Akhir Pekan, IHSG Rawan Profit Taking

NERACA

Jakarta – Kesekian kalinya, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) seharian kembali tertekan dan berada di zona merah akibat aksi jual investor. IHSG ditutup melemah 36,689 poin (0,68%) ke level 5.368,800. Sementara Indeks LQ45 ditutup turun 7,359 poin (0,78%) ke level 932,014,”Potensi penguatan IHSG masih terhambat seiring berlanjutnya aksi jual dari pelaku pasar asing. Fluktuasi indeks BEI cukup bervariasi dimana aksi jual dan beli terus beradu," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (26/3).

Dia menambahkan, laju bursa saham regional yang cenderung negatif dan laju mata uang rupiah yang terdepresiasi terhadap dolar AS menambah sentimen negatif di bursa saham Indonesia. Analis HD Capital Yuganur Wijanarko menilai, koreksi IHSG masih cenderung terbatas dan belum mengubah tren jangka menengah yang masih relatif positif,”Saat ini kami melihat, IHSG masih akan kembali mengalami pergerakan yang mendatar,”paparnya.

Berikutnya, indeks BEI Jum’at akhir pekan diproyeksikan masih bertahan di zona merah seiring belum redanya aksi ambil untung. Pada perdagangan kemarin, tansaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 327,798 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 241.637 kali dengan volume 6,433 miliar lembar saham senilai Rp 6,485 triliun. Sebanyak 83 saham naik, 201 turun, dan 89 saham stagnan.

Bursa-bursa regional menutup perdagangan sore dengan mixed. Bursa saham China dan Singapura bertahan di teritori positif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Bank of India (BSWD) naik Rp 760 ke Rp 4.650, Metropolitan Kentjana naik Rp 400 ke Rp 14.400, Saratoga (SRTG) naik Rp 250 ke Rp 4.900, dan Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 125 ke Rp 13.000. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.600 ke Rp 48.100, Inti Agri (IIKP) turun Rp 595 ke Rp 1.850, Unilever (UNVR) turun Rp 325 ke Rp 38.500, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 300 ke Rp 23.200.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup menipis 5,638 poin (0,10%) ke level 5.399,851. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 0,161 poin (0,02%) ke level 939,534. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi beli investor domestik. Aksi beli ini lumayan bisa mengurangi koreksi IHSG.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 132.254 kali dengan volume 2,931 miliar lembar saham senilai Rp 3,026 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 159 turun, dan 80 saham stagnan. Bursa-bursa regional akhirnya banyak yang balik arah ke zona hijau. Tapi pasar saham Jepang dan Bursa Efek Indonesia (BEI) masih ketinggalan di zona merah.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Bank of India (BSWD) naik Rp 965 ke Rp 4.855, Matahari (LPPF) naik Rp 375 ke Rp 18.575, Metropolitan Kentjana naik Rp 250 ke Rp 14.250, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 250 ke Rp 10.500. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 875 ke Rp 48.825, Mayora (MYOR) turun Rp 325 ke Rp 28.675, Mitra Keluarga (MIKA) turun Rp 200 ke Rp 22.200, dan Sarana Menara (TOWR) turun Rp 190 ke Rp 3.810.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka turun 24,46 poin atau 0,45% menjadi 5.381,02, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak melemah 6,21 poin (0,66%) menjadi 933,15,”Koreksi yang terjadi pada bursa regional berdampak negatif bagi pergerakan indeks saham di bursa Indonesia," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Dia menambahkan bahwa tampaknya rilis data-data positif AS tidak memberikan sentimen positif pada laju bursa saham, pelaku pasar mempersepsikan akan adanya potensi kenaikan suku bunga the Fed sehingga memicu aksi lepas saham. Dari sisi teknikal, lanjut dia, belum memperlihatkan adanya tanda-tanda untuk bergerak naik, namun tekanannya cenderung mulai terbatas sehingga terbuka peluang untuk IHSG BEI bergerak ke dalam area positif.

Head of Research Valbury Asia Securities Alfiansyah menambahkan, kebijakan pemerintah yang merencanakan untuk menurunkan batas bawah harga minyak sawit mentah (CPO) tidak terkena biaya keluar dari sebelumnya US$ 750 per ton menjadi US$ 500-600 per ton bisa berdampak pada kinerja saham sektor CPO,”Tekanan akibat pelemahan indeks regional dan juga kajian pemerintah tentang bea keluar CPO akan mempengaruhi kinerja IHSG BEI Kamis," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 57,93 poin (0,24%) ke 24.470,30, indeks Bursa Nikkei turun 319,07 poin (1,62%) ke 19.427,13, dan Straits Times menguat 1,79 poin (0,06%) ke posisi 3.420,23. (bani)

BERITA TERKAIT

Laju IHSG Awal Pekan Terkoreksi 0,65%

Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/7) awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah…

Bagian Hukum Setda Sukabumi Targetkan Akhir Tahun Penyuluhan Perda Tuntas

Bagian Hukum Setda Sukabumi Targetkan Akhir Tahun Penyuluhan Perda Tuntas NERACA Sukabumi - Bagian Hukum setda Kota Sukabumi menargetkan, semua…

Sentimen Bursa Asia Kerek Penguatan IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 14,51 poin menjadi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…