Pemimpin yang Sabar Adalah Pemimpin yang Paling Efektif

Oleh: Dr H Sugeng Listiyo Prabowo, M. Pd, Wakil Rektor

Senin, 06/04/2015

Dalam perjalanan menuju kampus dengan menggunakan mobil, seorang saudara tiba-tiba dicegat oleh orang lain yang belum dikenalnya yang sebelumnya menyalip dengan menggunakan motor. Setelah mencegatnya orang tersebut marah-marah dan mengaku bahwa saudara saya tadi pernah menabrak motornya pada beberapa hari yang lalu dan memintanya untuk mengganti beberapa bagian sepeda yang rusak tadi. Saudara saya tadi dengan bingung-bingung mencoba memahami situasi dan suasana yang tidak mengenakan tersebut, namun dengan tetap tenang untuk mendinginkan suasana pada orang yang marah-marah tadi, saudara saya berusaha mendengarkan dengan seksama apa yang diinginkan orang yang marah-marah tadi dengan tanpa ikut marah-marah.

Sampai akhirnya tersadar bahwa orang tersebut berusaha memojokkannya dan mengancamnya pada perbuatan yang tidak dilakukannya. Ketika itu saudara saya tadi mulai bersikap tegas, dan tidak mau memberikan ganti sebagaimana yang diminta orang yang marah-marah tersebut. Jika hendak meminta ganti, maka harus ada proses identifikasi kesalahan yang dilakukan oleh polisi. Orang yang marah-marah tersebut kemudian meminta jam dan waktu ketemuan di polisi, tidak lupa pula mencatat HP saudara saya tadi untuk dihubunginya ketika nanti di polisi. Namun setelah ditunggu beberapa hari ternyata orang tersebut tidak menelpon saudara saya tadi.

Dalam sebuah organisasi seorang pemimpin seringkali mengancam dan memarahi anak buahnya pada berbagai kesalahan-kesalahan tidak prinsip yang dilakukan oleh anak buah di organisasi tersebut, sehingga menimbulkan iklim kerja yang mencekam dan kemudian mematikan keberanian anak buah untuk melakukan inovasi-inovasi dalam berbagai kegiatan di organisasi tersebut. Disisi lain terdapat pula organisasi yang pemimpinnya mentolerir dan membiarkan saja anak buahnya melakukan apapun, tidak pernah menegurnya dan tidak pula memarahinya, sehingga suasana organisasi tersebut menyenangkan, namun tidak memiliki prestasi yang baik dan efektifitasnya rendah.

Kedua kasus di atas merupakan kasus-kasus yang berkaitan dengan faktor sikap, khususnya yang berkaitan dengan sabar. Sabar merupakan suatu sikap yang menunjukkan ketahanan terhadap situasi yang dihadapi untuk mendapatkan hasil yang direncanakan, atau untuk mencapai kondisi yang diinginkan. Dengan bersabar maka seseorang akan memiliki keuletan yang luar biasa untuk mencapai suatu tujuan. Dengan bersabar seseorang juga akan memiliki ketahanan yang luar biasa untuk berada dalam kondisi yang tidak nyaman bagi kebanyakan orang. Dengan bersabar pula seorang pemimpin tidak menggunakan wewenangnya untuk dapat merubah ketidaknyamanannya karena menginginkan dampak yang lebih besar.

Oleh karena sifatnya yang sangat lentur tersebut, dan seringkali berlangsung dalam waktu yang panjang, maka pemimpin yang sabar seringkali terlihat sebagai pemimpin yang lemah (weakness). Padahal kedua sikap tersebut sangat jauh berbeda. Lemah merupakan sikap yang tidak mampu menghadapi situasi yang berbeda atau tidak nyaman, sehingga akhirnya ikut atau menyerah atau menuruti situasi yang ada tersebut. Pemimpin yang lemah tidak memiliki prinsip yang harus dipertahankan, bahkan tidak mengetahui mana hal yang prinsip dan mana hal yang tidak prinsip, sehingga kalaupun prinsip dilanggar maka pemimpin tersebut tidak akan melawan atau marah. Pemimpin yang lemah juga tidak mengetahui mana hal yang prinsip dan mana hal yang tidak prinsip. Mana hal yang boleh ditinggal dan mana hal yang harus diperjuangkan.

Hal yang sama juga dimiliki orang dengan tingkat kesabaran yang rendah. Seseorang dengan tingkat kesabaran yang rendah dalam wujud perilaku sangat berbeda dengan orang yang lemah, namun dalam landasan perilaku memiliki banyak kesamaan, yaitu sama-sama tidak memahami mana hal yang prinsip dan mana hal tidak prinsip. Mana hal utama dan mana yang boleh ditinggalkan. Seseorang dengan tingkat kesabaran yang rendah jika menjadi pemimpin akan bersikap “galak” dan menunjukkan kekuasaannya dengan sering memarahi para pengikutnya walaupun kesalahan yang dibuat oleh para pengikutnya tersebut bukanlah pada hal-hal yang prinsip. Sebaliknya orang yang lemah jika menjadi pemimpin tidak memiliki keberanian untuk menggunakan kekuasaannya, bahkan juga tidak akan memarahi pengikutnya walaupun pengikutnya tersebut melanggar hal-hal yang prinsip, atau lebih mengutamakan pekerjaan-pekerjaan sampingan dibanding dengan pekerjaan-pekerjaan utama.

Pemimpin yang sabar memahami betul apa yang harus diperbuatnya dan mana yang harus ditinggalkannya. Mehamami prinsip-prinsip yang ada di dalam organisasi yang dipimpinnya, memahami nilai-nilai yang harus dianutnya dan juga yang harus dianut oleh para pengikutnya. Oleh karena pemahamannya itu maka pemimpin yang sabar mengetahui kapan harus menunggu dan kapan harus berlari dan bergerak cepat. Kapan harus marah dan kapan harus memuji, kapan harus memberi reward dan kapan memberi punishment. Selalu memiliki strategi yang brilian dalam setiap pencapaian target. Pemimpin yang sabar sangat memahami organisasinya, visi yang harus dicapainya, dan strategi yang harus digunakan untuk mencapai visi tersebut. Karena orang yang sabar adalah orang memahami diri dan lingkungannya dengan baik. (uin-malang.ac.id)