Purwokerto Potensial Pamasaran Reksa Dana

NERACA

Purwokerto - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memiliki potensi yang cukup besar untuk pemasaran reksa dana. Hal ini didasarkan hasil roadshow di beberapa kampus,”Beberapa waktu lalu, kami pernah sosialisasi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Di situ dijelaskan bahwa kita sekarang ada produk reksa dana yang harganya cuma Rp100 ribu dan langsung di sambut antusias dari mahasiswa disana,”ujar Kepala OJK Purwokerto, Farid Faletehan di Purwokerto, kemarin.

Dirinya menjelaskan, reksa dana merupakan suatu investasi yang keuntungannya bisa mencapai 20-30% per tahun. Dimana keuntungan tersebut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan tabungan maupun deposito,”Begitu kita sampaikan kepada mahasiswa, waktu itu rektornya tanya, wah kalau begini cocok karena dengan Rp100 ribu bisa langsung transaksi,”katanya.

Besarnya antusias mahasiswa dan sambutan luar biasa mengenai reksa dana, menjadi keyakinan bagi Farid, bila Purwokerto memiliki memiliki potensi yang besar untuk pemasaran reksa dana. Dia mengungkapkan, potensi itu tidak hanya mahasiswa tetapi juga masyarakat. Namun masih banyak orang yang belum tahu apa sebenarnya reksa dana itu.

Oleh karena itu, kata dia, OJK pada Senin menggelar seminar terkait dengan reksa dana di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Selama seminar itu, pihaknya juga akan membuka gerai penjualan reksa dana sehingga peserta maupun masyarakat bisa langsung bertransaksi hanya dengan uang Rp100 ribu.

Sementara Direktur Pengawasan Pasar Modal OJK, Gontor R Aziz mengatakan, sebagian besar masyarakat selama ini hanya mengenal doktrin "ayo menabung",”Sekitar dua-tiga tahun lalu, saya pernah membaca sebuah hasil penelitian yang sangat menarik, bahwa ada keterkaitan antara tipologi masyarakat yang didominasi oleh penabung dan masyarakat yang didominasi oleh investor,”ujarnya.

Dia menjelaskan, menabung itu baik tetapi hal tersebut tidak begitu mendorong munculnya kreativitas, inovasi, dan sikap kritis terhadap uang dari masyarakatnya. Menurut dia, kondisi tersebut akhirnya melahirkan masyarakat yang tidak memiliki jiwa kewirausahaan.

Dia mengatakan sesuatu yang sangat ironis ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) berulang menciptakan prestasi atau rekor tertinggi, tetapi yang menikmatinya belum semua orang. Oleh karena itu, OJK mendatangi sejumlah daerah salah satunya Purwokerto, untuk mensosialisasikan investasi lain selain menabung, membeli tanah, dan sebagainya,”Purwokerto meskipun hanya kota kecil, agro-industrinya ada, kemudian pariwisata ada Baturraden dan tiga air terjun terkenal yang telah menjadi destinasi wisata. Purwokerto juga punya perdagangan dan jasa, Aston sudah buka, nanti ada Swiss-Belhotel kalau enggak salah, Horison sudah ada, itu artinya tumbuh," paparnya.

Kata Gontor, perekonomian daerah tumbuh kalau para pelaku ekonomi dan masyarakatnya punya jiwa kewirausahaan. Maka pasar modal, lanjutnya, memberikan peluang pembiayaan di samping perbankan yang punya keterbatasan membiayai semuanya,”Potensi-potensi daerah seperti juga Purwokerto ini sangat begitu menunggu, merindukan wirausaha-wirausaha muda yang bisa membuat potensi-potensi tadi teraktualisasi,”tandasnya. (ant/bani)

Related posts