50% UMKM Kekurangan Modal

NERACA

Jakarta - PenelitiIndef, Imaduddin Abdullah, mengungkapkan sekitar 50% dari total usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kekurangn modal."Sektor ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah karena berdasarkan survei sebanyak 50% permasalahan utama mereka ialah kekurangan modal usaha," katanya di Jakarta, Senin (23/3).

Selain itu, permasalahan lainnya adalah kesulitan dalam pemasaran sebesar 24%, kurangnya keahlian tujuh persen, dan faktor lainnya yang mencapai 19%.Menurut dia, sektor UMKM turut berkontribusi pada perekonomian nasional karena mampu menyerap 107 juta tenaga kerja, atau sekitar 97,2% dari total angkatan kerja di Indonesia.

"Kontribusi UMKM dalam menyerap tenaga kerja jauh lebih besar daripada sektor usaha besar, sekitar 2,8%. Kontribusi pada PDB juga mencapai 59,1%," kata Imam. Diaberpendapat bahwa pengalokasian dana sebesar Rp5 triliun dalam APBN-P 2015 untuk mengembangkan UMKM diharapkan pemanfaatannya berfokus pada hal-hal yang tidak difasilitasi oleh perbankan.

Terkait dengan peran sektor perbankan, pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya Ahmad Erani Yustika mengatakan bahwa saat ini komitmen dan dukungan mereka pada UMKM makin melemah."Komitmen mereka pada sektor industri padat karya, sektor pertanian, itu makin melemah dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2000, sebanyak 48% kredit bank lari ke sektor industri, kemudian pada tahun 2010 anjlok menjadi 18%," kata Erani.

Untuk itu, dia berharap sektor perbankan agar bisa menyadari bahwa industri dan pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia sehingga dapat membantu pihak-pihak tersebut. [ardi]

Related posts