KPEI Perketat Transaksi Efek di Bursa

PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia akan memperketat penyelesaian transaksi efek di bursa saham domestik, sehingga investor terhindar dari gagal serah. Hal ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari terbitnya peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor: 26/POJK/2014 mengenai Penjaminan Penyelesaian Transaksi Bursa,”Kebijakan transaksi bursa itu dikecualikan dan akan berlaku per 1 Januari 2016 mendatang, karena ada penyesuaian terhadap aturan pelaksanaannya,"kata Direktur Utama PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Hasan Fawzi, di Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, terdapat dua hal yang diatur dalam transaksi bursa dikecualikan, yakni Bursa Efek Indonesia (BEI) dan KPEI dapat menetapkan efek tidak dijamin, artinya saham-saham tersebut bisa ditransaksikan tetapi tidak dijamin jika terjadi kegagalan. Lalu, Bursa dan KPEI juga dapat menetapkan transaksi dipisahkan.

Kata Hasan Fawzi, konsep itu diatur jika terdapat indikasi ketidakwajaran atau pelanggaran dalam mekanisme transaksi saham tertentu, maka sebagai otoritas dapat melakukan penangguhan atas penyelesaian transaksi sehingga tidak digabungkan dengan transaksi lain dalam proses kliring dan penyelesaiannya," katanya pula.

Dengan demikian, lanjut dia, KPEI akan mengumumkan kelompok efek tertentu yang tidak dijamin dua hari sebelum transaksi. Saat ini, belum ada kriteria rinci mengenai efek yang tidak dijamin itu. Namun, kata dia lagi, beberapa hal yang menjadi pertimbangan terhadap efek yang tidak dijamin itu, di antaranya jumlah saham publik, pola pergerakan saham, komposisi kepemilikan efek, serta fundamental emiten,”Jika dalam suatu transaksi ada indikasi efek bermasalah, maka transaksi itu akan dipisahkan atau tidak dicampur dengan transaksi reguler lainnya. KPEI akan meminta izin kepada OJK untuk memisahkan transaksi tersebut untuk diperiksa dalam kurun waktu tertentu. Jika diketahui tidak wajar, maka transaksi tidak akan diselesaikan," kata Hasan Fawzi.

Pada 2015 ini, dia juga mengatakan bahwa pihaknya akan mengoptimalisasi pasar derivatif yang ditangani bersama BEI. Melalui langkah redefinisi dan revitalisasi ini, diharapkan pasar derivatif yang selama ini mati suri bisa kembali bergairah,”Pada tahun ini, diharapkan pasar derivatif ditargetkan sudah kembali aktif,”ujarnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Sentimen Bursa Asia, IHSG di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham, Selasa (13/2), indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 54,72…

Penerapan Sistem Transaksi Non Tunai Pemkot Depok - Transaksi APBD Warga Harus Buka Rekening BJB

Penerapan Sistem Transaksi Non Tunai Pemkot Depok Transaksi APBD Warga Harus Buka Rekening BJB NERACA Depok - Pemerintah Kota (Pemkot)…

Defisit Transaksi Berjalan Turun

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sepanjang 2017 sebesar 17,3 miliar dolar AS yang berarti 1,7…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

TBIG Berikan Layanan Kesehatan di Jateng

Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR), PT Tower Bersama InfrastructureTbk (TBIG) memberikan bantuan pangan dan…

BEI Perpanjang Suspensi GREN dan TRUB

Lantaran belum melakukan pembayaran denda, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memperpanjang penghentian sementara perdagangan efek PT Evergreen Invesco Tbk (GREN)…

Bukalapak dan JNE Hadirkan Layanan JTR

Sebagai bentuk komitmen Bukalapak untuk terus berusaha memberikan layanan terbaik dan mengoptimalkan jasa layanan pengiriman barang besar yang dapat mempermudah dan…