Toyota Janjikan Ekspor Kendaraan Tiga Kali Lipat - Otomotif

NERACA

Jakarta – Dalam kunjungannya ke perusahaan otomotif asal Jepang, Toyota Motor, Presiden Joko Widodo dijanjikan Toyota untuk mengeskpor lebih banyak lagi produk otomotifnya. “Saya bertemu Presiden Toyota Mr. Akio Toyoda, saya minta Indonesia dijadikan sebagai product service khusus untuk ekspor,” kata Presiden Jokowi, seperti dikutip dari laman Setkab, Rabu (25/3).

Menurut Jokowi, pihak Toyota telah menyanggupi ekspor ditingkatkan tiga kali lipat dari yang sekarang, baik komponen maupun yang mobilnya atau paling tidak sama dengan Thailand. “Sekarang Thailand tujuh ratus ribuan, di Indonesia baru dua ratus ribuan, tadi komitmennya itu. Tapi dia (Presiden Toyota) juga minta agar dibantu visa kerja, angkutan barang dari pabrik ke pelabuhan, ketiga masalah berurusan berkaitan dengan pelabuhan,” papar Jokowi.

Tak hanya itu, Jokowi mengatakan Toyota sudah menyampaikan bahwa akan berinvestasi di Indonesia senilai Rp20 triliun. Jokowi menilai dengan besarnya nilai investasi asal Jepang yang masuk ke Indonesia akan membangun tingkat kepercayaan terhadap kedua negara. “Kalau ini masuk, yang lain akan ikut karena ini bangun kepercayaan,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Menteri Perindustrian Saleh Husin berharap industri otomotif Indonesia bisa mendorong penguatan bisnisnya di Indonesia dengan meningkatkan komponen lokal dan meningkatkan angka ekspor kendaraan. Maka dari itu, pihaknya menilai perlunya pendalaman struktur dan strategi bisnis yang tepat dari beberapa pabrikan otomotif yang beroperasi di Indonesia.

“Pertumbuhan pasar dalam negeri yang terus meningkat seyogyanya menjadi pendorong bagi pelaku usaha otomotif untuk terus mengembangkan industri komponen guna memperdalam struktur industri otomotif nasional. Tentunya hal ini akan kita terus dorong,” ujar Saleh.

Sekedar informasi, Toyota Indonesia lewat PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) pada delapan bulan pertama di 2014 telah mengekspor 97.111 unit mobil dalam bentuk utuh (CBU), naik 24,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor tersebut terdiri dari Toyota Fortuner, Innova, Vios, Yaris, Rush, Avanza, Town dan Agya. Tahun 2013, TMMIN berhasil mengekspor mobil 118.438 unit.

Mengacu data Gaikindo, total ekspor CBU dalam delapan bulan pertama tahun 2014 sudah mencapai 127.115 unit, 97.111 unit atau 76,3 persen diantaranya disumbang dari mobil bermerek Toyota. Sampai saat ini, Toyota mengekspor mobil ke 70 negara di seluruh dunia. Dari sisi nilai, total ekspor Toyota mencapai lebih dari US$12 miliar sejak pengapalan perdana (1987) Sedangkan pada 2013, nilai ekspor Toyota tercatat mencapai lebih dari US$2,1 miliar.

Alih Teknologi

Terlepas dari seberapa besarnya perusahaan asal Jepang tersebut melakukan ekspor, Pengamat otomotif Suhari Sargo menyatakan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah bagaimana para perusahaan asing yang ada di Indonesia untuk bisa melakan alih teknologi, terlebih untuk industri otomotif. Namun begitu, kata dia, yang menjadi dasar adalah bahwa teknologi otomotif itu sangat kompleks, sehingga memerlukan persiapan dengan jangka waktu yang panjang . “Teknologi mobil atau otomotif itu pada dasarnya sangat kompleks. Karena memerlukan puluhan ribu komponen, misalnya dari desain dan bahan, dan itu tidak mungkin dibuat di satu pabrik,” jelas Suhari.

Dia menjelaskan, kebijakan alih teknologi bagi industri otomotif memang belum kuat, terutama setelah krisis ekonomi 1998. “Waktu itu pasar anjlok dan rugi besar, namun hanya perbankan yang diselamatkan pemerintah, sedangkan otomotif tidak. Maka kalau industri otomotif ingin selamat maka harus berpartner dengan merek besar, karena ini butuh investasi besar atau penambahan modal. Mereka (asing) mau berinvestasi di Indonesia pada waktu itu karena mereka melihat Indonesia punya prospek ke depan,” tuturnya.

Keberhasilan Malaysia memproduksi Proton, tambahnya, merupakan buah manis dari kerja keras pemerintah Malaysia pada masa kepemimpinan Mahathir Muhammad. “Waktu itu belum ada WTO dan Malaysia ingin membuat mobil, jadi mereka menawarkan pada pihak ketiga siapa yang mau berinvestasi. Dan Mitsubishi mau, tapi dengan saham minoritas, yang mayoritas tetap pemerintah. Pemerintah yang investasi paling banyak di sana, mengatur pemasaran, bahkan semua kantor pemerintah diwajibkan pakai Proton, dan masyarakat yang memakai itu akan diberi imbalan,” jelasnya.

Sementara itu, Pengamat industri LIPI Latif Adam mengatakan, untuk kerjasama investasi jangka panjang, pemerintah seharusnya dapat bernegosiasi dalam hal transfer teknologi. Tapi kenyataannya hal itu tidak mudah. “Kalau pemerintah memaksakan investor asing harus melakukan transfer teknologi, maka yang ditakutkan Indonesia menjadi kompetitor mereka,” ungkap Latif.

Selain itu, sambungnya, ada juga indikasi, kompetensi perusahaan lokal yang kurang mampu menyerap teknologi. Jadi walaupun sudah ada kerjasama transfer teknologi, tapi ternyata kemampuan dari perusahaan lokal belum mampu menyerapnya. “Ini juga yang akhirnya kita tidak ketat untuk memaksa melakukan transfer teknologi. Sehingga kemampuan untuk menyerap transfer teknologi amat minim,” lanjutnya.

Related posts