Petani Tebu Minta Impor Gula Mentah Dibatasi

Hindari Ketidakseimbangan Perdagangan

Rabu, 08/04/2015

NERACA

Jakarta - Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil mengingatkan pemerintah agar jangan sampai terjadi tsunami gula impor terutama gula kristal putih (raw sugar). "Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor gula terbesar, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penjualan. Apabila impor tidak dibatasi, dikhawatirkan terjadi tsunami gula yang akan sangat merugikan petani," kata Arum, kemarin.

Berdasarkan data yang didapat APTRI, lanjut dia, sebuah pabrik gula di Blora, Jawa Tengah, terindikasi sudah mengajukan izin untuk impor gula sebanyak 300.000 ton pada 2015. "Tidak hanya di Jateng, di Jawa Timur juga ada pabrik gula yang sudah mengajukan izin untuk mengimpor sebanyak 750.000 ton untuk tahun 2015," paparnya.

Ia menjelaskan arus impor gula yang relatif deras merembes ke pasar tradisional dan menekan harga gula lokal, sehingga gula kristal rafinasi untuk keperluan industri makanan dan minuman merembes ke penjual eceran. "Pemerintah harus ekstra ketat membatasi gula impor dan melihat dengan detail sejauh mana kebutuhan gula untuk industri, sehingga gula rafinasi tidak masuk ke pasar lokal," katanya.

Menurut dia, secara umum produktivitas industri gula nasional masih rendah dan baru mencapai sekitar enam ton gula per hektare dengan komponen berat tebu 70 ton per hektare, dan rendemen maksimal 7,5 persen. "Kendati produktivitas masih rendah, namun tidak menutup kemungkinan Indonesia bisa mewujudkan swasembada gula dengan kesungguhan semua pihak," tuturnya.

Sebelumnya Kementerian Pertanian mencatat produksi gula pada 2014 hanya mencapai 2,58 juta ton atau meleset dari angka taksasi produksi sebesar 2,7 juta ton. Dengan capaian produksi sebanyak itu, kebutuhan komoditas gula nasional masih jauh dari tercukupi.

Dalam kegiatan dialog petani tebu bertema "Mari Wujudkan Swasembada Gula Yang Berdaya Saing" tersebut juga dihadiri sejumlah Direksi PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, dan PTPN XII.

Sebelumnya, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyatakan, kebijakan impor gula yang dikeluarkan pemerintah hanya untuk gula rafinasi. Hal itu dilakukan guna memenuhi kebutuhan industri minuman. "Anggapan selama ini keliru. Masalah impor gula. Negara kita butuh gula rafinasi, sehingga kita impor," kata Amran.

Khusus gula rafinasi, Indonesia hanya memiliki stok 2,7 juta ton. Sementara, kebutuhan nasional untuk menyuplai pabrik minuman dalam negeri mencapai 4,5 sampai 5 juta ton. "Makanya kita impor. Tapi yang diimpor bukan gula putih. Melainkan gula rafinasi industri untuk minuman. Ini saya luruskan," katanya menambahkan.

Perihal kebijakan impor, Amran berjanji akan terus memperjuangkan gula dari tebu petani Indonesia yang menghasilkan gula putih. Kebijakan impor itu sudah menjadi komitmen pemerintah yang akan dijaga ketat. "Tahun ini musim giling petani jadwalnya di bulan April sampai Juni. Jawa Tengah sumbang 9 ton. Maka kita nggak buka impor gula putih, itu kebijakan," kata Amran.

Menanggapi adanya permintaan dua pengusaha yang mendesak agar rendemen dapat dinaikkan, Amran mengaku hal itu tidak mungkin dilakukan. Pasalnya, kebutuhan gula di gudang saat ini masih mencukupi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menambahkan, terkait kebijakan impor, pihaknya mengaku akan terus mengawal dan memperjuangkan gula petani agar diutamakan untuk konsumsi dalam negeri. "Tapi karena gula rafinasi ini kurang untuk mencukupi kebutuhan nasional, maka boleh impor tapi habiskan dulu tebu petani."