Dunia Anak, Paling Menyenangkan

Maya Kenova, General Manager Kidzania

Sabtu, 04/04/2015

Saat ini tidak ada tempat lain di Indonesia yang menggunakan konsep hiburan anak-anak selain Kidzania. Sekalipun ada, tetap belum dapat menawarkan pengalaman seperti yang Kidzania tawarkan.

NERACA

Kecintaannya pada dunia anak membuat Maya Kenova mau bergabung di Kidzania ketika tawaran datang. Karena bekerja di dunia anak-anak sudah menjadi impiannya sejak lama, apalagi ketika menghadapi dunia bisnis yang begitu agresif/penuh persaingan dan kejam.

Walhasil, banyak orang tidak menjadi diri sendiri untuk menyenangkan hati orang lain. Dengan kata lain, ketika uang terlibat, maka nilai moral menjadi tidak penting. Karenanya, Maya merasa 'jijik dan jengah' dan terus mencoba lari dari kenyataan.

“Saya berhenti bekerja dan menjadi sukarelawan, membantu anak-anak. Kepolosan sikap anak-anak menjadikan pekerjaan ini sangat memuaskan,” kenang Maya.

Ya, menghadpi anak-anak yang tidak berdosa dengan cinta yang tulus dari mereka member kesenangan tersendiri buat Maya Melkova. Selain itu, anak-anak juga tidak meminta kita untuk membalas cinta yang mereka berikan. Kita harus mencintai mereka karena mereka berhak menerimanya.

“Saya percaya usia dini seseorg menentukan kehidupannya di masa depan. Anak-anak harus diberi kebebasan dan kesempatan untuk mengekspresikan diri. Banyak yang dapat kita pelajari dari anak-anak, daripada yang dapat mereka pelajari dari kita,” tegas dia.

Dan anak-anak Indonesia memiliki poin tersendiri di mata Maya. Bagi dia anak-anak Indonesia sangat rendah hati dan sangat sopan. Berbeda dengan di negara asalnya Bulgaria, di sana anak-anak tidak dibesarkan dengan nilai-nilai moral dan prinsip yang kuat. Karenanya anak-anak jadi agresif dan memberontak.

“Makanya dalam kesempatan ini saya ingin berterimakasih kepada anak-anak Indonesia. Mereka menghormati guru dan orangtua. Mereka terbuka untuk semua orang, dan mereka juga menjelajahi dunia di sekitar mereka. Itu yang tidak dimiliki anak-anak di barat,” kata dia membandingkan anak Indonesia dengan anak-anak di Bulgaria.

Saat ini obsesi besar Maya Kenova adalah memperdalam psikologi dan terus berupaya memahami anak-anak beserta seluk-beluk perkembangannya. Dia percaya bahwa masalah yang ada saat seseorang dewasa, adalah berasal dari isu-isu pada waktu kecil.

“Membesarkan dan menangani anak-anak tidak hanya suatu seni tetapi juga ilmu yang harus dikuasai dan membutuhkan pemahaman lebih dalam,” ujarnya.

Karena itu, dia yakin semua orangtua di Indonesia telah melihat bahwa nilai-nilai pendidikan yang mereka harapkan sejalan dengan filosofi Kidzania. Mereka (orangtua-red)membawa anak-anak mereka ke Kidzania karena tempat ini menawarkan kesempatan unik untuk mempelajari sesuatu aktivitas bermain.

“Di sisni anak-anak bisa menemukan apa yang mereka sukai, apa hasrat mereka dan ingin menjadi apa saat mereka besar nanti,” jelas Maya.

Lepas dari semua itu, Maya Kenova terus berupaya memajukan Kidzania, tentunya dengan menghadirkan lingkungan dimana anak-anak dapat menentukan jalan hidup mereka, mengembangkan kreatifitas, dan mulai membuat masa depan yang lebih baik.

“Fokus saya itu tadi, yaitu berupaya terus mengembangkan Kidzania untuk masa depan anak-anak Indonesia,” jawab dia lagi.

Untuk mengembangkan Kidzania, Maya punya beberapa rencana yang telah disusunnya, dia menyebutnya dengan rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang. Untuk rencana jangka pendek, dia ingin mempertahankan posisi di Kidzania sebgai taman bermain terbaik di Jabodetabek yang menyediakan pengalaman belajar dan membebaskan anak-anak untuk mandiri dan memutuskan masa depan mereka sendiri.

Sementara untuk rencana jangka panjangnya, tujuan pertama dia adalah meningkatkan kandungan pendidikan dalam seluruh mekanisme yang ada di Kidzania. Juga menawarkan kelompok sekolah dan pengunjung perorangan kesempatan belajar dengan cara yang lebih kreatif, mengekspresikan diri dan mandiri.

Dia juga ingin menemptakan aktivitas sesuai dengan konteks nasional terkini dan integrasi yang lebih relevan dgn isu-isu yang ada saat ini. Dimana anak-anak perlu dilibatkan dalam penyelesaian berbagai masalah dunia yang merupakan tempat mereka tinggal.

Sedangkan, orang dewasa harus bertanggungjawab terhadap dunia anak, jika orang dewasa tidak bisa mengontrol perilaku mereka, setidaknya mereka dapat membantu anak-anak menghadapi masalah dan mencari solusi terhadap masalah dengan cara yang kreatif

“Saya ingin mereka punya kesempatan mempersiapkan diri sebelum berkunjung ke kidzania sehingga mereka bisa memanfaatkan sebaik mungkin waktu kunjungan mereka di kidzania. Seperti sebelumnya, saya ingin memperluas pengalaman belajar mereka bahkan memberikan tugas-tugas yang harus mereka selesaikan setelah mereka mengunjungi kami,” kata wanita yang menyukai suasana lautan itu.

Perjalanan Karir

Bergabung dengan Kidzania, bagi Maya Kenova adalah progress alami yang dimulainya dari bidang periklanan, tak hanya itu dia juga sempat menjadi guru. Dan bekerja di Kidzania adalah campuran dari keduanya, yakni dunia anak dan dunia komersial.

Itu sebabnya dia sangat menyukai tantangan ini (Kidzania), karena di sini merupakan gabungan dunia anak dan komersil. Karena, sejak lama hal itu terpikir di benak Maya Kenova untuk gabung di perusahaan macam Kidzania.

Ketika masih kecil dia punya sebuah impian untuk pindah ke Amerika dan memiliki rumah dengan banyak penghuni, dimana nantinya mereka dapat berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama.

“Saya ingin menjalani impian Amerika. Setelah saya tiba di sana, saya baru sadar kalau impian itu tidak ada, hanya fatamorgana saja. Apa yang kita lihat di film dan tv bukanlah refleksi dari kehidupan sehari-hari di sana,” tegas Maya.

Ya, apa yang dilihatnya dalam film adalah gabungan dari impian. Dia senang impiannya mendorong dia ke negara lain, tapi itu membuktikan kepadanya untuk idak mempercayai apa yang dikatakan dan ditunjukkan oleh orang lain.

Kuncinya, menurut Maya adalah dengan mencari pengalaman dan memiliki impian sehat yang akan mendorong kemajuanan seseorang bukan malah menguburnya. Dan impian Maya saat itu adalah memperdalam ilmu psikologi di negeri Paman Sam.

“Sejak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), ada keinginan kuat melanjutkan di bidang psikologi. Namun ketika pindah ke US, bisnis adalah bidang yang sangat menjanjikan, di sana banyak org yg mengejar impiannya dengan mendalami bidang bisnis, begitupun saya,” kenang dia.

Apalagi, dalam dunia bisnis ada yang dikenal dengan marketing, yang merupakan satu-satunya program bisnis yang memiliki elemen psikologi. Itu sebabnya dia memutuskan untuk mendalami bidang tersebut secara khusus.

“Dengan pengalaman di bidang bisnis, saya sadar utk meningkatkan kemampuan dan mencapai kesuksesan dan impian, lalu saya pindah ke bidang industri periklanan. Disinilah saya memperoleh gelar master dari University of Art, London,” sebut Maya.***