Pertamina Kembangkan Padi Tahan Air Payau

Tingkatkan Produksi Pangan

Sabtu, 11/04/2015

Kecukupan ketersediaan beras pada tingkat nasional maupun regional menjadi prasarat bagi terwujudnya ketahanan pangan nasional.Untuk memperkuat ketahanan pangan khususnya beras,Pertamina RU IV Cilacap dukung pengembangan padi Bawor 9 untuk hasil panen yang lebih menguntungkan

NERACA

Seiring dengan laju pertumbuhan penduduk, setiap tahunnya kebutuhan akan beras semakin meningkat. Kekurangan beras dapat dipastikan akan menimbulkan gejolak sosial di masyarakat, bahkan dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, politik dan keamanan.

Oleh karena itu, untuk menunjang keberhasilan peningkatkan produksi beras tentunya diperlukan peran serta berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku bisnis, akademisi, dan masyarakat.

Memiliki kepedulian tinggi terhadap peningkatan taraf hidup masyarakat melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar, Pertamina (Persero), melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) mendukung sepenuhnya pengembangan padi Bawor 9 seperti yang terlihat di Desa Karangkandri, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Dengan dukungan Pertamina, para petani di Desa Karangkandri membuat terobosan dengan menambahkan nutrisi untuk tanaman padi yang terbuat dari campuran telur bebek, madu, susu kental manis dan alkohol. Nutrisi tersebut diberikan untuk pengembangan padi khusus yakni padi Bawor 9.

Asal mula padi Bawor 9 ini merupakan hasil penelitian dari Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, yaitu hasil persilangan padi Cisadane dan Atomita 2. Keunggulan dari jenis padi ini adalah tahan genangan banjir, termasuk genangan air payau, serta tidak mudah roboh dan lebih tahan serangan hama.

Padi jenis Bawor 9 ditanam di Desa Karangkandri karena lokasinya yang hanya sekitar 2 km dari laut. Sehingga saat air laut pasang, air laut tersebut bisa mengalir hingga ke persawahan di Desa Karangkadri.

Proses pemupukan yang dilakukan terhadap padi Bawor 9 ini juga sedikit berbeda, padi jenis ini membutuhkan pupuk organik lebih banyak. Untuk luas 1 hektar sawah dibutuhkan kurang lebih 2 kwintal pupuk Phonska, 1 kuintal Pupuk Urea, dan 5 kuintal pupuk Organik. Selain itu, pengembangan dan perawatan padi Bawor 9 ini pun perlu perlakuan khusus.

“Nutrisi yang kita berikan bertujuan untuk meningkatkan hasil dan daya tahan tanaman. Padi Bawor 9 ini dapat dipanen pada kisaran usia 105 hari dan per 1 hektarnya bisa menghasilkan sekitar 7,5 ton gabah,” kata Wakil Ketua Gabungan Kelompok Tani Guyub Rukun Patra, Desa Karangkandri, Mujiburahman.

Beras padi Bawor 9 ini lebih pulen dan wangi. Karena kualitasnya yang cukup bagus, harganya pun lebih mahal daripada beras kualitas standar lainnya. Kini pengembangan padi Bawor 9 mencapai 75 hektar dengan jumlah petani yang tergabung dalam gabungan kelompok tani sebanyak 100 orang dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah Cilacap.

Benih padi Bawor 9 ini belum dapat dipasarkan secara luas. Oleh karena itu Pertamina RU (Refinery Unit) IV Cilacap bekerja sama dengan BPPKP (Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan) Kabupaten Cilacap sangat peduli untuk mengembangkan pengadaan benih padi ini, sehingga bisa dipasarkan lebih luas dan membantu mensuplai kebutuhan masyarakat banyak.

Dengan terobosan tersebut, petani diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan sekaligus dapat meningkatkan produksi beras pada tahun ini dari yang ditargetkan yakni 860.344 ton.

Junior Officer CSR Pertamina RU IV, Aditya Nugrahadi mengatakan, selain memberikan bantuan benih, Pertamina juga membantu peralatan pendukung lainnya bagi kelompok tani yakni hand traktor, power presser, mesin penggiling dan perontok padi.

“Harapan kami dukungan peralatan tersebut semakin memicu Petani dalam meningkatkan produksi beras,” kata dia.