Berharap Asa di Tengah Serbuan Impor Baja

Krakatau Steel Tutup Pabrik di Hulu

Senin, 06/04/2015

NERACA

Jakarta – Melempem kinerja keuangan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) dengan mencatatkan kerugian selama tiga tahun berturut-turut mendapatkan perhatian serius dari pemerintah sebagai pemegang saham dengan mencopot langsung Irvan S Hakim dari bangku Direktur Utama (Dirut) dan mengangkat Sukandar yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan (Dirkeu) menjadi dirut perseroan yang baru.

Membengkaknya kerugian bisnis Krakatau Steel dari US$20,43 juta di 2012, kemudian di 2013 mencapai US$13,98 juta dan di 2014 tumbuh hingga 971,6% menjadi US$149,81 juta, memaksa perseroan untuk melakukan efisiensi. Bahkan perusahaan baja plat merah ini menghentikan secara penuh pengoperasian pabrik hulu bahan baku baja agar tidak mengalami kerugian seperti yang telah terjadi selama tiga tahun ini.

Direktur Utama Krakatau Steel, Sukandar mengatakan, perseroan akan menyetop pabrik slab yang menghasilkan bahan baku baja perseroan. Sebab rendahnya harga baja di pasar membuat perseroan harus menjalankan efisiensi,”Kita stop pabrik hulu, perseroan bisa terlepas dari biaya produksi pabrik slab yang tinggi, karena sekarang over supply sehingga harga turun terus. Kita harus efisien dengan beli saja,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Terkait rencana penutupan pabrik produksi bahan baku baja, kata Sukandar, pihaknya belum memutuskan apakah akan impor atau mengambil bahan baku dari anak usaha, PT Krakatau Posco untuk memenuhi kebutuhan bahan baku baja. Namun yang pasti, lanjutnya, perseroan akan mengutamakan dari bahan baku produksi Krakatau Posco. Kendatipun demikian, perseroan tidak menutup kemungkinan bakal impor. Pasalnya, dengan demikian, biaya produksi akan lebih murah.

Peran Pemerintah

Memburuknya kinerja perseroan, disebut Sukandar tidak bisa lepas dari tanggung jawab pemerintah sebagai policy maker. Hal ini dikarenakan, murahnya bea masuk baja ke Indonesia menjadi salah satu penyebab kalah bersaingnya industri baja nasional, khususnya produksi Krakatau Steel.

Oleh karena itu, dirinya berharap pemerintah berpihak kepada industri baja nasional dan menjadi perisai terhadap serangan derasnya baja impor ke dalam negeri,”Dengan rendahnya bea masuk membuat impor produk baja semakin meningkat, dengan besarnya kebutuhan pasar terhadap produk baja di Tanah Air, terus berpengaruh pada harga baja dan pada akhirnya mengganggu kinerja kami,”ungkapnya.

Melihat keadaan itu, pemerintah harus memperhatikan dengan baik industri baja yang ada di Tanah Air, agar kinerja perseroan tidak memburuk seperti yang telah diraih pada tiga tahun lalu. Selain itu, dia berharap, pemerintah bisa menyamakan bea masuk ke Indonesia dengan negara lain yang ada di kawasan Asia. Hal ini beralasan, karena seluruh negara di Asia dan Eropa, pemerintahnya memproteksi dengan baik pasar baja dalam negerinya, “Biaya masuk di Indonesia paling rendah. Kita minta pemerintah paling tidak menyamakan bea masuk dengan negara lain di Asia saja," tegasnya.

Bea masuk baja di Indonesia hanya lima persen, jika dibandingkan dengan Malaysia yang membebankan bea masuk sebesar 20% ditambah 24,8% tarif antidumping. Thailand mengenakan bea masuk lima persen ditambah kebijakan antidumping untuk 24 negara hingga 33%.

Kata Sukandar, ke depan perseroan akan terus mengembangkan kinerja dan kontribusi anak usaha, yakni PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Tirta Industri (KTI), dan PT Krakatau Daya Listrik (KDL). Melalui langkah strategis yang dijalankan manajemen, kapasitas produksi perseroan akan ditingkatkan hingga 127%, dari 3,15 juta ton pada 2013 menjadi 7,15 juta ton pada 2018,”Meski kondisi eksternal tidak kondusif, perseroan akan terus melakukan langkah-langkah efisiensi pada 2014-2015, dengan cara memotong biaya overhead produksi secara agresif,”tandasnya.

Dia menjelaskan cara yang akan dilakukan dengan menekan beban tenaga kerja, optimalisasi pola operasi pabrik, dan meningkatkan sinergi dengan PT Krakatau Posco. Sehingga, dengan hasil langkah-langkah tersebut ada beberapa efisiensi yang dilakukan perseroan. Tercatat tahun lalu, efisiensi yang dilakukan mencapai US$ 195,5 juta. Kemudian daya saing ditingkatkan, dengan menurunkan biaya produksi rata-rata tahun 2013-2014 sebesar US$ 30,5 per ton untuk hot rolled, US$ 28,3 per ton untuk cold rolled, dan US$ 22 per ton untuk long product. (bani)