Zimbabwe Jajaki Kerjasama IKM Pangan

Industri Kecil dan Menengah

Kamis, 02/04/2015

NERACA

Bogor - Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan negara yang terletak di Afrika bagian Selatan, Zimbabwe sedang menjajaki kerja sama bidang Industri Kecil Menengah (IKM) pangan dengan Indonesia. "Sebagai langkah awal, delegasi Zimbabwe akan dikenalkan dengan teknologi tepat guna produk-produk pangan yang merupakan hasil karya Balai Besar Industri Agro (BBIA)," kata Euis di Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/4).

BBIA mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan kerja sama, standarisasi pengujian, sertifikasi, kalibrasi dan pengembangan kompetensi industri agro. Euis menyambut baik penjajakan kerja sama tersebut, karena Indonesia dapat memperkenalkan produk-produk IKM Indonesia khususnya di bidang pangan ke Zimbabwe.

Selain itu, tambahnya, Indonesia juga dapat melakukan tranfer teknologi tepat guna bagi pengembangan produk pertanian di Zimbabwe. Saat ini, bagian terbesar dari ekspor Zimbabwe berasal dari barang mineral, emas pertanian dan pariwisatan, di mana produksi pertanian yang dihasilkan meliputi jagung, kapas, tembakau, kopi, tebu, kacang, domba dan kambing.

Sedangkan, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Zimbabwe mengimpor peralatan mesin dan transportasi, barang produksi manufaktur, bahan kimia, bahan bakar dan produk makanan yang berasal dari Afrika Selatan 55,4 persen, Tiongkok 9,2 persen hingga 2011. Euis mengatakan, kedepannya diharapkan teknologi pengembangan industri agro yang dihasilkan oleh Indonesia dapat digunakan dalam pengembangan IKM berbasis komoditi pertanian di Zimbabwe.

Selain itu, tenaga ahli Indonesia dibidangnya juga dapat dikirimkan untuk melakukan pengembangan IKM pangan di Zimbabwe. Euis menambahkan bahwa rencana kerja sama tersebut adalah bagian dari tindak lanjut komitmen Forum of SMEs Africa ASEAN (FORSEAA) yang secara formal, yang dikenalkan pada 26 September 2016, di mana Indonesia sebagai wakil ketua dan Zimbabwe sebagai anggota.

Sebelumnya, Dengan semangat Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation), kunjungan delegasi negara-negara Afrika ke Indonesia menciptakan optimisme baru. Euis mengatakan, pertemuan ini membahas kerjasama pengembangan industri kecil dan perdagangan yang telah langsung selama ini, "Mereka ingin yang berlangsung selama ini misal kerjasama pengembangan industri dan perdagangan Indonesia dan Afrika bisa ditingkatkan," kata dia.

Lebih lanjut Euis mengatakan, potensi perdagangan untuk Afrika begitu besar. Pihaknya mencontohkan, seperti halnya Seychelles bisa menjadi sasaran produk tekstil Indonesia. Produk tekstil asal Bandung banyak diburu oleh Seychelles untuk kemudian dimodifikasi dan di jual kembali ke Eropa. "Seychelles kita tahu salah satu pulau kecil yang cukup maju. Produk-produk Indonesia terutama tekstil dibeli di Bandung di sana di jual tinggi ke Eropa," lanjutnya.

Tak tanggung-tanggung, harga baju yang relatif murah di Indonesia) di Afrika bisa dijual berkali-kali lipat. Perdagangan tekstil dan produk tekstil (TPT) diharapkan dapat masuk pasar Afrika. Selama lima tahun terakhir nilai ekspor TPT naik 37% pertahun menembus angka US$ 12,68 miliar.

Dia mengatakan bahwa kerja sama Selatan-Selatan memberi dorongan pada Indonesia untuk menjalin kerja sama perdagangan lebih erat dengan negara-negara Afrika. Pihaknya berharap industri tekstil Indonesia dapat masuk ke pasar Afrika dan negara-negara Afrika bisa berinvestasi di Indonesia.

Melalui kerja sama ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif bagi Indonesia dan juga Afrika, tidak hanya bagi peningkatan perdagangan saja namun juga bagi peningkatan kesejahteraan hidup bagi'masyarakat.

Seperti diketahui industri tekstil merupakan sumber penyerapan tenaga kerja yang cukup besar. Selain itu juga ketersediaan bahan baku pasokan kapas dari berbagai sumber akan membantu kontinuitas produksi dan daya saing ekspor produk tekstil Indonesia di pasar global.

Euis mengatakan telah diminta oleh perwakilan negara Seychelles untuk mengembangkan industri di pulau kecil Afrika tersebut. Dengan permohonan itu diharapkan Seychellesmenja-di wilayah maju seperti halnya Singapura di ASEAN.

Menurutnya Seychelles merupakan pulau kecil dengan keindahan alam sehingga dijadikan tempat liburan para selebritis. Sayangnya, kondisi tersebut tidak membuat anak muda di sana mengembangkan industri khususnya IKM justru malah berkeinginan hijrah ke Eropa.

"Daerahnya bagus, sumber daya melimpah. Tapi karena tempat liburan selebritis mereka anak muda kalau bisa ke Eropa. Anak mudanya pergi lamalama kosong. Pemerintah sana ingin menahan anak muda belajar dari Indonesia," kata dia.

Dari pertemuan tersebut, dia mengatakan akan memberikan pelatihan guna memberikan pengetahuan pada pemuda Seychelles. "Akhir April diundang untuk memberikan pelajaran muda-mudi di Seychelles," lanjutnya.