Rugi Rp 891 Miliar, XL Absen Bagi Dividen

NERACA

Jakarta – Dibalik kesuksesan PT XL Axiata Tbk (EXC), perusahaan operator seluler XL yang telah mengakuisisi Axis, rupanya menyisakan banyak utang sehingga memberikan dampak pada penurunan kinerja keuangan perseroan sepanjang tahun 2014. Tercatat, perseroan membukukan rugi sebesar Rp 891.06 miliar.

Presiden Direktur EXCL, Dian Siswarini mengatakan, kinerja perusahaan menurun signifikan tahun lalu. Kendati masih merugi Rp891,06 miliar, angka tersebut lebih kecil dari tahun sebelumnya sebesar Rp1,03 triliun,”Sebelumnya, laba bersih XL per 30 September 2014 telah tertekan. Perusahaan membukukan rugi bersih Rp901,24 miliar dari periode sebelumnya masih membukukan laba Rp916,99 miliar," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4).

Sementara, laba usaha merosot tajam menjadi Rp428,4 miliar sepanjang 2014. Padahal, satu tahun sebelumnya, XL mampu membukukan laba usaha sebesar Rp1,65 triliun. Memang, laba usaha perseroan terlihat anjlok dari kuartal-kuartal sebelumnya. Per kuartal III/2014, laba usaha EXCL mencapai Rp138,13 juta, merosot dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,31 triliun.

Kendati demikian, pendapatan perseroan tumbuh 10,27% menjadi Rp23,45 triliun pada tahun lalu, dibanding setahun sebelumnya yang sebesar Rp21,26 triliun. Selain itu, aset di akhir tahun meningkat menjadi Rp63,7 triliun dari sebelumnya Rp40,2 triliun. Sedangkan liabilitas jangka pendek tercatat mencapai Rp15,3 triliun dan jangka panjang Rp34,3 triliun.

Melihat masih meruginya kinerja keuangan XL di tahun 2014, menjadi alasan perseroan tahun ini tidak membagikan dividen. Keputusan tersebut mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).

Tahun ini, Direktur EXCL Mohamed Adlan, perseroan akan membayar utang yang jatuh tempo sebesar Rp5,6 triliun, sehingga nominalnya berkurang menjadi Rp24 triliun dari posisi utang perusahaan hingga akhir tahun lalu sebesar Rp29,6 triliun,”Utang EXCL hingga akhir tahun Rp29,6 triliun, daripada itu 66% dalam dolar Amerika Serikat (US$) dan 34% dalam rupiah. Selepas bayar utang yang mandatory tahun ini akan turun ke Rp24 triliun," ujarnya.

Dia mengungkapkan, dana yang dikeluarkan perusahaan untuk membayar utang tersebut melalui kas internal sebesar Rp3,9 triliun. Sebanyak Rp3 triliun dibayarkan kepada bank lokal dan sisanya untuk utang dollar AS (US$). Mengingat terus terkoreksinya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tentunya memberikan dampak signifikan terhadap utang perseroan dalam bentuk dollar AS. Maka dari itu, perseroan tahun ini bakal melakukan upaya lindung nilai (hedging) utang dalam mata uang dolar.

Perseroan mengklaim, industri telekomunikasi saat ini sedang berada dalam masa banyak tantangan. Kata Dian Siswarin, sebetulnya sekarang telco industri sedang masa challenging, dimana masa dalam tidak mudah dunia telco sedang di persimpangan,”Kita lihat service voice and SMS berkurang tajam tahun lalu,”ungkapnya. (bani)

Related posts