Menhub Tegaskan Tarif Angkutan Tak Naik

Rabu, 01/04/2015

NERACA

Jakarta - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menegaskan tidak akan ada kenaikan tarif moda transportasi darat usai naiknya harga Premium dan Solar. Pasalnya, Jonan menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kali ini tidak terlalu signifikan. "Sudah cukup (tarif lama), jadi jangan naik lagi," tegasnya di Jakarta, Selasa (31/3).

Meski demikian, jika Rupiah terus melemah terhadap Dolar Amerika Serikat, maka dia tidak menutup kemungkinan bakal melakukan penyesuaian tarif. "Kecuali kurs Dolarnya menguat terus, itu baru dihitung lagi," tandasnya.emerintah sendiri baru memutuskan menaikkan kembali harga BBM jenis Premium dan Solar pada 28 Maret 2015 lalu sebesar Rp 500 per liter.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Joko Sasono menegaskan kenaikan harga tersebut tidak akan berdampak terhadap perhitungan ulang untuk tarif yang telah diberlakukan seperti moda transportasi darat. "Tidak berpengaruh terhadap tarif yang berlaku saat ini, karena koreksinya sangat kecil, antara 1-2 persen," tandasnya.

Seperti diketahui, imbas dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berubah-ubah memicu gejolak di berbagai daerah. Beragam kalangan, mulai dari sopir angkutan, nelayan, pengusaha hingga para pejabat resah atas kebijakan harga BBM. Sopir dan pengusaha angkutan merespons kebijakan harga BBM dengan melakukan sejumlah tindakan, mulai dari berinisiatif menaikkan tarif hingga melakukan aksi mogok. Sementara kepala daerah menilai fluktuasi harga BBM bisa mempersulit penganggaran daerah. Mereka juga khawatir perubahan harga BBM akan memicu gejolak harga-harga bahan pokok.

Di Bogor, Jawa Barat, beberapa hari setelah kenaikan harga BBM, Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota/Kabupaten Bogor langsung menaikkan tarif angkutan kota. Dewan Pengurus Cabang (DPC) Organda Kota Bogor sepakat mengusulkan tarif angkutan kota naik sebesar Rp500. Untuk penumpang umum dan mahasiswa yang sebelumnya Rp3.000 menjadi Rp3.500. Adapun tarif angkot untuk pelajar yang awalnya Rp2.000 menjadi 2.500.

“Ya, tarif tersebut berlaku mulai hari ini (kemarin), di lapangan sudah sebagian besar masyarakat harus membayardengantarifbaru,” kata Ketua DPC Organda Kota Bogor M Ischak AR kemarin. Dia menjelaskan, kenaikan tarif angkutan kota di Bogor berdasarkan hasil kesepakatan para sopir yang tergabung dalam Kelompok Kerja Sub- Unit (KKSU) melalui Organda bersama pihak DLLAJ Kota Bogor.

“Tadi pagi, kami sudah rapat untuk membahas kenaikan tarif angkot ini di rumah dinas Wali Kota Bogor,” katanya. Seperti diberitakan, saat ini BBM jenis premium tak lagi disubsidi sehingga harganya bisa naik-turun mengikuti harga minyak dunia. Adapun solar dan minyak tanah tetap menjadi barang subsidi yang harganya ditetapkan pemerintah. Sejak Sabtu (28/3) pukul 00.00 WIB, harga BBM jenis premium dan solar naik masing-masing Rp500/liter.

Untuk wilayah luar Jawa-Madura-Bali, harga premium menjadi Rp7.300/liter dari sebelumnya Rp6.800/liter. Solar menjadi Rp6.900 dari sebelumnya Rp6.400/liter. Sementara untuk wilayah Jawa- Madura-Bali, premium naik menjadi Rp7.400 dari harga sebelumnya Rp6.900 dan solar menjadi Rp6.900 dari sebelumnya Rp6.400/liter.

Tercatat sejak November 2014, harga BBM berubah lima kali. Di Salatiga, Jawa Tengah, ratusan awak angkutan kota mengaku kebingungan menentukan tarif. Mereka menuding kebijakan harga BBM tidak prorakyat. Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar khawatir akan terjadi gejolak harga kebutuhan bahan pokok menyusul kenaikan harga BBM jenis premium dan solar.

“BBM turun, harga enggak turun, komoditas juga. Sekarang naik lagi. Jangan-jangan bakal ada kenaikan lagi. Nah, sekarang bagaimana sikapi kenaikan itu,” kata Deddy Mizwar. [agus]