Penjualan Wismilak Capai Rp 1,66 Triliun

NERACA

Jakarta – Produsen rokok PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) membukukan peningkatan penjualan bersih sebesar Rp1,66 triliun di tahun 2014, dari posisi penjualan sebesar Rp1,59 triliun di akhir 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Senin (30/3).

Meningkatnya penjualan memberikan efek bagi beban perseroan di tahun lalu, sehingga laba perseroan anjlok. Beban pokok penjualan perseroan naik menjadi Rp1,18 triliun di akhir 2014. Laba kotor perseroaan menjadi Rp483,81 miliar di tahun lalu, atau naik dari posisi sebesar Rp469,58 miliar di 2013.

Beban usaha perseroan mengalami peningkatan di tahun lalu menjadi Rp321,53 miliar, sehingga laba usaha perseroan tergerus menjadi Rp162,29 miliar, dari posisi sebesar Rp180,20 miliar di akhir 2013. Laba sebelum pajak perseroan menjadi Rp149,54 miliar di 2014, atau turun dari posisi sebesar Rp175,12 miliar di 2013. Adapun total aset perseroan sepanjang tahun 2014 menjadi Rp1,33 triliun di 2014, atau naik dari posisi Rp1,23 triliun di akhir 2013.

Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan tumuh 15% hingga 20% menjadi Rp 2,37 triliun sampai Rp 2,55 triliun. Hal ini disebabkan terkait rencana perseroan yang segera menyesuaikan harga terkait kenaikan cukai rokok. Direktur Utama Wismilak, Ronald Walla pernah bilang, menaikkan harga produk menjadi salah satu strategi WIIM menekan penurunan margin laba akibat kenaikan cukai rokok yang kian mencekik. Apalagi WIIM tidak banyak mengeluarkan produk baru.

Disamping itu, PT Wismilak Inti Makmur Tbk juga ingin terus menggeluti bisnis rokok keretek atau sigaret kretek tangan (SKT) dengan menambah kapasitas pabrik SKT, ditengah produsen rokok lainnya mulai tidak memproduksi. Hal tersebut, terlihat dari total anggaran belanja modal perseroan Rp 60 miliar–Rp 70 miliar tahun ini. Manajemen Wismilak Inti ingin mencuil 40% atau Rp 24 miliar–Rp 28 miliar untuk rencana itu.

Selain untuk memperluas pabrik, Wismilak Inti akan memakai belanja modal 2015 untuk memperbaiki kualitas rokoknya. Rencananya, perseroan akan tambah kapasitas pabrik di Bojonegoro. Sayangnya, manajemen perusahaan ini belum bisa memaparkan detail rencana penambahan kapasitas pabrik SKT Bojonegoro itu. Yang pasti, Wismilak Inti menargetkan, penambahan kapasitas pabrik SKT sudah bisa terealisasi di akhir tahun 2015.

Sebagai catatan, saat ini kapasitas pabrik SKT Bojonegoro sekitar 1.000 karton per minggu. Satu karton berisi 10.000 batang rokok. Itu berarti, total produksi pabrik SKT Bojonegoro adalah 10 juta batang rokok per minggu. Sementara pabrik SKT Surabaya memproduksi sekitar 600–700 karton per minggu. Itu berarti total produksi rokok SKT di pabrik Surabaya adalah 6 juta–7 juta batang rokok per minggu. Jadi total produksi rokok SKT Wismilak saat ini sekitar 12 juta–17 juta batang rokok seminggu. Atau total 832 juta –884 juta batang rokok SKT dalam setahun. (bani)

Related posts