BBM Naik, Pemerintah Anggap Dampak Naiknya Harga Kebutuhan Pokok Kecil

NERACA

Jakarta – Pemerintah telah resmi menerapkan harga terbaru untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk jenis premium dan solar yang mengalami kenaikan sebesar Rp500 per liternya. Pasca pengunguman lewat situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tersebut, beberapa pedagang langsung bereaksi untuk menaikkan harga kebutuhan pokok yang dijualnya. Namun begitu, pejabat Kementerian Perdagangan mengklaim bahwa dampak kenaikan harga BBM terhadap kebutuhan pokok masih minim.

Seperti dilansir dari laman Antara, Rabu (1/4), Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina menyatakan kenaikan BBM hanya dampak minim terhadap kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. “Kenaikan harga BBM Rp500 per liter diperkirakan hanya akan memberikan dampak terhadap harga barang kebutuhan pokok tidak lebih dari dua persen," kata Srie.

Ia mengatakan, sejak ditetapkannya kenaikan harga BBM, berdasarkan hasil pantauan Kementerian Perdagangan pada 31 Maret 2015 lalu, harga barang kebutuhan pokok tidak mengalami kenaikan, bahkan mengalami penurunan dengan kisaran 0,06 persen untuk daging sapi sampai dengan 5,78 persen untuk cabai merah besar. “Kemendag akan terus melakukan pemantauan harga harian sebagai deteksi dini terjadinya kekurangan pasokan ataupun bila adanya hambatan distribusi yg mengakibatkan tingginya harga,” ujarnya.

Kementerian Perdagangan, lanjut Srie, juga akan terus menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok melalui pasokan hasil produksi dalam negeri maupun dari impor bila sangat diperlukan sebagai upaya terakhir bila terjadi defisit untuk menjaga tingkat inflasi. “Sebagai target stabilisasi harga, Kemendag mengacu pada indikator yang ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019. Dan indikator harga ideal sebagai referensi harga atau harga acuan yang telah memperhitungkan keuntungan yang cukup bagi petani dan harga yang wajar dan terjangkau di tingkat konsumen,” tuturnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pada Maret 2015 tercatat mulai adanya inflasi yaitu sebesar 0,17 persen, setelah sebelumnya pada Januari dan Februari mengalami deflasi. Secara keseluruhan tahun kalender 2015, meskipun Maret terjadi inflasi, masih tercatat deflasi 0,44 persen. Karena Januari tercatat deflasi 0,24 persen dan Februari deflasi 0,36 persen.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi adalah bahan bakar minyak, bawang merah, beras, bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter, upah tukang bukan mandor, pepaya, tarif dokter umum dan nasi dengan lauk. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga dan menahan inflasi adalah cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, tomat sayur, wortel, emas perhiasan, kentang, melon, tomat buah, cabai rawit, tarif listrik dan tarif angkutan udara.

Pada Sabtu (28/3) lalu, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM jenis Premium menjadi Rp7.300 dari Rp6.800 per liter. Sedangkan harga solar naik dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter Kenaikan tersebut merupakan yang kedua kalinya sejak Presiden Joko Widodo memimpin pemerintahan pada Oktober 2014 lalu, di mana kenaikan pertama terjadi pada November 2014, sementara pada Desember 2014, pemerintah menurunkan harga BBM.

Harga Stabil

Untuk di Jakarta, terpantau harga di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan cukup stabil. Harga sayuran seperti kentang, wortel, brokoli, tomat dan timun semuanya stabil. “Sayuran rata-rata stabil, mungkin karena harga BBM naiknya juga baru. Jadi belum terlalu kelihatan ada kenaikan," kata salah seorang pedagang sayur, Heri.

Saat ini, kata Heri, harga kentang stabil di Rp12 ribuan per kg, wortel Rp18 ribu per kg, brokoli Rp28 ribu per kg, harga tomat Rp4 ribu per kg, dan timun Rp6 ribu per kg. Harga cabai untuk jenis cabai merah juga masih stabil di Rp18 ribu-Rp20 ribu per kg. Diikuti juga dengan harga cabai rawit yang juga stabil di kisaran Rp30 ribu-Rp35 ribu per kg dan bawang putih Rp20 ribu per kg.

Begitu juga dengan harga ayam, ikan, udang dan daging kompak tidak mengalami kenaikan di pasar tradisional ini. Harga komoditas ini justru stabil di tengah kenaikan harga BBM. "Udang, saat ini masih stabil di Rp70 ribu per kg. Cumi-cumi juga stabil Rp50 ribu per kg. Ikan juga begitu. Untuk jenis tongkol ini masih Rp25 ribu per kg," kata pedagang lain, Adang.

Menurutnya, kenaikan BBM Rp500 tidak terlalu berdampak signifikan pada harga-harga tersebut. Lain halnya pada saat harga BBM tembus di Rp8.500, harga ayam cs ikut melonjak naik di kisaran Rp10.000. Sama halnya dengan ayam, harga daging sapi juga masih stabil di pasaran. Harga daging sapi per kg dibanderol Rp90.000-Rp95.000 per kg.

Meski tidak mengalami kenaikan, para pedagang mengeluhkan saat ini penjualan justru menurun. Menurut Adang, jika biasanya ia bisa menjual ayam per harinya mencapai 100 ekor, saat ini ia hanya bisa menjual hanya sekira 70-an ekor saja.

Senada dengan Adang, hal tersebut juga dikeluhkan oleh Maman, pedagang daging. Dia menyebut, saat ini penjualan daging justru tengah mengalami penurunan. “Biasanya, kalau lagi rame saya bisa jual sampai 80 kg sehari. Sekarang sepi,” sebut dia.

Related posts