Pemerintah Diminta Buka Harga Eceran BBM

IMBAS TURUN NAIKNYA HARGA BBM

Kamis, 02/04/2015

NERACA

Jakarta – Kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) memicu kenaikan harga bahan pokok ikut terkerek naik. Alhasil kondisi ini memberikan beban terhadap daya beli masyarakat kian menurun. Ironisnya, kebijakan pemerintah menaikkan dan menurunkan harga BBM seperti roller coaster itu membuat pusing pelaku usaha untuk menyesuaikan harga.

Turun dan naiknya harga BBM, direspon Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas (RTKM) Faisal Basri yang meminta PT Pertamina (Persero) meniru Thailand yang membeberkan harga eceran BBM tiap hari. Pasalnya, masyarakat perlu diberikan kemudahan untuk mengetahui harga eceran BBM per hari. "Jadi setiap hari (BBM) diumumkan komponen harganya. Ayo kita dorong agar kita semua bisa melihat, saya coba semalam cari harga premium hari ini, harga pertamax hari ini di google tapi enggak ketemu. Susah cari harga BBM di Indonesia itu," tuturnya di Jakarta, Rabu (1/3).

Pihaknya heran dengan perhitungan harga keekonomian BBM yang disebutkan Pertamina. Pasalnya, harga BBM RON 97 yang dijual di negara lain hanya Rp7.971 per liter dan sudah termasuk pajak. Bahkan, harga BBM RON 95 yang dijual di Malaysia hanya sebesar Rp6.908 per liter. "Masa harganya (RON 97 dan RON 95) lebih murah dari premium. Jadi harga keekonomian versi Pertamina bukan keekonomian. Tapi harga ketidakefisienan," imbuhnya.

Faisal berharap BUMN migas tersebut dapat menunjukkan komponen penentuan harga BBM yang membuatnya tidak efisien tersebut. Dengan demikian, masalah ketidakefisienan tersebut dapat dipecahkan bersama."Pertamina harus menunjukan komponen yang membuat mereka tidak efisien, supaya kita bantu sama-sama. Kalau ada maling, kita gebukin sama-sama. Kita tidak dalam posisi melemahkan Pertamina. Kita ingin Pertamina kuat, tapi dengan cara yang benar," tegas Faisal.

Sementara Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) Ngadiran menyatakan, kenaikan harga BBM secara tiba-tiba membuat tidak nyaman dan menimbulkan ketidakpastian bagi pedagang kecil. Sebab, dengan fenomena ini akan membuat gonjang-ganjing iklim usaha yang banting tulang setiap hari demi mendapatkan rupiah,”Itu kalau bagi kita yang pedagang kecil, pedagang pasar, tidak nyaman dan tidak ada kepastian dalam berusaha. Tidak ada kepastian harga. Kita bingung," tandasnya.

Ongkos angkut, lanjut dia, naik karena bahan bakar minyak merangkak. "Pengaruhnya, ongkos angkut barang terus bergerak. Nah ini kan melemahakan daya beli dan menyulitkan rakyat," terangnya.

Ngadiran menyayangkan kebijakan Presiden Joko Widodo atas kenaikan BBM. Menurutnya, pemerintah tidak memikirkan dampak ke depan,”Kebijakan yang diambil, dia mengatakan kebijakan yang tidak populer tapi berani ambil. Ya, ambil keputusan sih enak saja, tapi selaku pelaku yang ada di bawah itu sulit. Dia enggak berpikir bahwa ini dampaknya ke petani, nelayan, pedagang kecil, itu yang jelas sangat punya pengaruh," pungkasnya.

Ngadiran menegaskan, jika pemerintah ingin menaikkan harga BBM, hendaknya didasarkan APBN yang disusun setahun sekali. Pemerintah hendaknya membuat perencanaan yang baik dan kenaikannya pun harus diperkirakan dengan baik yang hanya terjadi seyogyannya setahun sekali,”Ya silakan dilakukan satu perencanaan yang baik, kemudian rencana naikpun sekali saja dalam setahun. Jadi enggak bisa dengan cara begini. Enggak ada kepastian namanya," ujarnya.

Dirinya menuturkan, jika BBM dinaikkan dua kali dalam setahun, tetap kemungkinan rakyat tidak akan setuju. Karena pasti akan berakibat pada gunjang ganjing harga."Kalau dinaikkan, diturunin lagi, naikin lagi, main-main ini namanya. Jahat ini. Pemerintah main-main. Membuat APBN itu kan setahun skali. Kedua, untuk kebutuhan hidup orang banyak yang dampaknya luas, itu enggak boleh dibuat permainan gini,”katanya.

Pemerintah, lanjut Ngadiran, hendaknya memikirkan soal pelemahan rupiah dengan tidak serta merta menaikkan harga BBM yang katanya mengikuti harga minyak dunia,”Ikutin harga dunia katanya. Bukan ikutin harga dunia ini, tapi rupiahnya yang ambruk. Kenapa rupiahnya ambruk? Ya ini yang harus dipikirin. Bukan dengan cara naikin BBM. Dinaikin berapapun kan ini akan menambah masalah baru. Kemudian inflasi dan lainnya. Bahaya," pungkas dia. bani