Mayora Bersiap Jadi BUKU II

Triwulan II 2015

Kamis, 02/04/2015

NERACA

Jakarta - PTBank Mayora menargetkan dapat memenuhi kecukupan modal untuk menjadi bank unit kegiatan usaha (BUKU) II pada triwulan II 2015 dengan penambahan modal dari induk usaha Mayora Group dan pemegang saham International Finance Corporation (IFC).Direktur Utama PT Bank Mayora, Irfanto Oeji mengatakan, posisi modal inti perusahaan pada Maret 2015 sudah mencapai Rp875 miliar.

Induk Usaha Mayora Group dan pemegang saham, kata dia, akan segera menambah penyertaan modal lebih dari Rp110 miliar."Setelah penambahan modal, kita akan naik kelas. Kita akan rapat umum pemegang saham (RUPS) untuk menjadikan modal inti kita naik bisa Rp1 triliun," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4).

Sesuai peraturan BI Nomor 14/26/PBI/2012, Bank BUKU II wajib memiliki modal Rp1 triliun hingga Rp5 triliun.Irfanto mengatakan setelah masuk ke BUKU II, Mayora akan meningkatkan kegiatan usahanya dalam valuta asing, seperti transfer keluar negeri, transaksi ekspor dan impor, dan jasa-jasa valuta asing lainnya.

Bank devisa

Bank Mayora juga mendominasi pelayanan jasa keuangan untuk kegiatan bisnis induk usahanya, Mayora Group, yang merupakan perusahaan makanan dan minuman terkemuka dengan jaringan pemasok internasional."Izin bank devisa sebenarnya sudah diberikan BI pada Mei 2013, bank-bank itu kan diberi kesempatan untuk masuk atau menyetorkan modalnya terkait devisa itu sampai tahun 2016. Nah, kami tidak perlu mennunggu hingga dua tahun lagi," ujar dia.

Mayora juga akan tetap fokus memperbesar porsi penyaluran kredit ke sektor pelaku usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) hingga menjadi 56% dari portofolio kredit atau sekitar Rp2,26 triliun dari total target penyaluran kredit Rp3,9 triliun - Rp4 triliun di 2015.Dari penyaluran kredit, secara keseluruhan, Mayora menyalurkan kredit senilai Rp2,9 triliun pada 2014 dan menargetkan bertumbuh Rp1 triliun pada 2015.

"Kita masih terus akan fokus di UMKM, karena sektor tersebut yang paling tahan dengan gejolak perekonomian, dan juga penopang sektor rill dengan memberikan banyak lapangan kerja," kata dia.Sektor UMKM yang paling banyak diincar Mayora adalah sektor perdagangan dan distribusi.

Kredit macet terkendali

Irfanto mengklaim meskipun fokus Mayora ke UMKM, rasio kredit bermasalah (nonperforming loan / NPL) masih sangat terkendali di 0,75%. NPL bersih untuk kredit UMKM, kata dia, berada di tingkat 0,1%.Sementara dari sisi likuiditas perusahaan, Irfanto mengatakan Mayora ingin memperbesar porsi dana murah dari tabungan dan giro dibanding dana mahal dari deposito.

"Kita incar untuk 2015, 78% 'high cost' dan 22% 'low cost'. Sebelumnya perbandingan 80% - 20%," kata dia.Tingginya biaya dana (cost of fund) juga, kata dia, menggerus pendapatan bunga bersih (net interest margin / NIM) yang pada Desember 2014 di kisaran tiga persen.Mayora juga ingin meningkatkan fungsi intermediasi perbankan, dengan meningaktakn rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio / LDR) menjadi 82% pada 2015 dari sebelumnya hanya di bawah 78% pada 2014. [ardi]