumput laut dan pasca panen seperti gudang penyimpanan dan pengumpulan. Zona tiga adalah zona industry pengolahan, yang membeli rumput laut yang dikumpulkan dari zona dua sesuai standard yang telah disepakati, untuk kemudian diolah dan siap ekspor.Tiga zona ini bergerak bersama dan saling menguntungan satu sama lain. Dengan sinergi dan koordinasi yang baik maka akan dihasilkan hasil yang baik dan maksimal,” terang Slamet.

Untuk mendukung peningkatan kualitas produksi rumput laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, memberikan bantuan bibit rumput laut Kultur Jaringan (KULJAR). “Bibit rumput laut kuljar ini mempunyai keunggulan thallus nya lebih banyak, sehingga produksinya lebih tinggi dan lebih tahan terhadap hujan. Di tahun 2015, DJPB akan mengembangkan kebun bibit Kuljar ini di 25 titik dan salah satunya di Prop. Nusa Tenggara Timur. Dan di NTT akan kita berikan 3 paket kebun bibit rumput laut untuk dikembangkan dan di sebarkan,” papar Slamet.

Sebagai Solusi

Budidaya rumput laut saat ini dijadikan salah satu upaya dalam menanggulangi dampak diberlakukannya Permen KP No. 1 Th 2015 tentang pelarangan penangkapan kepiting, rajungan dan lobster dalam kondisi tertentu. “Budidaya rumput laut dapat dijadikan alternative usaha bagi nelayan penangkap kepiting dan benih lobster, dengan alokasi anggaran pengembangan kebun bibit rumput laut sebesar Rp. 1,46 milyar. Ini akan di tempatkan di sentra-sentra penangkapan kepiting dan benih lobster,” papar Slamet.

Slamet menuturkan bahwa pengembangan industry rumput laut suatu daerah akan berhasil apabila ada sinergi dari semua pihak yang terkait. “Dukungan dan kerjasama dari pemerintah daerah sangat diperlukan dan terus di tingkatkan. Ini akan mempermudah kita bersama dalam memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya khususnya dan masyarakat sekitarnya pada umumnya melalui Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan,” pungkas Slamet.