Komoditas Rumput Laut Dinilai Kian Strategis

Rabu, 08/04/2015

NERACA

Sumba Timur - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Diantaranya dengan memperkuat industri pengolahan rumput laut nasional, sehingga menjadi salah satu komoditas perikanan budidaya yang dapat menjadi unggulan ekspor Indonesia. Selain untuk meningkatkan nilai tambah produk, juga sekaligus untuk meningkatkan kemandirian dan menjunjung kedaulatan bangsa.

Dengan kondisi ini, maka rumput laut memiliki posisi yang strategis dalam menopang perekonomian nasional melalui peningkatan penerimaan devisa negara sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan masyarakat sekitar lingkungan budidayanya. Demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti disela Kunjungan Kerja di Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur, Senin (6/4).

Menurut Susi, total produksi rumput laut nasional saat ini telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurut data sementara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi rumput laut nasional pada tahun 2014 mencapai 10,2 juta ton atau meningkat lebih dari tiga kali lipat. Dimana sebelumnya, produksi rumput laut pada tahun 2010 hanya berkisar diangka 3,9 juta ton.

Hal ini membuktikan bahwa rumput laut sangat bisa diandalkan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Selain karena cara budidayanya yang cukup mudah dan murah, disamping itu juga pasarnya masih terbuka lebar. "Sejalan dengan kebijakan Presiden RI, KKP akan terus melakukan pembinaan secara terus menerus kepada masyarakat dalam hal membudidayakan rumput laut", ujar Susi.

Susi mengungkapkan, Indonesia sebagai negara kepulauan dengan dua pertiga wilayahnya adalah lautan memiliki banyak kawasan yang sangat potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut. Salah satu kawasan tersebut adalah Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejak ditetapkan sebagai kawasan minapolitan perikanan budidaya pada tahun 2010, produksi rumput laut di daerah ini terus mengalami peningkatan. Dimana tahun 2014, total produksinya mencapai 2.400 ton. “Hal ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah yang bersungguh-sungguh mengembangkan kawasan ini menjadi kawasan minapolitan budidaya rumput laut yang terintegrasi dan maju,” kata Susi.

Kawasan Minapolitan Budidaya Rumput Laut di Kabupaten Sumba Timur juga merupakan kawasan minapolitan yang meraih kategori atau peringkat A. Dimana, kawasan ini telah berhasil mengintegrasikan sistem usaha dari hulu sampai hilir yang meliputi sistem produksi, pengolahan dan pemasaran dengan didukung sarana prasarana yang memadai seperti transportasi dan sarana produksi.

Perkembangan kawasan minapolitan budidaya rumput laut di Kab. Sumba Timur ini dapat memunculkan sentra kawasan budidaya rumput laut di Indonesia Bagian Timur dan dapat menggerakkan perekonomian daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. “Ini dapat dijadikan contoh daerah lain yang memiliki potensi yang sama dengan Kabupaten Sumba Timur,” ujar Susi.

Lebih lanjut menurut Susi, budidaya rumput laut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan daerah dengan curah hujan yang kurang. Dengan cara budidaya yang sederhana, murah dan mudah, masyarakat pesisir akan dengan mudah melakukan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Perlu diketahui, bahwa budidaya rumput laut merupakan budidaya yang selaras dengan tiga pilar pembangunan yang merupakan turunan dari Nawa Cita atau Visi Misi Presiden RI.

Tiga pilar tersebut adalah Prosperity (Kesejahteraan), Sustainability (Keberlanjutan) dan Sovereignity (Kedaulatan). Selain itu, Budidaya rumput laut merupakan salah satu komoditas yang tidak menimbulkan pencemaran. Tidak memerlukan pakan, obat atau vitamin. Bahkan rumput laut mampu menjaga lingkungan perairan agar tetap segar dan alami sehingga secara mendukung keberlanjutan usaha maupun lingkungan perairan sekitarya.

Tantangan pasar bebas dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), harus memacu semangat pembudidaya dalam melakukan budidaya sesuai anjuran pemerintah. Dimana budidaya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan kemandirian, memberikan nilai tambah dan juga ramah lingkungan sesuai dengan program kebijakan pembangunan perikanan budidaya yaitu Menuju Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan. Tantangan budidaya rumput laut ke depan akan semakin berat. Hal ini harus segera di antisipasi dengan memunculkan teknologi-teknologi baru yang ramah lingkungan sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha budidaya sekaligus menjaga lingkungan sekitarnya.