Produksi Minyak Blok Cepu Bakal Naik Dua Kali Lipat

NERACA

Jakarta – Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradnyana menegaskan produksi minyak Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu bakal mengalami kenaikan menjadi 80.000 barel per hari pada April 2015. Saat ini, produksi Banyu Urip sekitar 40.000 barel per hari. Dengan demikian, pada April 2015, produksi Banyuurip akan bertambah produksi 40.000 barel per hari, sehingga menjadi 80.000 barel per hari.

“Tambahan 40.000 barel per hari tersebut berasal dari fasilitas pemrosesan utama (central processing facilities/CPF),” jelas Gde Pradnyana seperti tertulis dari laman Antara, Selasa (24/3). Ia mengatakan, saat ini, pihaknya masih menunggu persetujuan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk mencapai produksi 80.000 barel per hari. “Ada masalah flaring (pembuangan) yang perlu persetujuan amdal dari KLH,” ujarnya.

Menurut dia, flaring tersebut hanya akan dilakukan sementara hingga fasilitas injeksi gas sudah siap. “Karena gas injection-nya belum siap, maka terpaksa di-flare dulu," ujarnya. Gas yang dibuang tersebut berasal dari fasilitas ekspansi awal (early oil expansion/EOE). Sekedar informasi, pada Oktober 2014, produksi Banyu Urip naik 10.000 barel per hari dari sebelumnya 30.000 menjadi 40.000 barel per hari. Peningkatan 10.000 barel per hari itu berasal dari EOE. Sedangkan, produksi 30.000 barel per hari berasal dari fasilitas produksi awal (early production facilities/EPF).

Selanjutnya, pada Agustus 2015, produksi Banyu Urip ditargetkan mencapai puncaknya sebesar 165.000 barel per hari. Secara rata-rata produksi minyak Banyu Urip pada 2015 ditargetkan mencapai 100.000 barel per hari. Produksi Banyu Urip tersebut menjadi penyumbang utama rencana produksi minyak sesuai APBN Perubahan 2015 sebesar 825.000 barel per hari. Berdasarkan rencana pengembangan lapangan (plan of development/POD) dengan skenario full production, proyek Banyu Urip menelan investasi 2,5 miliar dolar AS yang terdiri atas fasilitas produksi 2,2 miliar dolar dan pengeboran sumur 337 juta dolar.

Kontrak kerja sama Blok Cepu ditandatangani 17 September 2005 dengan Mobil Cepu Limited yang sekarang menjadi ExxonMobil Cepu Limited sebagai operator. ExxonMobil memegang 45 persen saham partisipasi Cepu, PT Pertamina EP Cepu 45 persen saham dan Badan Kerja Sama PI Blok Cepu (BKS) dengan 10 persen saham. Cadangan minyak Lapangan Banyu Urip diperkirakan sebesar 450 juta barel.

Harapan Pemerintah

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaruh harapan pada lancarnya proses penyelesaian fasilitas produksi Blok Cepu demi mengamankan target lifting minyak sebesar 825 ribu barel per hari (BPH) dalam APBNP 2015. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja, menjelaskan sampai saat ini realisasi lifting minyak masih berada di bawah target yang ditentukan.

Oleh karena itu, pemerintah menurutnya sangat berharap Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu yang dioperasikan Exxon Mobil Cepu Ltd (EMCL) di Jawa Timur bisa menambah jumlah produksi secara signifikan mulai pekan depan. “We do our best. Kalau sampai bulan ini memang masih di bawah 800 ribu BPH. Kami akan upayakan supaya yang dari Cepu bisa masuk karena Cepu mulai minggu depan akan tambah produksi,” ujar Wiratmadja.

Wiratmadja berharap rencana penambahan produksi Blok Cepu tidak molor dari yang direncanakan. Menurutnya, Blok Cepu akan mengalami puncak produksi 165 ribu BPH sekitar Agustus-Oktober dan itu diharapkan jadi penambal utama defisit lifting. “Memang profilenya begitu. Rendah sekarang dan tunggu Cepu yang akan cover. Tergantung kondisi karena Cepu peak-nya baru Agustus-Oktober,” katanya.

Sesuai rencana pengembangan lapangan (plan of development/PoD), investasi di Proyek Banyu Urip, Blok Cepu mencapai lebih dari US$ 2,52 miliar, dengan rincian untuk pembangunan fasilitas produksi sebesar US$ 2,18 miliar dan pengeboran sumur sebanyak US$ 337 juta. Pembangunan fasilitas dibagi ke dalam lima kontrak EPC (engineering, procurement, and construction/rekayasa, pengadaan, dan konstruksi), yakni fasilitas produksi utama (Central Production Facility/CPF), pipa darat (onshore) 72 km, pipa laut (offshore) dan menara tambat (mooring tower), Floating Storage Off-loading (FSO), serta fasilitas infrastruktur.

Sementara untuk meningkatkan produksi sumur tua, Wiratmadja mengatakan Kementerian ESDM akan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Norwegia dalam penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) pada sumur-sumur minyak tua di Indonesia. Menurutnya, Norwegia contoh sukses negara yang berhasil memanfaatkan teknologi EOR selama 20 tahun untuk menaikkan cadangan minyak hampir 60 persen. “Dia kebanyakan menggunakan chemical, tapi juga sistem injeksi gas. Kalau di kita yang sudah menggunakan injeksi gas dan sudah jalan di Blok Duri," katanya.

Related posts