Inflasi Rendah dan Suku Bunga

Senin, 06/04/2015

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina

Secara teoritis dalam makroekonomi, bank sentral menggunakan baik target realisasi atau ekspektasi inflasi sebagai dasar penetapan suku bunga acuan. Hal ini dikarenakan mereka yang menginvestasikan uangnya di sejumlah instrumen perbankan menginginkan imbal hasil (return) yang positif. Artinya terdapat selisih antara return dikurangi inflasi. Dengan demikian penetapan suku bunga acuan selalu di atas target realisasi atau ekspektasi inflasi. Sementara itu, target inflasi juga biasanya digunakan oleh bank sentral untuk menetapkan kebijakan suku bunganya atau yang kita kenal sebagai kebijakan inflation-targeting.

Trend realisasi inflasi di Indonesia dalam 3 bulan terakhir tahun ini menunjukkan inflasi yang sangat rendah. Dimana pada Januari tercatat deflasi 0,24%, Februari deflasi 0,36% dan Maret terjadi inflasi 0,17%. Melihat capaian inflasi yang sangat rendah akibat penurunan harga BBM bersubsidi maka BI pada Februari (17/2) memangkas BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,5%. Penurunan BI Rate pada Februari disambut oleh sektor riil untuk menurunkan komponen biaya modal (cost of capital). Sehingga perekonomian pada tataran produksi dan konsumsi akan lebih bergairah.

Bagi sektor riil tentunya selalu berharap suku bunga rendah menjadi harapan bagi mereka. Dengan semakin rendahnya suku bunga maka biaya produksi akan dapat ditekan dan konsumsi akan lebih meningkat karena biaya kredit konsumsi menjadi semakin terjangkau. Penurunan suku bunga juga diharapkan oleh banyak kalangan sebagai langkah persiapan The Fed menaikkan suku bunga di Amerika Serikat. Dengan diturunkannya suku bunga BI Rate saat ini akan memberikan ruang penyesuaian yang tidak terlalu memberatkan sektor riil ketika BI harus menaikkan BI Rate menyesuaikan kenaikan suku bunga di Amerika Serikat. Dengan dua argumen ini, tidaklah mengherankan apabila banyak kalangan yang berharap BI Rate dapat diturunkan kembali.

Namun, BI juga menghadapi tekanan untuk berhati-hati dalam mengelola suku bunga acuan. Trend kenaikan harga BBM bersubsidi, seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah dan konflik di sejumlah kawasan, berpotensi mendorong inflasi dalam beberapa bulan ke depan. Selain itu juga, perlu diantisipasi trend pelemahan nilai tukar rupiah berdasarkan imbal hasil investasi di pasar keuangan yang salah satu faktornya adalah BI Rate. Meski saat ini faktor penguatan ekonomi di Amerika Serikat dan perekonomian kawasan juga sangat berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah, faktor domestik seperti inflasi, cadangan devisa, neraca transaksi perdagangan dan neraca berjalan juga sangat memengaruhi sentimen pasar.

Kita tentunya berharap BI bersama dengan Pemerintah, LPS dan OJK akan terus menjaga keseimbangan antara sektor moneter dan sektor riil di tengah turbulensi perekonomian dunia. Opsi untuk menurunkan suku bunga dapat menjadi salah satu alternatif untuk lebih menggairahkan sektor riil dan sebagai salah satu sinyal terjaganya fundamental perekonomian nasional. Selain itu juga, dengan diturunkannya suku bunga dalam bulan-bulan ini BI akan memiliki ruang penyesuaian yang lebih leluasa untuk menghadapi potensi menguatnya inflasi di beberapa bulan ke depan dan sebagai langkah antisipasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.