Indonesia akan Jadi Pusat Produk Halal Dunia

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan tengah membidik pasar produk halal global dan ingin menjadi pusat produk halal dunia. Dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia diharapkan menjadi penyuplai produk halal global. Untuk itu, Kemendag tengah bersiap mengikuti pameran Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) yang akan berlangsung pada 1-4 April 2015 mendatang di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC), Kuala Lumpur, Malaysia.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor nasional (PEN) Nus Nuzulia Ishak menyatakan bahwa populasi masyarakat Muslim yang tersebar di seluruh dunia merupakan potensi pasar yang sangat besar dan menjanjikan. "Indonesia ingin memantapkan diri sebagai salah satu penyuplai utama produk halal di pasar global dan menjadi pusat produk halal dunia,” jelas Nus, di Jakarta (30/3).

Konsumsi produk halal global pada 2018 diprediksi mencapai sekitar USD 1,63 triliun atau 17,4% dari total konsumsi dunia. Hal ini diperkirakan karena konsumen dunia mulai melirik produk halal yang identik dengan produk berkualitas. Mengusung tema Trade with Remarkable Indonesia, Paviliun Indonesia tampil dengan desain spesial dalam area seluas 270 m2 di Hall 2 KLCC. Dijelaskan Nus, Indonesia akan tampil istimewa.

Kemendag menjalin sinergi dengan Kementerian lain serta Pemerintahan Daerah untuk memperkuat pameran produk halal ini. Kemendag menggandeng Kementerian Perindustrian; Kementerian Koperasi dan UKM; Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Pemerintah Kota Bandung; serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau guna menampilkan produk-produk halal terbaik dari 46 perusahaan, seperti makanan olahan, kosmetik, serta produk perawatan tubuh dan kecantikan yang halal.

Untuk meningkatkan pelayanan serta menjaring lebih banyak buyers potensial, Kemendag dan Atase Perdagangan di Kuala Lumpur mengundang buyers mengunjungi Paviliun Indonesia serta menghadiri kegiatan one-on-one business matching pada hari ke-2 pameran. Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga didaulat menjadi pembicara dalam salah satu seminar side event pameran MIHAS 2015.

Surplus Perdagangan

Seperti diketahui, neraca perdagangan Indonesia dengan Malaysia pada Januari 2015 tengah mengalami surplus sebesar USD 69,9 juta. Nilai ini dipicu penurunan impor migas sebesar 35,2% menjadi USD 276,86 juta dan peningkatan 24,82% ekspor nonmigas senilai USD 553,9 juta dibandingkan Januari 2014.

Surplus neraca perdagangan ini memicu Kemendag untuk terus melakukan gebrakan dan terobosan guna meningkatkan ekspor. “Kemendag akan terus gencar mengupayakan peningkatan ekspor ke negara-negara kawasan ASEAN, terutama Malaysia, dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN mendatang melalui kegiatan promosi," tuturnya.

MIHAS merupakan pameran bertaraf internasional yang diklaim sebagai salah satu pameran yang hanya fokus menampilkan produk halal terbesar di kawasan ASEAN yang berhasil menarik lebih dari 20.000 pengunjung dari 70 negara pada penyelenggaraan tahun 2014. Tahun ini Paviliun Indonesia menjadi paviliun terbesar di MIHAS yang diikuti oleh Taiwan, Saudi Arabia, Afrika Selatan, dan Thailand. Pameran ini, kata Nus, penting dilakukan guna mengubah persepsi dunia terhadap produk halal. Upaya seperti ini akan dilakukan secara berkesinambungan.

Aspek halal masuk sebagai salah satu ketentuan mutu pangan secara internasional oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) yang didirikan Organisasi Pangan Dunia (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 1997. Sejak itu, produk halal semakin diminati konsumen dunia, baik Muslim maupun non-Muslim.

Produk halal adalah produk yang diproduksi sesuai hukum syariah. Produk halal bermakna baik, yang mencakup keselamatan, kesehatan, lingkungan, keadilan, serta keseimbangan alam. Untuk itu, produk halal, terutama makanan, mendapatkan jaminan keselamatan dan kesehatan sehingga diakui dunia, setidaknya di negara-negara Muslim.

Permintaan terhadap produk halal di dunia diperkirakan semakin meningkat. Tidak hanya makanan, konsumen pun menginginkan produk kometik hingga produk farmasi ynag halal untuk mereka. Permintaan terhadap ketiga kategori ini begitu tinggi. Thomson Reuters (2015) memperkirakan pada tahun 2019 pasar makanan halal bernilai US$ 2,537 miliar (21% dari pengeluaran global), pasar kosmetik halal menjadi US$ 73 miliar (6,78% dari pengeluaran global), dan kebutuhan personal yang halal yaitu US$ 103 miliar (6,6% dari pengeluaran global).

Related posts