Diperlukan Pelajaran Tentang Manusia - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Sesuai dengan kurikulum yang dikembangkan, para siswa diajari tentang biologi, kimia, fisika, sosiologi, psikologi, sejarah, dan lain-lain. Akan tetapi, pernahkah dipikirkan, kapan para siswa juga diajari tentang dirinya sendiri. Mungkin selama ini dianggap bahwa para siswa telah mengerti tentang dirinya sendiri itu, sehingga tidak perlu diajarkan.

Memang ketika para siswa belajar tentang biologi, psikologi, sosiologi,dan sejenisnya sudah menyangkut kehidupan manusia. Akan tetapi sudah barang tentu, keterangan tentang manusia itu tidak diberikan secara utuh. Atau juga mungkin, selama ini dianggap bahwa sebagai manusia telah mengerti tentang dirinya sendiri. Padahal kenyataannya tidak semua orang berhasil mengetahui tentang dirinya sendiri itu.

Secara ilmiah tidak gampang mengetahui tentang manusia secara utuh dan apalagi menyeluruh. Banyak teori yang membahas tentang manusia, tetapi tidak pernah sampai pada kesimpulan yang dipercaya oleh semua orang. Teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin misalnya, tidak akan mudah dipercaya oleh para agamawan. Sebab, Islam misalnya, melalui kitab suci al Qur'an, mengemukakan secara jelas tentang asal usul manusia itu, ialah diawali oleh Adam dan Hawa.

Manusia dalam al Qur'an, bukan merupakan satu-satunya makhluk ciptaan Allah. Selain itu, telah diciptakan terlebih dahulu makhluk lain, yaitu malaikat dan iblis. Bahkan di dalam al Qur'an dikemukakan kisah menarik, yaitu dialog antara Tuhan dan malaikat tentang rencana penciptaan manusia. Dalam dialog itu, malaikat sebenarnya mempertanyakan rencana penciptaan itu, oleh karena diketahui bahwa manusia akan membuat kerusakan di muka bumi dan melakukan pertumpahan darah.

Oleh karena sumbernya adalah kitab suci, yakni al Qur'an, maka bagi kaum muslimin mempercayai kebenaran kisah itu adalah keharusan. Dalam al Qur'an pula juga dijelaskan tentang sejarah kehidupan manusia pertama itu, dan kemudian hingga beranak pinak. Dalam sejarahnya kemudian, manusia menyebar ke seluruh penjuru dunia. Di antara mereka ada manusia pilihan yang bertugas menyebarkan kebaikan dan melarang berbuat buruk. Sebaliknya, ada orang-orang yang membangkang, sombong, dan membuat kerusakan, bahkan nama-nama mereka juga diabadikan di dalam kitab suci.

Dalam sejarah manusia, juga disebutkan nama orang-orang pilihan yang diangkat oleh Tuhan sebagai rasul, yaitu Adam, Idris, Nuh, Hud, Shaleh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya, hingga nabi Muhammad saw. Nama-nama tersebut dapat ditemukan di kitab suci al Qur'an. Selain para nabi dan para rasul, juga dikenal terdapat orang-orang yang dimuliakan, yaitu orang-orang yang dekat dengan para nabi, para wali, dan lain-lain.

Melalui kitab suci al Qur'an pula juga dijelaskan tentang berbagai karakteristik manusia. Disebutkan bahwa sikap manusia terhadap kebenaran dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu muttakien, kafirien, dan munafiqien. Selain itu disebutkan pula bahwa, manusia memiliki kharasteristik, misalnya selalu berkeluh kesah, tergesa-gesa, tidak sabar, suka bertanya, tidak pandai bersyukur, melampaui batas, dan lain-lain.

Selain menyandang kharasteristik tersebut, manusia juga dikenal sebagai makhluk yang selalu mengikuti hawa nafsu, mencintai keturunan, emas, perak, ternak, dan berbagai jenis harta kekayaan lainnya. Manusia adalah makluk yang diciptakan dalam bentuk dan atau rupa yang sebaik-baiknya, tetapi kemudian dikembalikan pada keadaan yang seburuk-buruknya, kecuali merekla yang beriman dan beramal shaleh. Juga diterangkan bahwa, oleh karena perilakunya itu, manusia akhirnya menjadi seperti binatang, dan bahkan lebih buruk lagi.

Maka, melalui pendidikan seharusnya manusia berhasil mengenal tentang dirinya atau yakni tentang manusia sendiri. Pelajaran tentang siapa sebenarnya manusia itu ternyata belum banyak memperoleh perhatian. Orang telah merasakan betapa pentingnya pengetahuan biologi, fisika, kimia, psikologi, sosiologi, sejarah, dan bahkan kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang, akan tetapi sayangnya, mereka tidak banyak diperkenalkan tentang diri manusia sendiri. Akibatnya, banyak manusia yang tidak tahu diri, sehingga mereka berbuat tanpa batas.

Oleh karena itu, jika pada akhir-akhir ini, banyak orang mulai gelisah tentang semakin rendahnya karakter, watak, dan juga akhlak terpuji, maka di antara sebabnya adalah manusia sudah tidak mengetahui tentang dirinya sendiri itu. Sebagai orang yang tidak tahu diri, maka perbuatannya akan berlebih-lebihan atau melampaui batas. Perilaku itu terbentuk dari pendidikan yang belum secara cukup memberikan pengetahuan tentang siapa sebenarnya manusia itu. Akibatnya, mereka berhasil mengetahui tentang banyak hal, tetapi ternyata masih gagal memahami tentang dirinya sendiri. (uin-malang.ac.id)

Related posts