Akibat BBM Dilepas ke Pasar, Harga Daging Makin Tinggi

Pedagang Mengeluh

Selasa, 07/04/2015

NERACA

Jakarta - Upaya pemerintah yang melepas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) ke pasar telah menimbulkan gejolak khususnya pada harga bahan pokok yang masih mengandalkan impor salah satunya daging sapi. Usai kenaikan harga BBM, harga daging kini tengah mengalami kenaikan dari yang awalnya Rp80.000 - 90.000 per kilogram, kini menjadi Rp110.000 per kilogram.

Hal itulah yang dikeluhkan para pedagang daging di Pasar Senen, Jakarta Pusat seperti yang dikutip laman Antara, akhir pekan kemarin. Salah satu pedagang daging, Wik mengeluhkan tingginya harga daging sapi akibat tidak menentunya harga bahan bakar minyak (BBM). "Sebelum naik harganya berkisar antara Rp80.000-Rp95.000 per Kg, namun saat ini harganya mencapai Rp110.000 per Kg," kata Wik.

Ia meyakini tingginya harga daging sejak dua bulan terakhir ini merupakan imbas dari tidak menentunya harga BBM. "Harga daging mulai meninggi sejak harga BBM naik-turun," ujar dia. Senada dengan Wik, Asep, penjual daging sapi yang telah berdagang selama 27 tahun, menyatakan bahwa keadaan kali ini merupakan salah satu yang terburuk selama ia berjualan. "Kalau dahulu harga daging lebih murah karena masih banyak daging impor, jadi harganya bisa bersaing," kata dia.

Tingginya harga daging tidak ayal membuat para pedagang sepi pembeli dan berpengaruh secara langsung terhadap penurunan omset penjualan. "Omzet saya berkurang 50 persen," kata Wik. Dia melanjutkan, penurunan omzet tersebut karena ia tidak berani menaikkan harga sebab takut kehilangan pembeli setianya.

Muhammad Toha, seorang pedagang lain, juga menuturkan hal yang sama. "Omzet berkurang karena saya tidak berani menjual dengan harga terlalu tinggi. Dengan harga yang sekarang saja pembeli berkurang," ujar dia. Pedagang-pedagang ini pun berharap pemerintah dapat mendengar keluhan mereka dan melakukan sesuatu untuk menormalkan harga daging.

"Kami meminta pemerintah melakukan sesuatu untuk menormalkan harga daging, kalau bisa dikisaran maksimal Rp85.000. Apalagi bulan pada bulan Juni-Juli sudah memasuki puasa dan Hari Raya," kata Asep. Sementara menurut Wik, pemerintah sudah seharusnya menurunkan harga daging sapi. "Agar setiap warga Indonesia bisa membeli dan memakan daging sapi," tutur dia.

Namun begitu, kenaikan harga daging bukanlah satu-satunya. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) Abdullah Mansuri mengatakan pasca kenaikan BBM pekan lalu, harga beras ikut naik Rp 500 per kilogram (kg). Harga beras medium di pasar mencapai Rp 9.000 per kg. Sementara itu, harga beras premium telah mencapai Rp 11.000 per kg. Kondisi ini berbanding terbalik dengan klaim pemerintah yang akan menjaga harga beras karena produksi padi yang melimpah pada Maret ini.

Ia mengatakan, harga beras pada Sabtu pagi pekan lalu langsung naik karena sentiment kenaikan ongkos distribusi. Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga menjelang puasa, jika pemerintah belum mulai mencicil penyaluran distribusi beras ke seluruh daerah di Indonesia. "Kalau ini dibiarkan bukan tidak mungkin harga beras akan naik lagi hingga 30 persen sampai Lebaran," kata Mansuri.

Oleh sebab itu, Mansuri menyarankan pemerintah mulai memberikan subsidi BBM untuk distribusi bahan pokok ke seluruh daerah sejak sekarang. Plus, melakukan operasi pasar setiap bulannya. Pantauan harga di Kementerian Perdagangan, beras medium hari ini harganya Rp 10.113 per kg, lebih murah dibandingkan hari sebelumnya sebesar Rp 10.109 per kg.

Harga Stabil

Dilain sisi, pada kesempatan sebelumnya, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina mengatakan harga barang kebutuhan pokok terpantau tidak mengalami kenaikan pasca penetapan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) oleh Pemerintah pada 28 Maret 2015 lalu.

“Menyusul kenaikan harga BBM sebesar Rp 500 per liter yang ditetapkan Sabtu (28/4) lalu, sejumlah harga barang kebutuhan pokok tidak mengalami kenaikan, justru mengalami penurunan. Berdasarkan hasil pantauan Kemendag per 31 Maret 2015, harga daging sapi turun 0,03% dan cabe merah turun 5,17%,” jelas Srie.

Lebih lanjut, Srie menyampaikan bahwa kenaikan harga BBM tersebut tidak akan memberikan dampak yang terlalu besar pada harga barang kebutuhan pokok. “Kenaikan harga kebutuhan pokok yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM diperkirakan tidak akan lebih dari 2%,” imbuhnya.

Menyikapi hal ini, ke depannya, Kementerian Perdagangan akan terus melalukan pemantauan harga. "Kementerian Perdagangan akan terus melakukan pemantauan harga harian sebagai deteksi dini terjadinya kekurangan pasokan ataupun bila adanya hambatan distribusi yang mengakibatkan tingginya harga,” tegas Srie.