Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina

Di tengah turbulensi perekonomian dunia, Indonesia menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi agar target-target pembangunan ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan peningkatan pendapatan serta daya beli masyarakat tetap meningkat. Sementara di sisi lain, upaya mendorong pertumbuhan ekonomi perlu disertai dengan stabilisasi perekonomian nasional agar tidak menciptakan lonjakan impor yang tinggi, membesarnya defisit transaksi perdagangan dan neraca berjalan, serta menjaga makro ekonomi tetap kondusif. Saya melihat kedua hal tersebut bukanlah trade-off atau pilihan tetapi dapat dilakukan secara bersamaan.

Untuk menciptakan keseimbangan, equilibrium, antara keduanya membutuhkan koordinasi dan komunikasi antara otoritas baik moneter, fiskal maupun sektor riil. Harmonisasi kebijakan suku bunga dengan upaya mendorong sector riil perlu terus kita tingkatkan. Terlebih, BI akan mendapatkan tekanan untuk menyesuaikan suku bunga ke atas seiring dengan semakin meningkatnya ekspektasi dan prediksi peningkatan suku bunga di Amerika Serikat. Naiknya sukubunga BI Rate di satu sisi menjadi instrumen mengurangi risiko capital-outflow akibat penyesuaian suku bunga di AS, namun di sisi lain akan meningkatkan risiko tidak tercapainya pertumbuhan ekonomi yang di patok di APBNP-2015 sebesar 5,7%.

Oleh karenanya, pertumbuhan ekonomi perlu didorong agar memiliki dampak pengganda (multiplier effect) yang cukup besar terhadap penyerapan tenaga kerja, pengentasan kemiskinan, distribusi pendapatan yang semakin merata dan indikator pembangunan lainnya.

Selama pertumbuhan ekonomi tidak menciptakan kondisi overheating, ledakan impor, defisit neraca perdagangan dan neraca pembayaran, serta meningkatnya rasio utang/PDB dalam tingkat belum mengkhawatirkan, maka dapat kita katakan titik keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilisasi perekonomian telah tercipta. Jadi dalam hal ini bukan angka absolut atas pertumbuhan ekonomi saja tetapi juga perlu dilihat kesehatan dan daya tahan perekonomian nasional.

Upaya stabilisasi dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi telah kita lakukan sepanjang tahun 2013-2014. Pada saat itu, Indonesia menghadapi persoalan defisit neraca perdagangan yang membesar. Defisit ini membuat nilai tukar rupiah mengalami tekanan serta menggerus cadangan devisa nasional. Sehingga upaya stabilisasi perekonomian nasional dilakukan oleh BI menggunakan sejumlah instrumen baik suku bunga maupun non suku-bunga (mis. LTV). Dan pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2014 sebesar 5,1% di bawah target APBNP-2014 sebesar 5,5%.

Namun begitu, meski realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 di bawah target, secara fundamental dan makro ekonomi dapat tetap terjaga. Hal yang sama juga kita harapkan saat ini ketika perekonomian Indonesia berada dalam tekanan ketidakpastian penyesuaian suku bunga di AS, melemahnya permintaan dan harga komoditas ekspor Indonesia, serta risiko meningkatnya kembali harga minyak mentah dunia. Koordinasi kebijakan baik di sektor moneter, fiskal dan sektor riil menjadi key-success factor untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi dengan tanpa membahayakan perekonomian nasional.

Related posts