Penjualan Agung Podomoro Capai Rp 5,2 Triliun

NERACA

Jakarta – Di tahun 2014 lalu, emiten properti PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membukukan penjualan dan pendapatan usaha senilai Rp 5,296 triliun. Pencapaian ini lebih tinggi 8,1% dibanding tahun 2013. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sementara untuk segmen pendapatan berulang, perseroan mencatatkan pertumbuhan 37,1% menjadi Rp 1,375 triliun dari sebelumnya Rp 1,003 triliun. Demikian halnya dengan laba kotor yang meningkat 12,7% menjadi Rp 2,654 triliun dari Rp 2,354 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Begitupula dengan marjin laba kotor yang juga meningkat menjadi 50,1% pada tahun 2014 dari 48,0% pada 2013.

Kata Investor Relation Agung Podomoro Land, Wibisono, perseroan juga meraup laba komprehensif naik 5,8% menjadi sebesar Rp 984,0 miliar, sebelumnya Rp 930,3 miliar. Dirinya menambahkan, untuk laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi sebesar Rp 854,9 miliar. Angka ini sedikit meningkat dari Rp 851,4 miliar pada tahun 2013,”Sebaliknya, marjin laba komprehensif dan marjin laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi 18,6 persen dan 16,1 persen pada tahun 2014 dari 19,0% dan 17,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya," jelas Wibisono.

Hingga saat ini, APLNmemiliki 36 anak usaha, 13 entitas dengan kepemilikan tidak langsung melalui anak usaha, serta 2 entitas asosiasi di bidang properti di Jakarta, Karawang, Bandung, Bali, Balikpapan, Batam, Makassar dan Medan. Dalam sepuluh tahun terakhir, Agung Podomoro telah menyelesaikan lebih dari 50 proyek properti, mayoritas ditujukan untuk segmen masyarakat kelas menengah dengan varian proyek apartemen, pusat belanja, ruko, hotel, dan menara perkantoran.

Tahun ini, perseroan menargetkan marketing sales mencapai Rp 6,5 triliun. Target tersebut terbilang konservatif. Pasalnya, pada 2013 perseroan mencatat marketing sales sebesar Rp 6,35 triliun atau naik 9,4% dari tahun sebelumnya Rp 5,8 triliun,”Kami masih menganggap perolehan tersebut cukup baik. Kondisi ekonomi juga belum terlalu stabil untuk saat ini,” ujar Direktur Keuangan Agung Podomoro, Cesar Dela Cruz.

Kontribusi terbesar total marketing sales pada 2014 berasal dari The Pakubuwono Springs sebanyak 23,3%, disusul Orchard Park Batam 18,1%, Harco Glodok 17%, Podomoro City Extension 13,6%, dan proyek lainnya. Selain itu, rencana perseroan menggarap proyek Pluit City setelah mendapatkan izin reklamasi dari Pemprov DKI Jakarta bakal tertunda. Pasalnya, Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai izin reklamasi tersebut bersifat ilegal.

Alhasil dampak dari hal tersebut, sempat membuat harga saham APLN sempat terkoreksi signifikan. Menurut sejumlah pelaku pasar, tertekannya saham APLN dalam 10 hari perdagangan dipicu sengketa izin reklamasi Pluit City antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pelaku pasar khawatir, investasi raksasa senilai Rp 25 triliun di proyek Pluit City milik Agung Podomoro terkatung-katung akibat tarik menarik dua instansi pemerintah tersebut. Padahal, proses penggarapan megaproyek ini sudah dimulai melalui pembangunan Baywalk Mall atau yang lebih dikenal dengan nama Green Bay di kawasan Pluit, Jakarta Utara. (bani)

Related posts