Ancaman Ketidakpastian Ekonomi

Rabu, 01/04/2015

Kondisi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian akibat penyelesaian krisis ekonomi Eropa yang berlarut-larut, ternyata mendorong lembaga keuangan internasional IMF yang semula memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia 4%, merevisi proyeksinya, turun 0,7% menjadi 3,3% pada tahun ini.

Tidak hanya itu. ekonomi Eropa juga diperkirakan akan mengalami kontraksi 0,5% pada 2015. Demikian juga pertumbuhan ekonomi negara sedang berkembang Asia diperkirakan akan menurun 0,5% menjadi 5,3% dengan laju pertumbuhan ekonomi ASEAN-5 diperkirakan turun 0,4% termasuk Indonesia.

Banyak analis ekonomi menduga krisis ekonomi Eropa akan semakin buruk dan ketidakpastian solusinya telah menyandera ekonomi dunia ke dalam ketidakpastian, dan memberikan dampak negatif pada situasi perekonomian dunia.

Dampaknya, tentu saja berimbas berimbas ke kawasan negara Asia yang selama ini dikenal tangguh. Bahkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal IV/2014 turun menjadi 7%, padahal saat krisis ekonomi AS ekonominya masih tumbuh di atas 9% dan ekonomi India juga tumbuh 6,3% pada kuartal IV/2014. Data ini menunjukkan bahwa ketidakpastian ekonomi global yang disebabkan ketidakpastian solusi krisis ekonomi Eropa, membaiknya pertumbuhan ekonomi AS, serta mulai kontraksinya ekonomi Jepang, membuat perekonomian Tiongkok dan India yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi Asia juga merosot.

Bagaimana dengan kondisi Indonesia? Dampak krisis di negeri ini mulai terasa sejak akhir 2011 di mana nilai ekspor mulai turun. Data BPS menunjukkan nilai ekspor Desember 2014 hanya mencapai US$176,30 miliar, sedangkan impornya tercatat US$178,20 miliar sehingga menghasilkan defisit neraca perdagangan US$1,89 miliar.

Meski pada dua bulan awal tahun 2015 mencatat surplus perdagangan US$1,48 miliar, kondisi defisit hingga akhir Februari 2015 masih sekitar US$400 juta. Di sisi lain,

Data Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan neraca transaksi berjalan (current account) hingga akhir 2014 terlihat masih tinggi sekitar US$24 miliar. Ini terjadi karena surplus perdagangan barang dan jasa semakin menipis serta transaksi modal dan finansial yang defisit sejak kuartal III/2011 masih terus berlanjut hingga akhir 2014..

Karena itu, Indonesia harus mulai mewaspadai dampak krisis ekonomi Eropa yang membawa pengaruh besar pada perekonomian global saat ini. Apalagi situasi perkembangan internasional yang negatif tersebut dibarengi dengan kondisi dalam negeri yang menimbulkan banyak ketidakpastian, serta menghangatnya suasana sosial dan politik.

Banyaknya berita negatif yang kita temui hampir setiap hari, serta sejumlah ketidakpastian mengenai berbagai kebijakan ekonomi domestik telah membuat suasana “tidak nyaman” bagi iklim bisnis dan investasi di Indonesia. Ini tentu saja akan mengurangi minat investor asing menanamkan modalnya di negeri ini.

Meski Presiden Joko Widodo berusaha meyakinkan para investor Jepang dan Tiongkok belum lama ini, bahkan Tiongkok menyatakan komitmennya membantu pembangunan infrastruktur di Indonesia cukup menggembirakan. Namun semua janji manis investor asing tersebut harus dibuktikan dengan Memorandum of Undestanding (MoU) yang transparan, sehingga masyarakat merasa optimistis kemajuan pembangunan infrastrukur menjadi kenyataan di masa depan.

Tidak hanya itu. The Financial Action Task Force kini tidak lagi memasukkan Indonesia dalam daftar negara yang dianggap tidak dapat memberantas money laundering. Tentu saja berita gembira ini harusnya dapat meningkatkan peringkat Indonesia mejadi lebih baik, sehingga persepsi internasional terhadap Indonesia bisa lebih dari sekedar peringkat investment grade dari lembaga rating internasional Fitch dan Moody’s. Semoga!