Aset Keuangan Syariah Capai US$2 Triliun

Rabu, 01/04/2015

NERACA

Jakarta -Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah menyatakan dalam seminar 'Enhancing Financial Inclusion through Islamic Finance', saat ini aset keuangan syariah yang dikelola di seluruh dunia telah mencapai dua triliun dolar AS."Selain itu pertumbuhannya juga semakin baik. Pada tahun 2014 telah tumbuh sekitar 17,3% dari tahun sebelumnya, atau dua kali lipat dari sistem keuangan konvensional," kata Halim di Jakarta, Selasa (31/3).

Perkembangan pesat terjadi pada sejumlah segmen, baik pada dalam bentuk volume aset, sektor yang dibiayai, termasuk pada sub-sektor syariah yang sifatnya sosial.Menurut Halim, pertumbuhan tersebut diperkirakan juga akan terus bertambah pesat, terutama di negara-negara berkembang dan yang berpenduduk Islam terbesar atau mayoritas.

Dia meyakini, ke depan sistem keuangan secara Islam akan menjadi alternatif terbuka bagi inklusi ekonomi, dan bisa dengan mudah diterima masyarakat."Melalui 'Islamic finance' nanti tidak hanya mengatasi kemiskinan melalui jalur keuangan, tapi akan kita upayakan pengembangan instrumen pendukungnya juga," tuturnya, menjelaskan.

Ekonomi syariah tidak menekankan adanya hutang seperti yang dilakukan sistem ekonomi konvensional, oleh karenanya sistem secara islam ini tidak memberikan risiko pada siklus ekonomi secara umum, ujarnya, menambahkan.Selain itu, Halim juga menjelaskan dengan adanya kerangka pengaturan yang semakin baik diharapkan akan turut berdampak positif pada perkembangan keuangan syariah di seluruh dunia, dan khususnya Indonesia.

Wakaf dan zakat

SementaraKetua Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia,Ma'ruf Amin mengatakan, perbankan syariah dapat mengelola wakaf dan zakat sebagai dana murah sehingga dapat memberikan pembiayaan yang murah pula kepada masyarakat. Menurut dia, zakat dan wakaf apabila dikelola dengan baik, akan bermanfaat bagi perkembangan ekonomi syariah di Tanah Air.

"Saat ini bank syariah banyak memperoleh dana-dana mahal, sehingga ketika menyalurkan juga mahal (bunga tinggi). Kami harap dengan zakat dan wakaf ini bisa jadi dana murah sehingga disalurkan ke masyarakat juga murah," ujar Ma'ruf Amin. Diamelihat, potensi wakaf dan zakat secara nasional sangat besar dan seharusnya juga bisa menghasilkan pembiayaan yang besar pula. Ma'ruf juga menuturkan, dari sisi aturan hingga infrastruktur juga relatif sudah mendukung.

"Wakaf misalnya, potensinya besar sekali, tidak pernah berkurang. Bisa jadi bola salju yang semakin lama semakin membesar, tapi potensi wakaf dan zakat sendiri belum optimal," kata Ma'ruf.

Berdasarkan data Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) per 2014, potensi wakaf di Indonesia mencapai Rp270 triliun namun hanya terealisasi Rp2,5 triliun.Sementara itu, berdasarkan data Badan Wakaf Indonesia (BWI) per 2014, potensi wakaf uang mencapai Rp20 triliun, namun hanya terealisasi Rp350 miliar.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) bersama Bank Indonesia, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) melakukan penandatanganan nota kesepahaman(MoU) dalam rangka penguatan kerja sama dan koordinasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Adapun ruang lingkup kerja sama keempat lembaga itu meliputi techincal capicity building untuk peningkatan soft skills sumber daya insami, tata kelola yang baik (Good Corporate Governance) dan infrastruktur penunjang, riset optimalisasi zakat dan wakaf, serta edukasi dan sosialisasi sektor ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. [ardi]