Inovasi Produk Keuangan Syariah Butuh Keselarasan Hukum

NERACA

Jakarta - Potensi Indonesia untuk menjadi pusat lembaga keuangan syariah (LKS) global sangat besar sekali, hal ini tidak lepas dari segmentasi pasar yang sangat luas. Namun demikian untuk mewujudkannya, banyak persoalan yang harus diselesaikan diantaranya adalah inovasi produk keuangan syariah. Disinyalir lambannya inovasi produk keuangan syariah menyebabkan salah satu faktor penghambat LKS untuk maju.

Direktur Eksekuti Islamic Banking and Finance Institute Trisakti, Muhamad Nadratuzzaman Hosen mengatakan, lambannya inovasi produk LKS disebabkan oleh tidak adanya keinginan dari industri keuangan syariah itu sendiri untuk berinovasi. Hal itu terjadi karena ketidakselarasan dan ketidakharmonisan antara hukum syariah dan hukum perdata.

“Misalnya dalam hukum syariah, kita mengenal adanyawa’d(janji). Akan tetapi dalam hukum perdata tidak mengenalnya. Untuk itu masalah ketidakharmonisan antara hukum syariah dengan hukum perdata ini perlu dianalisis lebih mendalam agar ke depannya kepastian hukum yang ada dapat mendukung bisnis keuangan syariah,” kata Nadratuzzaman, di Jakarta, Rabu (25/3).

Untuk membangun inovasi produk, dirinya menambahkan, berbagai pihak terkait harus bersinergi. Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan sebagai regulator perlu memperhatikan perkembangan produk-produk keuangan syariah. Kedua lembaga tersebut juga harus memberikan ruang inovasi dan pengembangan produk keuangan syariah.

Nadratuzzaman memberi contoh bahwa saat ini fasilitas likuiditas seperti komoditas syariah masih belum mendapat dukungan regulator. Padahal di Malaysia, komoditas syariah sudah dijadikan alternatif dalam memperoleh fasilitas likuiditas.

Hal terpenting yang dapat menjadi faktor utama pendorong inovasi produk-produk keuangan syariah adalah dengan adanya koordinasi antara DSN-MUI dan regulator. "Dengan adanya koordinasi tersebut, diharapkan akan terjadi harmonisasi antara hukum syariah dengan hukum perdata,” tandasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Bank Syariah Mandiri Siapkan IPO di 2019 - Dinilai Momentum Tepat

NERACA Jakarta – Menyusul beberapa bank syariah yang sudah go public atau mencatatkan sahamnya di pasar modal lewat penawaran umum…

Asuransi Syariah Petani

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Selain sebagai negara bahari Indonesia dikenal sebagai negara agraris yaitu pertanian. Maka otomatis…

Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar - Luncurkan Dua Produk Dinfra

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…