Blue Bird Bukukan Laba Bersih Rp 735,1 Miliar

NERACA

Jakarta – Emiten jasa transportasi darat atau taksi, PT Blue Bird Tbk membukukan laba bersih sebesar Rp 735,1 miliar pada 2014 atau naik tipis 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 707,5 miliar. Sementara itu, pendapatan bersih tercatat senilai Rp 4,7 triliun atau tumbuh 21,3% dibandingkan 2013 sebesar Rp 3,9 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (25/3).

Disebutkan, beban langsung perseroan meningkat 27,7% menjadi Rp 3,3 triliun dari sebelumnya Rp 2,5 triliun. Adapun laba usaha menembus Rp 1 triliun atau naik 6,3% dibandingkan 2013 sekitar Rp 989,9 miliar. Lebih jauh,Manajemen Blue Bird mengungkapkan, total aset perseroan melonjak 43,1% dari Rp 5 triliun menjadi Rp 7,1 triliun. Lonjakan ini berasal dari total aset lancar yang meningkat hampir dua kali lipat menjadi Rp 1,2 triliun.

Selain itu, perseroan mencatat kas dan setara kas naik menjadi Rp 950,9 miliar dibandingkan 2013 senilai Rp 267 miliar. Sementara itu, total ekuitas juga ikut melesat menjadi Rp 3,6 triliun dibandingkan 2013 sebesar Rp 1,2 triliun. Di sisi lain, total liabilitas menurun 6,2%, dari Rp 3,8 triliun menjadi Rp 3,5 triliun.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 2,7 triliun. Dimana sebanyak 40% capex akan berasal dari hasil IPO, sementara sisanya merupakan kombinasi dari fasilitas pinjaman yang telah di miliki dan cash flow. Sesuai rencana, dana capex akan digunakan untuk menambah jumlah armada. Blue Bird akan merealisasikan 7.504 izin taksi reguler selama 2015-2016.

Selain itu, perseroan juga mengantongi 68 izin taksi eksekutif. Perseroan juga berencana membangun sejumlah depo dengan investasi Rp 390-400 miliar. Selama 2009-2013, Blue Bird menambah rata-rata 4.526 unit taksi reguler baru dan delapan pool setiap tahun. Pada tahun ini, perusahaan telah memesan 2.900 taksi reguler dan 975 unit di antaranya sudah tiba.

Asal tahu saja, PT Blue Bird listing di Bursa Efek Indonesia pada November 2014. Dimana dalam perjalanan penawaran saham perdananya, perseroan sempat menurunkan target perolehan dana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) menjadi Rp 2,48 triliun (US$ 200 juta) dari target awal sebesar Rp 3,7 triliun (US$ 307 juta). Dijelaskannya, penurunan target perolehan dana IPO seiring dengan kebijakan perseroan menurunkan jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO menjadi 376,5 juta lembar saham di harga Rp 6.500 dari rencana sebelumnya sebesar 397,9 juta lembar saham hingga 513,9 juta lembar saham pada kisaran harga Rp 7.200 hingga Rp 9.300,”Kami telah mencapai kesepakatan harga, respon permintaan tidak sebesar yang kami harapkan sebelumnya, tapi kami yakin ini masih on the track,"kata Direktur Utama PT Danareksa Sekuritas, Marciano Herman selaku penjamin emisi. (bani)

Related posts