Saatnya Sektor Syariah Bangkit

Oleh : Agus Yuliawan

Pemerhati Ekonomi Syariah

Situasi ekonomi bangsa saat ini sedang mengalami krisis, dimana nilai tukar rupiah terpuruk terhadap mata uang dollar yang menembus Rp 13.000 per US$. Tingginya nilai tukar tersebut menjadikan kalang kabut semua pelaku bisnis di tanah air ini. Lebih-lebih kepada para pelaku usaha yang selama ini menggantungkan bahan baku dari impor akan mengalami kesulitasn dengan naiknya fluktuasi nilai tukar uang tersebut. Apabila kondisi ini tidak bisa berubah sama sekali, maka akan berpengaruh besar terhadap fundamental ekonomi bangsa seperti yang terjadi pada krisis beberapa tahun sebelumnya.

Melihat realitas ini, sudah saatnya tidak harus disikapi dengan ratapan kesedihan atau kemarahan kepada berbagai pihak khususnya pemerintah yang dianggap sangat lamban mengambil sikap. Tapi bagaimana memandang situasi ini menjadi langkah awal yang positif untuk memajukan ekonomi nasional.

Perlu disadari—ketidak seimbangnya neraca perdagangan ekspor dan impor merupakan salah satu pemicu dari lemahnya nilai tukar rupiah. Lemahnya ekspor di Indonesia tak lepas dari dorongan pelaku usaha di Indonesia untuk menggerakkan sektor riil sangat lemah dibandingkan sektor konsumtif yang ada selama ini. Realitas inilah yang harus dijawab oleh berbagai pihak khususnya para pelaku stakeholder bagaimana agar sektor riil bisa bergerak dengan cepat dan mendorong keseimbangan neraca perdagangan nasional.

Disinilah peluang ekonomi syariah untuk bangkit dan berperan besar dalam situasi krisis yang terjadi saat ini. Perlu diketahui, sistem ekonomi syariah lebih condong pada pemberdayaan sektor riil. Apalagi melihat realitasnya perilaku ekonomi masyarakat Indonesia adalah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) jelas merupakan sektor riil yang produktif. Sektor riil ini bisa tahan banting terhadap krisis keuangan global. Jika sektor tersebut diterapkan ke depan, Indonesia tidak akan mengalami krisis keuangan. Lantas yang menjadi pertanyaanya, sejauh mana ekonomi syariah masuk di sektor riil selama ini ?

Perlu diketahui pengembangan ekonomisyariahdi Indonesia hingga saat ini sebatas pengembangan lembaga keuangan saja seperti perbankan dan lembaga non bank (asuransi, multifinance, pasar modal dan lembaga keuangan mikro). Selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir, presentasi pertumbuhan aset lembaga keuangansyariahjauh melebihi pertumbuhan lembaga keuangan konvensional.

Sementarasektorriilsyariahyang ada dimasyarakat belum berkembang banyak,hal ini disebabkan karena pemahaman ekonomisyariahdi Indonesia sebatas lembaga keuangan. Padahal menumbuhkan sektor riil syariahharus didukung oleh banyak stakeholder, termasuk lembaga keuangan syariah. Sektorindustririilsyariahini meliputi kuliner, perhotelan, wisata, kosmetik, obat-obatan dan lain-lain.

Dengan demikian pengembangan sekorriilsyariahmenjadi penting bagisektorkeuangansyariah karena keduanya mempunyai ketergantungan satu sama lain. Maka sudah saatnya pemahaman ekonomi syariah dikembalikan pada esensinya yaitu mendorong sektor riil untuk bergerak. Maka akad – akad syariah seperti musyarakah, mudharabah terus didorong untuk lebih maju daripada akad murabahah yang cenderung konsumtif.

Related posts