ISIS dan KeIndonesiaan Kita

Oleh: Masduri, Pengelola Laskar Ambisius (LA)

Rabu, 01/04/2015

Penangkapan 16 WNI yang hendak bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di perbatasan Turki dengan Suriah, mengguncang jagat Indonesia. Kita kembali diriuhkan soal keIndonesiaan. Sebab kabarnya, ISIS telah banyak meraih simpati dari beberapa umat Islam Indonesia yang selama ini beraliran keras dan pro Khilafah Islam. Keriuhan soal ISIS selama ini juga ramai di media sosial.

Di facebook, twitter, dan ragam media sosial lainnya pembicaraan soal ISIS sering diperbincangkan. Mayoritas dari mereka menghujat ISIS. Karena ISIS dinilai tidak sejalan dengan semangat nilai keislaman yang Indonesiais. Islam Indonesia adalah Islam dengan semangat rahmatallil'alamin yang diejawantahkan dengan semangat ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyarawatan/demokrasi, dan keadilan. Dalam bahasa kebangsaan kita, hal tersebut dirumuskan menjadi falsafah negara, yakni Pancasila.

Menjadi wajar bila keberadaan ISIS dihujat dan ditolak. Keindonesian kita sudah final. Indonesia bukan negara agama, tetapi negara berketuhanan. Tidak mungkin Islam sebagai salah satu agama resmi negara diperbolehkan mengeksploitasi hak-hak umat agama lain dengan cara mendirikan negara Islam. Konstitusi kita menjamin kebebasan beragama sebagai hak dasar setiap warga negara. Tidak ada intervensi dari siapapun yang diperbolehkan mengeksploitasi hak-hak berkeyakinan. Pendirian negara Islam Indonesia, berarti mengkhianati konstitusi.

Lebih dari itu, pendirian negara Islam mengingkari sejarah kebangsaan Indonesia. Republik Indonesia tidak saja didirikan oleh umat Islam. Semua umat beragama, baik dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu ikut berpartisipasi berjuang demi tegaknya Republik Indonesia yang kini telah berusia 69 tahun. Menjadi dusta terbesar kita kepada para pejuang kemerdekaan bila atas nama ego sebagian kelompok agama, kita merelakan Indonesia menjadi negara Islam. Sebab sekali lagi, Indonesia bukan negara agama, tapi negara yang berketuhanan.

Negara yang berketuhanan adalah negara yang menempatkan ajaran agama sebagai spirit nilai-nilai dalam kehidupan. Ajaran agama tidak secara formal dijadikan hukum, tetapi secara subtantif ajaran agama sudah masuk di dalamnya. Ajaran agama ditafsirkan secara kontekstual dengan spirit kemanusiaan. Sebab kita berkeyakinan bahwa tidak ada ajaran agama yang mengajarkan tentang keburukan, semua agama mengajarkan kebaikan. Kebaikan itu diperuntukkan bagi kemanusiaan. Maka hukum yang ada di Indonesia hadir dengan spirit kemanusiaan, sebagai pengejawantahan atas nilai-nilai agama yang ada di Indonesia.

Dengan demikian, sejatinya secara subtantif Indonesia adalah negara Islam. Namun tidak diwujudkan secara formal, karena yang paling penting bukan formalitas, tetapi implementasi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan. Itulah mengapa para pendiri bangsa dari umat Islam tidak mempersoalkan ideologi negara kita Pancasila. Bagi mereka, Pancasila sangat Islami.

Maka setiap muncul ancaman terhadap keindonesiaan kita, sontak ramai penghujatan. Keindonesian kita sudah final. Tidak ada alasan bagi kita meruntuhkan nilai-nilai keindonesiaan. Menjadi tugas kita generasi abad 21 Indonesia menjaga nilai-nilai keindonesiaan sampai titik darah penghabisan. Sekarang kita tidak lagi berjuang melawan penjajahan, tetapi kita sedang mempertaruhan keindonesian kita agar jangan sampai dirongrong oleh ideologi yang menghancurkan keindonesiaan yang sudah final.

Selain Pancasila, keindonesiaan kita adalah Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semuanya itu merupakan akumulasi dari spirit nilai-nilai lokal dan agama yang ada di Indonesia, yang dirumuskan menjadi nilai-nilai keindonesiaan secara nasional. Keindonesiaan kita mengandung nilai ketuhanan dan kemanusian, yang di dalamnya ada semangat persatuan, kesejahteraan, demokrasi, tanggung jawab, kejujuran, gotong royong, dan keadilan.

Perjuangan keindonesiaan kita bukanlah hal yang mudah, ada banyak tantangan yang mengancam tegaknya nilai-nilai keindonesiaan, baik yang secara nyata atau yang samar. ISIS adalah bagian dari tantangan yang tampak bagi kita. Selain itu masih banyak aliran-aliran fundamentaslisme Islam yang tidak secara proporsional menempatkan ajaran Islam di Indonesia, sehingga mengancam eksistensi republik ini. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Selama ini keberadaan organisasi tersebut masih saja dibiarkan leluasa beraktivitas di Indonesia. Bahkan sering menyelenggarakan Muktamar Khilafah Islamiyah, tetapi pemerintah sebagai penyelenggara negara yang secara formal memiliki tugas menjaga keindonesiaan kita membiarkan hal tersebut, bahkan memberikan izin. Lalu kita sebagai rakyat sipil harus bertindak apa? Bila pemerintah memberikan ruang gerak bagi organisasi yang nyata-nyata mengacam keindonesiaan, bahkan secara terang-terangan menolak Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan NKRI. Kita sering menghujat ISIS yang keberadaannya jauh di Timur Tengah sana, tetapi yang dekat dan bahkan berada di bumi Indonesia dibiarkan leluasa beraktivitas.

Keindonesiaan kita sudah final. Dasar negara Pancasila adalah falsafah hidup yang harus direalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika ideologi itu dinilai sesat dan bertentangan dengan Islam bagi pandangan kelompok organisasi keagamaan tertentu, silahkan dengan hormat hengkang dari Indonesia. Bukan saja bagi umat Islam, tetapi bagi semua umat dari agama apapun yang tidak mengakui ideologi Pancasila sebagai dasar negara dengan mengacaukan republik ini, lebih baik meninggalkan Indonesia. Ini bukan egoisme pribadi, karena mayoritas ulama Islam Indonesia berpandangan bahwa Pancasila tidak sesat dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Bagi yang meyakini kebenaran itu, mari kita merawat keindonesiaan kita sebagai panggilan jiwa yang dititahkan oleh Tuhan. Mencintai bumi kelahiran, berarti mencintai anugerah Tuhan. Kecintaan kepada Tuhan harus kita wujudkan pada kecintaan kepada kemanusiaan dengan menegakkan persatuan, kesejahteraan, demokrasi, tanggung jawab, kejujuran, gotong royong, dan keadilan. Karena Tuhan sejatinya tidak butuh cinta manusia. Justru sebaliknya, manusia yang butuh cinta Tuhan. (analisadaily.com)