Bensin Petronas Lebih Murah Ketimbang Pertamax

NERACA

Jakarta - Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Petronas menaikkan harga jual BBM non subsidi mereka. Per 17 September 2011 kemarin, Petronas menaikkan harga BBM Jenis Primax 92 sebesar Rp 300 sehingga harga Primax 92 menjadi sebesar Rp 8.600 per liter. "Harga BBM Petronas mulai 17 September. Tapi untuk Diesel harga masih tetap Rp 9.200," kata Ketua Umum Dealer Petronas Service Station, Jino Sugianto kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/9)

Berdasarkan pantauan lapangan, harga jual BBM Petronas ini masih lebih rendah dari PT Pertamina dengan Pertamax seharga Rp 8.650 per liter dan Shell yang sebesar Rp 8.700 per liter serta Total yang seharga Rp 8.650 per liter.

Sementara itu, Pertamax Cs pun terlihat sepi peminat. Sejauh ini, harga Pertamax untuk wilayah DKI Jakarta ada di posisi Rp 8.650 per liter, terjadi kenaikan Rp 350 sejak 16 September 2011 lalu Rp 8.300 per liter.

Kepala SPBU di bilangan jalan raya Buncit, Masda, mengatakan sampai saat ini Premium sebagai BBM Bersubsidi tetap diburu konsumen, bahkan sampai kendaraan roda empat yang mewah sekalipun. "Ini (Pertamax) masih mahal. Banyak mobil mewah yang pakai Premium di sini," katanya

Dirinya juga menambahkan, meskipun pemerintah sudah melakukan sosialisasi berupa himbauan agar masyarakat yang dirasa mampu untuk membeli Pertamax, tetap saja hal tersebut tidak berlaku. "Itu bisa berlaku, kalau pemerintah betul-betul membatasi Premium, atau dinaikkan saja Premiumnya. Jadi ada yang pindah ke Pertamax," terangnya.

Bahkan, sebanyak 8.000 liter stok Pertamax di SPBU-nya bisa bertahan hingga seminggu penjualan. Berbeda dengan stok Premium yang dimilikinya sebanyak 16.000 liter bisa habis sampai 2 hari. Atau stok Solar sebanyak 8.000 liter yang juga habis dalam 2 hari.

"Saya saja isi Pertamax buat di tangki timbun sebanyak 8.000 sampai seminggu belum habis. Kalau dijual dengan harga segitu gimana mau laku," timpal Masda.

Sampai saat ini harga Pertamax Cs masih dinilai sangat mahal. Disparitas antara Pertamax dan Premium masih melebar. Sehingga masyarakat cenderung memilih membeli Premium yang seharga Rp 4.500 per liter.

Pemerintah hingga saat ini belum melakukan tindakan kongkrit seperti misalnya menjalankan kebijakan pembatasan BBM Bersubsidi atau menaikkan harga Premium. Oleh karena itu, konsumsi BBM Bersubsidi sampai saat ini sudah melebihi 50% dari kuota yang ditetapkan dalam APBN-P 2011.

Sedangkan, competitor Pertamina, asal Prancis, PT Oil Indonesia (Total), juga sudah menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) di SPBU miliknya. Rata-rata kenaikannya sekitar Rp 100-300 per liter. "Perubahan harga di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Total, per 16 September efektif pukul 22.00 WIB," Brand and Communication PT Total Oil Indonesia Rulianti Syahrul kepada wartawan di Jakarta. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pacu Penjualan Rumah Murah - Hanson Bidik Dana Rights Issue Rp 8,78 Triliun

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna menggenjot pertumbuhan bisnis penjualan rumah murah, PT Hanson International Tbk (MYRX) bakal menggalang pendanaan…

Wakil Ketua MPR RI - Pemilu Ajang Kompetisi Hadirkan Indonesia Lebih Baik

Hidayat Nur Wahid Wakil Ketua MPR RI Pemilu Ajang Kompetisi Hadirkan Indonesia Lebih Baik Surabaya - Wakil Ketua MPR RI…

Buka Bazar Murah Perindo Serentak Se-Indonesia, Hary Tanoe: 400.000 Kilogram Beras Murah Ini untuk Rakyat

JAKARTA, Partai Perindo menggelar Bazar Murah Serentak Nasional di seluruh Indonesia dengan total 400.000 kilogram beras. "Hari ini, ada bazar…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bank Dunia Proyeksikan Perlambatan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

      NERACA   Jakarta - Laporan terbaru Bank Dunia memproyeksikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia…

Pelabuhan Sebagai Pintu Gerbang Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Sebagai Negara kepulauan, Indonesia menyimpan potensi besar terlebih letaknya yang strategis karena berada di…

Kinerja Penerimaan Pajak Triwulan I Dalam Batas Wajar

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai kinerja penerimaan pajak dalam…