Perpustakaan Bukti Manusia Berpikir

Oleh: Roy Martin Simamora, Alumni Universitas Negeri Medan, Program S2 di National Dong Hwa University, Taiwan

Kamis, 02/04/2015

Saya masih ingat sepotong kalimat yang berbunyi demikian: “Perpustakaan adalah bukti bahwa manusia masih berpikir.” Ya, perpustakaan adalah salah satu faktor pendukung berhasilnya pendidikan di sebuah negara. Tak ada Negara di dunia ini tidak memiliki perpustakaan. Perpustakaan hadir sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses belajar-mengajar di sebuah Negara. Perpustakaan yang terorganisasi secara baik dan sistematis, secara langsung atau pun tidak langsung dapat memberikan kemudahan bagi proses belajar mengajar di sekolahtempat perpustakaan tersebut berada. Hal ini, terkait dengan kemajuan bidang pendidikan dan dengan adanya perbaikan metode belajar-mengajar yang dirasakan tidak bisa dipisahkan dari masalah penyediaan fasilitas dan sarana pendidikan.

“Ngomong-ngomong” soal Perpustakaan. Negara mana saja yang punya perpustakaan terlengkap didunia. Anda pasti ingat film booming yang sempat menjadi perhatian jutaan mata penonton didunia. Sebut saja Film National Treasure 2 yang mengambil setting di Library of Congress ini berada di Washington DC, Amerika Serikat. Library of Congress didirikan pada 1800. Perpustakaan ini memiliki stock lebih dari 30 juta buku. Library of Congress muncul di film tersebut. Menampilkan deretan literature yang tersusun rapi.

Perpustakaan ini terdiri dari tiga gedung yang berbeda dan merupakan perpustakaan terbesar di dunia. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, tetapi hanya anggota kongres dan pejabat pemerintah penting lainnya dapat memeriksa buku. Perpustakaan ini juga melayani fungsi penting sebagai “Perpustakaan Terakhir “ di AS, menjamin ketersediaan barang-barang tertentu ke berbagai perpustakaan di seluruh Amerika Serikat. Kepemilikan literature perpustakaan sangat mengesankan, seperti: lebih dari 32 juta buku, lebih dari 61 juta naskah, konsep kasar dari Deklarasi Kemerdekaan, salinan vellum sempurna dari Alkitab Gutenberg (salah satu dari hanya empat di dunia), lebih dari 1 juta surat kabar dari tiga abad terakhir, lebih dari 5 juta peta, 6 juta keping lembaran musik, dan lebih dari 14 juta foto dan sidik jari. Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi http://www.funonthenet.in/places/best-libraries-world.html

Maka tak salah sebenarnya orang-orang Amrik memiliki persediaan buku-buku terbanyak didunia. Disamping itu, banyak pemikir-pemikir yang lahir dari sana. Dan lagi orang Amerika gemar membaca buku. Sebenarnya ada sepuluh perpustakaan terlengkap didunia saat ini. Peringkat pertama tentu saja Negeri Paman Sam. Diikuti Negeri Tirai Bambu, Tiongkok, Rusia, Kanada, Jerman, Inggris, Jepang yang semuanya punya perpustakaan yang lengkap.

Budaya Baca dan Tulis

“Sulit membangun peradaban,tanpa budaya tulis dan baca.” demikian ungkap penyair Inggris, TS Eliot. Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan, karena diakui atau tidak, membaca buku dan menulis merupakan sumber informasi dan pengetahuan. Majunya sebuah negara, dapat dilihat dari sejauh mana budaya baca dan tulisnya. Apabila ada negara yang maju, maka selidikilah dan cari tahu. Hampir dapat dipastikan kalau negara tersebut memiliki masyarakat yang gemar membaca dan menulis. Jepang adalah contoh bangsa yang gemar membaca. Jepang menjadi bangsa yang maju dan superior karena budaya membaca buku di negara bunga sakura tersebut tinggi.Bagi mereka buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya. Karena alasan itulah budaya membaca dan menulis sangat ditekankan di Jepang. Tidak salah kalau orang Jepang memiliki kesenangan membaca dan terampil menulis.

Kebiasaan orang Jepang bila bepergian naik densha (kereta listrik) mereka takkan lupa membawa buku atau koran. Baik anak-anak maupun dewasa didalam kereta pasti sedang asyik membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Lihat disini http://www.hi-techmall.org/space-ht/ckids/blog/menengok-budaya-membaca-masyarakat-jepang

Minat baca yang sangat melekat dari sejak zaman dulu hingga sekarang menjadikan baca sebagai budaya. Budaya membaca Jepang yang sangat tinggi menimbulkan efek timbal balik. Efek timbal baliknya adalah dengan budaya menulis. Sudah barang tentu, jika semakin banyak membaca kecenderungan ingin berbagi tentang informasi yang didapatkannya semakin tinggi. Salah satu yang paling efektif adalah dengan menulis, karena media tulisan bisa lebih masuk ke objek yang dituju daripada media lisan.

Bagaimana dengan budaya baca dan tulis di Indonesia?. Harus saya akui kita memang masih kalah dengan orang Taiwan kebanyakan. Untuk dua hal itu kita masih kalah dengan mereka. Lihatlah majunya peradaban bangsa dilihat dari budaya baca dan tulisnya. TS Eliot tidak sembarang mengucapkan sepotong kalimat diatas. Dan sepotong kalimat itu memang benar adanya.

Saya punya pengalaman yang terbilang unik. Begini, semasa saya masih kuliah di Medan. Saya pernah survey kecil-kecilan untuk beberapa teman, adik kelas dan menanyai mereka tentang budaya baca dan tulis. Kebetulan saya sedang ada proyek membuat sebuah karya tulis kemudian menyebar kuisioner dan mewawancari mereka satu persatu. Hasilnya sangat mengejutkan. Saya terkejut sebab budaya baca dan tulis mahasiswa masih sangat minim. Katakanlah, dari sepuluh mahasiswa yang saya wawancarai cuma satu orang saja yang pernah membaca buku. Maka tak salah sebenarnya ketika dosen menanyai mahasiswanya hanya adem-adem ayem. Jangankan membaca buku, membaca rambu-rambu lalu lintas sajapun ogah. Bermacam-macam jawaban yang saya dapat. Sebagian mahasiswa tidak suka membaca buku membikin kepala pening. Sekedar baca saja namun tidak tahu makna yang terkandung dalam buku. Cuma dipegang saja untuk gaya-gayaan.

Bagaimana dengan orang Taiwan yang kutemui? Sudah dua pekan saya berada di negeri tandus ini. Salah satu pengalaman yang saya dapatkan langsung adalah ketika saya berkunjung langsung ke Perpustakaan Kampus. Ini adalah kali pertama saya masuk Perpustakaan Kampus dan membuat saya terperangah. Kampus saya ini memiliki akses buku-buku, antologi jurnal nasional dan internasional dan jurnal-jurnal online terlengkap yang bisa diakses langsung diinternet tanpa berbayar. Pihak kampus memang sudah menggratiskan jurnal-jurnal itu. Dan pemandangan yang sangat mengesankan adalah hampir separuh orang yang kutemui disini punya kegemaran membaca buku, mahasiswa disini senang diskusi, punya semangat belajar yang tinggi. Apakah cukup hanya buku? Tidak!. Mereka gemar membaca koran, jurnal, paper, berebut masuk perpus dan searching berita diinternet. Dan yang paling mengejutkan disini tak ada kebisingan. Kata bising jauh dari kamus mereka.

Maka tak salah sebenarnya, kalau mahasiswa kita masih kalah dengan mahasiswanya Taiwan. Dan lagi, Orang Taiwan “gila” ilmu, selalu ingin tahu. Professor disini masih sangat muda, enerjik, cerdas dan punya semangat belajar yang tinggi. Hampir semua dosen disini sudah bergelar Prof atau paling tidak Associate Prof. Jarang sekali saya menemui yang punya gelar Master. Kalaupun ada itu bisa dihitung jumlahnya.

Benahi Perpustakaan Kita

Mengapa Indonesia tak masuk jajaran Perpustakaan terlengkap didunia?. Sejauh yang saya amati ketika berkunjung ke perpustakaan daerah, kampus, saya kadang heran sendiri, mengapa perpustakaan seluas ini tak ada pengunjungnya?. Kalaupun ada bisa dihitung jumlahnya. Disamping itu, ada beberapa problema ketika saya butuh sebuah buku bacaan, atau sebagai bahan perkuliahan. Kadang buku yang saya cari tidak ada.

Bukan hanya itu, jurnal-jurnal tak bisa diakses langsung dari internet berhubung jurnal yang ingin didownload berbayar. Barangkali negara tak cukup mampu membeli ribuan jurnal-jurnal internasional yang bertebaran diinternet. Persoalan budaya baca dan tulis jangan dikira persoalan sepele. Mahasiswa tak cukup hanya dengar celoteh dosen dan sekedar kombur. Mahasiswa perlu baca buku, jurnal, paper, dan apapun yang berkaitan langsung dengan bidang akademik mahasiswa. Berikan akses membaca dan menulis yang seluas-luasnya bagi warga Indonesia.

Nah, caranya adalah dengan membenahi Perpustakaan kita. Barangkali yang perlu dibenahi dulu adalah gedung perpustakaan yang layak. Gedung suatu perpustakaan haruslah yang benar-benar dirancang untuk perpustakaan dan diperhitungkan bagi kemungkinan pengembangan ke masa depan. Dimana letak gedung itu haruslah strategis dan mudah dijangkau oleh masyarakatnya.

Hal ini sesuai dengan semboyan suatu perpustakaan yang pada perguruan tinggi adalah “perpustakaan jantungnya perguruan tinggi”, sedangkan pada perpustakaan umum semboyannya adalah “perpustakaan otaknya masyarakat”, oleh karena itu maka selayaknya perpustakaan haruslah tepat berada ditengah-tengah masyarakat yang dilayaninya. Dan kompenen terpenting dari semua itu adalah. Buku.

Nah, apakah kita terlambat mengejar Taiwan.? Belum terlambat!!. Jika perpustakaan kita sudah dibenahi dengan baik dan ideal, kita cuma dituntut banyak membaca, membaca dan membaca. Jangan cuma menunggu informasi datang. Jangan hanya menunggu bola datang. Sesekali atau berkali-kali kita harus jemput bola.

Khususnya bagi mahasiswa zamannya sekarang belajar, baca literatur, baca jurnal, baca paper, diskusi. Itulah esensi mahasiswa yang seutuhnya. Yang ingin saya sampaikan, jika kita ingin peradaban bangsa kita maju dan melahirkan generasi-generasi emas, generasi pemikir hebat, anak-anak cerdas benahi lebih dulu perpustakaan kita.(analisadaily.com)