Satelit dan Teknologi Panel Surya Siap Dukung Kinerja BRI

NERACA

Jakarta - Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menegaskan bahwa pembangunan satelit BRI-SAT yang rencananya beroperasi Juli 2016 tidak untuk tujuan komersial atau bersaing di bisnis telekomunikasi, melainkan untuk mendukung operasional perseroan. "Kami tegaskan bahwa satelit ini (BRI-SAT) tidak untuk dikomersilkan. Artinya, 100% untuk 'support' layanan BRI di seluruh Indonesia,” kata Asmawi Syam, Direktur Utama BRI di Jakarta, Senin (6/4).

Ke depan, lanjut dia, dukungan jaringan telekomunikasi sangat diperlukan oleh perseroan, apalagi pada tahun ini pihaknya menargetkan jumlah agen branchless banking atau yang dikenal dengan BRI-Link sebanyak 50 ribu agen. Dengan begitu, Asmawi mengharapkan, dengan memiliki satelit sendiri maka BRI dapat mengawasi sendiri seluruh sistem operasionalnya sehingga kendala-kendala seperti terjadi 'shutdown' jaringan dapat diminimalisir.

Saat ini, sambung Asmawi, penyelesaian pembangunan satelit tersebut sudah mencapai 50%. Dia bilang bahwa dalam memberikan layanan perbankan di wilayah-wilayah terpencil membutuhkan biaya yang besar. "Misalnya untuk agen-agen yang tidak ada BTS. Itu sebenarnya bukan hanya masalah di BTS saja tapi juga listrik. Jadi kami juga bangun infrastruktur listrik sendiri menggunakan teknologi panel surya (solar cell)," kata Asmawi.

Selain itu, tahun ini BRI akan mendorong penggunaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik perbankan BUMN diintegerasikan. Untuk itu, perseroan saat ini tengah melakukan uji coba penggunaan teknologisolar cellatau panel surya sebagai sumber energi pengoperasian ATM di daerah-daerah terpencil.

Teknologi surya

Hal ini juga sebagai salah satu upaya peningkatan pelayanan menjelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Menurut Asmawi, banyak daerah terpencil yang kegiatan ekonominya sudah mulai berkembang. Namun, kata dia, belum terhubung aliran listrik sehingga kegiatan transaksi keuangan khususnya bidang perbankan di daerah tersebut terhambat.

Dia juga menjelaskan, hal ini sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam meningkatkan inklusi keuangan masyarakat Indonesia di mana sesuai dengan arahan Otoritas Jasa Keuangan “Kami ingin meng-coverdi seluruh area Indonesia. Jangan sampai bank asing masuk daerah," tegasnya.

Di tempat yang sama, Corporate Secretary BRI, Budi Satria menambahkan, uji coba yang dilakukan terkait ketahanan energi panel surya bila dalam kondisi cuaca buruk di daerah terpencil. "Produknya sudah ada dan sedang diuji coba, seperti kalau cuaca sedang hujan bagaimana ketahanannya,” jelasnya. Selain itu, alternatif energi tersebut sebenarnya untuk menggantikan genset yang saat ini sudah digunakan pada ATM di daerah terpencil. "Tapi ini (panel surya) lebih efisien. Terobosan baru perusahaan," papar Budi.

Target bisnis

Sementara Anggota Komisi XI DPR, Nurdin Tampubolon, meminta target bisnis BRI yang tertuang dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) dapat sinergis dengan kebutuhan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Konsep bisnis BRI supaya bisa diubah agar mendukung target pertumbuhan ekonomi pemerintah yang sudah ditetapkan di APBN. Saat ini apakah rencana BRI sudah mendukung pemerintah?” tanya Nurdin.

Dia menuturkan, pada rencana kerja Bank BRI 2015, target bisnis perseroan masih terbatas pada pembagian dividen kepada pemegang saham. "Nantinya, di UU Perbankan yang baru tidak dipakai lagi target pemberian dividen," katanya.

Nurdin menjelaskan, RUU Perbankan yang masuk ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2015 akan mengedepankan target bank-bank BUMN yang bersinergi dengan target pertumbuhan ekonomi.

Nurdin menambahkan, target-target bisnis bank BUMN yang sejalan dengan sasaran pertumbuhan ekonomi seperti volume penyaluran kredit, besaran suku bunga dan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan / NPL).

"Dengan begitu ada korelasi antara pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan di APBN dengan dana-dana yang dibutuhkan sehubungan dengan target pemerintah. Sehingga, ini bisa bersinergi antara industri dengan target pertumbuhan ekonomi," tukasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Baznas Harus Siap Kelola Zakat ASN

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Saadi mengatakan Badan Amil Zakat Nasional harus siap mengelola zakat aparatur sipil negara…

Kemenpar Incar Lima Negara Penghasil Turis dan Devisa

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan China, Eropa, Australia, Singapura, dan India sebagai Top Five Pasar Utama Wisatawan Mancanegara (wisman) 2018. Penetapan…

Infrastruktur Dukung Pertumbuhan

Melihat pengalaman di sejumlah negara yang berkembang pesat, pembuat kebijakan memahami bahwa pembangunan yang sukses memerlukan komitmen selama beberapa dekade…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Sebut Bumiputera Dalam Kondisi Normal - Dari Sisi Bisnis dan Pendanaan

  NERACA Jakarta - Para pemegang polis dan mitra kerja Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 kini bisa bernafas lega…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

BNI Sosialisasikan BNI Yap di Java Jazz

  NERACA Jakarta - Untuk memanjakan para penggemar musik jazz Indonesia serta menyosialisasikan alat pembayaran baru pada pagelaran musik Jakarta…