Gunawan Dianjaya Steel Rugi Rp 13,94 Miliar - Imbas Lesunya Harga Baja

NERACA

Jakarta – Masih melempemnya harga baja dunia memberikan dampak berarti terhadap penjualan industri baja di dalam negeri yang membukukan rugi, salah satunya PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) sepanjang tahun 2014 mengalami penurunan pada penjualan bersih. Disebutkan, masih cukup tingginya beban yang ditanggung perseroan sepanjang tahun 2014 lalu membuat perseroan mengalami kerugian di periode tersebut.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, disebutkan dalam setahun, GDST mencatat penjualan bersih sebesar Rp1,21 triliun di 2014, sementara di periode yang sama tahun 2013 penjualan bersih perseroan mencapai Rp1,41 triliun.

Beban pokok penjualan sepanjang 2014 mencapai Rp1,15 triliun, sedangkan di 2013 tercatat sebesar Rp1,19 triliun. Hal ini membuat laba kotor di tahun 2014 merosot tajam menjadi Rp61,89 miliar dari sebelumnya Rp215,03 miliar di 2013. Sementara masih tingginya beban usaha di tahun 2014 yang mencapai Rp91,90 miliar membuat perseroan mengalami rugi sebelum pajak sebesar Rp18,92 miliar dan rugi tahun berjalan sebesar Rp13,94 miliar.

Meski kinerja keuangan terlihat kurang baik, namun untuk total aset justru sebaliknya. Sampai dengan akhir tahun 2014, total aset GDST meningkat menjadi Rp1,35 triliun dibanding dengan total aset pada akhir tahun 2013 yang tercatat sebesar Rp1,19 triliun.

Sebagai informasi, industri baja nasional tahun ini diperkirakan masih tertekan, seiring belum membaiknya pasar baja dunia. Hingga kini, kelebihan pasokan (oversupply) masih menimpa industri baja dunia, karena perlambatan ekonomi Tiongkok.

Oversupply bahkan kini sudah masuk tahap yang kronis, sehingga memukul harga baja dunia. Imbasnya, beberapa perusahaan baja besar dunia merugi. Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (USIA) Hidajat Triseputro pernah bilang, pemulihan pasar dan harga baja dunia diperkirakan membutuhkan waktu lama. Semua tergantung pada pemulihan ekonomi Tiongkok.

Dalam pandangan dia, perlambatan ekonomi Tiongkok membuat permintaan baja dunia melemah. Sebab, kapasitas produksi industri baja Tiongkok mencapai 50% dari total kapasitas dunia. Tak ayal lagi, harga baja terpuruk. Di tengah situasi itu, menurut Hidajat, pemain baja Tiongkok mencari pasar baru untuk melempar kelebihan produksi. Di sinilah muncul praktik membanting harga jual alias dumping. Salah satu pasar yang dibidik Indonesia,”Korea Selatan juga dalam situasi tertekan karena laju impor baja murah dan masuk kategori dumping," kata Hidajat.

Sementara tahun ini, kebutuhan logam besi baja di dalam negeri diperkirakan mencapai 13 juta ton. Sementara pemenuhan permintaan tahun lalu dari industri domestik belum 100%. Direktur Industri Material Logam Dasar Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Irmawan mengatakan, tren permintaan logam besi baja terus meningkat.

Pada 2015, kebutuhannya sangat dipengaruhi kebijakan kabinet baru terhadap akselerasi proyek infrastruktur. Prognosis permintaan sejumlah 13 juta ton pada tahun 2015 menunjukkan adanya pertumbuhan sekitar 8,3% terhadap target tahun lalu. (bani)

Related posts