Pembudidaya Ikan Harus Mandiri Soal Pakan, Induk, dan Benih - Tingkatkan Daya Saing

NERACA

Tangerang - Sekertaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Tri Hariyanto mengatakan arah kebijakan ke depan adalah bagaimana agar pembudidaya nasional bisa berbudidaya ikan secara mandiri. Kemandirian disini adalah masyarakat terbiasa dengan bagaimana bisa menciptakan pakan yang mandiri, bagaimana bisa menghasilkan induk maupun benih yang berkualitas.

“Meskipun pada awalnya kami (pemerintah) bombing tapi ke depannya diharapkan bisa mandiri, bahkan bisa mengajak atau mengajarkan orang lain cara berbudidaya ikan yang baik dan mandiri. Arah kami ke depan adalah bagaimana mewujudkan kemandirian berbudidaya ikan kepada masyarakat,” kata Tri kepada Wartawan saat melakukan kunjungan di tambak desa Lontar Kecamatan Kemiri, Tangerang, Kamis (26/3) yang merupakan bagian dari acara press tour yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) di wilayah Tangerang dan Serang, Banten, Jawa Barat, 26 – 28 Maret 2015 yang mengangkat tema “Menuju Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing, dan Berkelanjutan”.

Artinya, sambung Tri, pihaknya ingin melihat kelompok-kelompok budidaya ikan yang dibimbing sekarang secara teknis agar bisa mandiri dalam rangka penuhan sarana dan produksi ikan yang ada. Dengan kemandirian itu nantinya akan mewujudkan perikana budidaya yang berdaya saing tinggi. “Indonesia punya potensi perikanan budidaya yang luar biasa, jika ingin berkompetisi di kancah perdagangan international maka kualitas produk harus kompetitif. Oleh karenanya dengan kemandirian itu di harapkan nantinya mampu membawa hasil maupun produk yang berkualitas dan berdaya saing,” imbuhnya.

Untuk menciptakan produk yang berkulitas, lanjut dia lagi, tentu perlu adanya sentuhan dari tekhnologi. Karena tanpa teknologi mustahil hasilnya bisa kompetitif dengan negara lain. “Kalau dari sisi sarana dan produksi saya rasa masyarakat bisa lebih cepat memahami, yang sulit adalah penerapan tekhnologi yang tinggi, disamping high cost tentu membutuhkan waktu yang lama. Makanya untuk masalah tekhnologi akan terus diberikan pendampingan melalui balai maupun UPT yang kami punya,” ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengutarakan hal yang sama dimana memang arah dari kebijakan KKP lebih pada membawa para pembudidaya lebih mandiri. “Kami tidak ingin memanjakan para pembudidaya, tapi kami malah ingin mereka mandiri, meski pun awal-awal kita bantu, tapi ke depan mereka malah harus bisa membantu yang lain. Sebagai contoh kalau di pertanian ada subsidi pupuk, benih, walaupun itu bagus buat petani nasional. Tapi kami menginginkan untuk sektor perikanan membangunnya dengan kemandirian. Kami memang menginginkan pembudidaya bisa mandiri meski pun kami pemerintah tetap memberikan bantuan,” katanya.

Sebagai contoh masalah pakan, pihaknya mencoba untuk bisa bagaimana menekan harga pakan, melalui Gerpari (Gerakan Pakan Mandiri), selain itu juga sudah meminta pada produsen pakan untuk menurunkan harga pakan sekitar Rp 3000 per kilonya. “Ibu Susi sudah meminta produsesn pakan untuk menurunkan harga pakan sebesar Rp 3000 dalam beberapa bulan ke depan secara bertahap, dan itu sangat membantu buat pengurangan cost para pembudidaya. Mengingat cost terbesar di budidaya adalah pakan yang menghabiskan 80 persen dari total cost produksi,” paparnya.

Harapannya dengan kemandirian itu nantinya dapat melatih masyarakat untuk bisa lebih kreatif dalam berbudidaya ikan meskipun masih tetap kami berikan pendampingan. “Dengan kemandirian itu, diharapkan nantinya produksi ikan nasional bisa kompetitif dengan negara lain sehingga mampu menjadi pemain di pasar domestik maupun international,” tandasnya.

Beri Dorongan

Sementara itu menurut Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. (BBPBAP) Jepara, I Made Sumita mengatakan selama ini kontribusi dari balai terhadap para pembudidaya adalah inovator atau mendorong pembudidaya. Dan untuk memenuhi target dan menghasilkan produksi yang lebih baik tentu perlu adanya inovasi. “Memang kami memberikan pendampingan secara intens tapi tidak semuanya bisa kami pegang, makanya pembudidaya juga dituntut punya inovasi dan harus bisa lebih mandiri,” katanya.

Mengingat sampai dengan saat ini, masalah di lapangan adalah minimnya penyuluh perikanan di hampir seluruh daerah. Pada hal berbudidaya ikan diibaratkan sama seperti belajar sepeda, harus dilatih dulu dimaintainance dulu setelah benar-benar bisa baru di lepas. “Berbudidaya ikan itu tidak bisa instan harus terus diberikan pendampingan, bahkan sudah bisa pun tidak mesti harus di lepas. Makanya ke depan harapannya aka nada penambahan penyuluh lagi,” ujarnya.

Sedangkan menurut Kepala Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan (LP2IL) Serang, Toha Tusiadi, mengatakan kunci dari berbudidaya ikan adalah bagaimana menerapkan standar cara berbudidaya ikan dengan benar. Meskipun ke depannya tantangannya terus ada mulai dari penyakit, tingkat strees ikan dan lainnya. Makanya pembudidaya dituntut untuk kreatif, dan bisa belajar sambil berjalan. “Untuk berbudidaya ikan agar hasilnya lebih maksimal, minimal gunakan standar berbudidaya yang benar, teliti, dan tekun,” ujarnya.

Related posts