Beban Masyarakat Kian Bertambah Tinggi - Haga BBM Kembali Naik

NERACA

Jakarta – Direktur Indef Enny Sri Hartarti menilai bahwa harga bahan bakar minyak bersubsidi yang kembali naik akan menambah biaya hidup masyarakat. "Fluktuasi harga BBM bersubsidi mengakibatkan harga kebutuhan pokok sulit turun. Jadi, meski harga BBM turun seperti bulan Februari, harga kebutuhan pokok tidak ikut turun. Tetapi kalau harga BBM naik lagi otomatis harga-harga kebutuhan pokok serempak ikut naik. Inilah yang menjadi beban masyarakat bertambah,” katanya kepada Neraca, di Jakarta, Minggu (29/3), pekan lalu.

Padahal, lanjut Enny, jika memang pemerintah ingin menstabilkan ekonomi maka arah kebijakannya harus konsisten dan stabil. Tapi jika harga BBM saja fluktuatif, ekonomi juga sulit untuk stabil. “Imbas BBM besar terhadap masyarakat, karena ini akan mempengaruhi harga-harga. Jika terus fluktuatif stbilitas ekonomi atau bahkan yang lain seperti inflasi juga sulit akan naik turun terus,” terang dia.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi mengatakan, jika sekarang dihantam dengan kenaikan harga BBM lagi, daya beli masyarakat akan lebih parah lagi. Artinya, inflasinya bisa lebih tinggi dan membuat masyarakat yang menengah yang tidak miskin bisa menjadi jatuh miskin. “Seharusnya pemerintah mempunyai hitung-hitungan agar tidak hanya merujuk pada kenaikan harga minyak mentah dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah dalam satu bulan terakhir,” katanya.

Dalam pandangannya, saat ini kebijakan pemerintah seperti dalam menaikkan harga elpiji dan tarif dasar listrik hanya merujuk pada harga pasar tanpa mempertimbangkan faktor lain. ”Di mana fungsi negara jika hanya bisa menaikkan harga, tetapi tidak bisa mencari jalan keluar? Presiden harus mencari solusi yang lebih cerdas. Bukan cuma soal menaikkan saja. Kalau cuma menaikkan saja, itu tidak perlu seorang presiden, tidak perlu kabinet yang kuat,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat ekonomi Aviliani mengingatkan pemerintah agar memperhatikan harga pangan yang sangat rentan terpengaruh kenaikan harga BBM. Menurut dia, ada 150 juta orang yang sangat terpengaruh atas naik-turunnya harga pangan. Jika harga barang terus naik dan inflasi buruk, hal itu akan memengaruhi daya beli masyarakat dan bisa menciptakan angka kemiskinan baru. ”Saat ini mereka belum merasakan, daya beli masyarakat masih mampu. Tapi kalau harga BBM naik dan rupiah terus melemah, bisa berbahaya,” ujarnya.

Menurut Aviliani, pemerintah pusat sebaiknya memberikan kepercayaan kepada pemerintah daerah atau provinsi untuk mengevaluasi dan menjaga harga-harga. Alasannya, pemerintah daerah sudah memiliki instrumen yang disebut Tim Pengendali Harga.

Sayangnya, pemerintah belum mau memberikan anggaran kepada tim tersebut. Padahal, daerah sudah mengusulkan anggarannya sebesar Rp1 triliun/ tahun. ”Daripada subsidi BBM yang mencapai Rp290 triliun/ tahunlebihbaikdiberikankepada 36 provinsi jadi Rp36 triliun untuk menjaga stok, produksi, dan menentukan impor-tidak impor supaya tidak over-supply. Kalau ada apa-apa tinggal diminta tanggung jawabnya,” ucapnya.

Sedangkan menurut, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan harga BBM memang akan tetap dinamis karena disesuaikan dengan harga minyak dunia dan nilai rupiah. "Seperti saya katakan ada dua sebabnya itu naik. Karena minyak dunia dan kalau rupiah melemah," ujar JK.

JK tidak dapat memastikan kemungkinan perubahan harga BBM yang telah naik saat ini. Selama harga minyak dunia terus berubah, kata dia, Indonesia akan tetap mengikutinya. "Masalahnya rupiah melemah sehingga dalam ukuran rupiah, (BBM) lebih mahal," sambungnya.

Seperti diketahui, pemerintah resmi memutuskan harga BBM jenis bensin premium RON 88 di wilayah penugasan luar Jawa-Madura-Bali dan jenis minyak solar subsidi perlu mengalami kenaikan harga. Masing-masing sebesar Rp500 per liter. Untuk wilayah penugasan Jawa Madura Bali harga BBM Premium naik dari Rp6.900 menjadi Rp7.400. Sedangkan untuk solar naik dari Rp6.400 menjadi Rp6.900. Sementara itu untuk wilayah penugasan luar Jawa Madura Bali, harga Premium naik dari Rp6.800 menjadi Rp7.300. Sedangkan harga solar sama dengan area jawa, Rp6.900/liter. [agus]

Related posts