Listrik Berdaya 1.300 dan 2.200 VA Tak Naik

Hingga Akhir 2015

Rabu, 08/04/2015

NERACA

Jakarta - Manajemen PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) secara resmi akan menunda penerapan tariff adjustment atau penyesuain tarif tenaga listrik bagi pelanggan rumah tangga berdaya 1.300 volt ampere (VA) dan 2.200 VA hingga Desember 2015 mendatang.

Penundaan penerapan tariff adjustment bagi pelanggan rumah tangga 1.300 dan 2.200 VA ini dengan pertimbangan bahwa pelanggan golongan tersebut sudah mengalami kenaikan tarif dasar listrik (TDL) secara bertahap sejak Juli 2014 hingga November 2014.

Selain itu, penundaan tersebut juga untuk meringankan beban ekonomi pelanggan di kedua golongan tersebut yang berjumlah 8,8 juta pelanggan. “Tidak ada rencana kenaikan tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga daya 1.300 dan 2.200 VA,” kata Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), Sofyan Basir, di Jakarta, Selasa (7/4).

Dia mengatakan, tarif pemakaian listrik untuk pelanggan rumah tangga daya 1.300 dan 2.200 VA adalah tetap, yakni Rp1.352 per kilo Watt hour (kWh). “Jika ada informasi lebih lanjut akan disampaikan kemudian,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Sofyan, tarif bagi pelanggan rumah tangga kecil berdaya 450 dan 900 VA, bisnis dan industri kecil serta pelanggan sosial juga tidak mengalami kenaikan. Total jumlah pelanggan yang tidak mengalami kenaikan tarif sekitar 97% dari sekitar 58 juta pelanggan PLN.

Namun begitu, Sofyan berujar bahwa konsekuensi dari penundaan tersebut adalah berkurangnya pendapatan PLN dari penjualan tenaga listrik. “Hal itu akan ditutup dengan melakukan efisiensi diantaranya mengganti pembangkit listrik berbahan bakar minyak dengan pembangkit berbahan bakar gas dan batu bara,” terang Sofyan.

Sedangkan untuk industri besar dan bisnis sedang yang sudah mampu tarifnya mengikuti ketentuan tariff adjustment yang dihitung setiap bulan berdasarkan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat terhadap mata uang rupiah (kurs), harga minyak dengan acuan atau Indonesian Crude Price (ICP) serta pengaruh inflasi. “Kami terus berusaha menurunkan biaya produksi listrik untuk tarif listrik yang lebih baik, khususnya bagi keperluan produktif seperti industri dan bisnis,” tandas Sofyan. [ardi]