Kenaikan BBM Pengaruhi Inflasi

Sabtu, 04/04/2015

Kenaikan harga bahan bakar (BBM) minyak memang banyak mempengaruhi perekonomian di Indonesia, salah satu hal yang paling ditakuti ialah terjadinya Inflasi. Bank Indonesia (BI) memperkirakan kenaikan harga BBM pada akhir Maret tidak akan menaikan angkainflasi. Kenaikan tersebut dinilai tidak dapat menaikan angka inflasi karena kenaikan tersebut terjadi di penghujung bulan sehingga belum mempengaruhi kenaikan harga-harga.

Dalam hitungan Bank Indonesia, komponen harga BBM sebelum kenaikan yang berada di level Rp 6.400 per liter untuk Premium dan Rp 6.900 per liter untuk Solar memberikan kontribusi ke dalam inflasi sebesar 4 persen.Dengan kenaikan sebesar Rp 500 per liter, atau sebesar 7,2 persen menjadi Rp 6.900 per liter untuk Premium dan Rp 7.400 per liter untuk Solar akan mendongkrak angka inflasi sebesar 0,3 persen.

Walaupun harga BBM mengalami kenaikan, BI tetap yakin secarayear to dateindeks harga konsumen masih mencatatkan angka deflasi.Sehingga secara kumulatif dari Januari, Februari, Maret, kalau ada inflasi sedikit. Secara kumulatif, dari Januari sampai Maret itu Indonesia masih deflasi untukyear to date.

Menurut datanya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Februari 2015 terjadi deflasi sebesar 0,36 persen di mana secarayear on yearmencapai 0,61 persen. Sedangkan inflasi dari tahun ke tahun mencapai 6,29 persen. Inflasi komponen inti sebesar 0,34 persen pada Februari 2015 sehingga inflasi inti dari tahun ke tahun menembus 4,96 persen. Sebelumnya Indonesia mencatatkan deflasi sekitar 0,24 persen pada Januari 2015.

Hampir 70 kota mengalami deflasi dan 12 kota mengalamiinflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Bukit Tinggi yang mencapai 2,35 persen. Sedangkan deflasi terendah terjadi di kota Jayapura yang mencapai 0,04 persen. Inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 3,2 persen karena melambungnya harga ikan.