Benih Bandeng Berkualitas Dukung Peningkatan Produksi

Kamis, 02/04/2015

NERACA

Denpasar - Bandeng merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya. Selain untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi, usaha budidaya bandeng dapat diandalkan untuk meningkatan pendapatan pembudidaya skala kecil dan menengah. Produksi Bandeng secara nasional, juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan 421.757 ton pada tahun 2010, dengan perincian dan meningkat menjadi 621.393 ton pada tahun 2014 (data sementara) atau 10,4 % per tahun.

“Peningkatan produksi bandeng ini tentunya adalah kerja keras semua stake holder yang bekerja tak kenal lelah untuk terus membangun perikanan budidaya, khususnya budidaya bandeng. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam peningkatan produksi ini adalah dukungan benih yang harus selalu tersedia secara cukup baik dari segi kualitas, kuantitas dan juga ketepatan waktu sesuai kebutuhan pembudidaya bandeng,” demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat memberikan arahan pada acara Forum Perbenihan Skala Kecil di Sanur, Denpasar, Bali, dilansir dalam keterangan resmi, Selasa.

Slamet menambahkan bahwa untuk mendukung peningkatan produksi bandeng nasional, produksi benih bandeng (nener) juga di tingkatkan dan data menunjukkan peningkatan produksi nener yang cukup signifikan yaitu 2,4 milyar ekor pada tahun 2010 dan mencapai 3,2 milyar pada tahun 2014 (data sementara) atau 10,8 % per tahun. “Produksi nener ini memang tidak sepenuhnya digunakan di dalam negeri, karena sekitar 15 % nener di ekspor ke luar negeri khususnya Filipina. Tetapi kita tidak perlu khawatir akan hal ini karena pemenuhan kebutuhan nener dalam negeri masih menjadi prioritas untuk memenuhi target produksi bandeng tahun 2015 yang mencapai 1,2 juta ton dan memerlukan nener sebanyak 7,2 milyar benih bandeng,” tambah Slamet.

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa informasi tentang pelarangan impor nener adalah tidak benar, karena terbukanya pasar ekspor nener juga mendorong produksi nener secara kontinyu. “Yang perlu diperhatikan saat ini terkait produksi nener adalah peningkatan kualitas nener yang dihasilkan oleh unit pembenihan. Ke depan, kualitas produksi nener harus semuanya kualitas prima, sehingga baik itu untuk pasar ekspor maupun pemenuhan kebutuhan dalam negeri, kualitasnya adalah sama, kualitas A atau kualitas prima. Jadi pembenih nener akan kita dorong untuk melakukan pembenihan sesuai anjuran dan aturan, paling tidak menerapkan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga mampu menghasilkan nener yang berkualitas dalam jumlah yang cukup”, kata Slamet.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kualitas nener adalah penyediaan induk unggul bandeng melalui penguatan Jejaring Induk Unggul Bandeng. “Penyediaan induk unggul bandeng sangat diperlukan agar dapat dihasilkan nener bermutu secara kontinyu. Kemudian yang perlu juga diperhatikan adalah penyediaan pakan benih yang berkualitas selama masa pembenihan. Jenis pakan, kualitas pakan, cara pemberian pakan dan hal lain yang berkaitan dengan pengelolaan pakan pada saat pembenihan harus diperhatikan, sehingga dapat menghasilkan nener yang berkualitas”, ungkap Slamet.

Untuk menekan biaya distribusi dan meningkatkan kelulushidupan nener, pemerintah akan mendorong pengembangan unit pembenihan bandeng di sentra-sentra budidaya bandeng. “Kita ketahui, saat ini sentra nener yang paling besar adalah di Bali, khususnya di gondola. Kita akan dorong pengembangan unit pembenihan di sentra budidaya bandeng di wilayah lain seperti di Lampung, Banten, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Ini akan mengurangi biaya transportasi, menurunkan harga benih dan juga menurunkan tingkat kematian nener akibat transportasi’, papar Slamet.

Peluang usaha pembenihan bandeng juga sangat terbuka dengan di kembangkannya penangkapan ikan melalui alat tangkap yang ramah lingkungan. “Sebagai contoh, penangkapan tuna menggunakan alat tangkap huhate atau Pole and Line. Untuk alat tangkap ini, umpan yang dapat digunakan adalah bandeng umpan dengan ukuran sekitar 7 – 8 gr per ekor (100 – 150 ekor/kg). Dengan kebijakan penangkapan ikan yang ramah lingkungan, saya yakin permintaan bandeng umpan ini akan meningkat. Jadi ini akan membuka peluang usaha baru bagi pembudidaya bandeng”, ujar Slamet.

Ekspor Benih Kerapu

Slamet juga menyinggung informasi tentang pelarangan ekspor benih kerapu. Menurut Slamet informasi pelarangan itu adalah tidak benar. “Yang dilarang adalah bahwa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Budidaya Payau dan Laut lingkup DJPB dilarang untuk menjual benih kepada eksportir benih. Benih produksi UPT adalah untuk dikembangkan di dalam negeri yang digunakan untuk mendukung peningkatan produksi budidaya laut nasional. Kita sudah buat Surat Edaran kepada UPT-UPT DJPB untuk melaksanakan hal ini. Benih kerapu selain kerapu hybrid produksi UPT yang tidak dapat didistribusikan harus di tebar ke alam, tidak ada alasan untuk UPT menjual benih kerapu ke eskportir’, jelas Slamet.

Slamet menutup arahanya dengan mengatakan bahwa ke depan Bandeng merupakan komoditas unggulan yang dapat diandalkan. “Kemampuan Bandeng yang dapat dibudidayakan di Air Tawar, Air Payau dan Air Laut, serta teknologi yang sudah dikuasai baik teknologi pembenihan dan teknologi pembesarannya, akan menjadikan Bandeng salah satu komoditas yang dapat mendukung ketahanan pangan dan gizi, menggerakkan roda perekonomian daerah serta meningkatkan kesejahteraan pelaku usahanya dan masyarakat sekitarnya,” pungkas Slamet.