Pengamat: Gombal, Swasembada Gula Pemerintah

NERACA

Jakarta –Gaung swasembada pangan yang di lontarkan Presiden Jokowi dalam program nawacitanya belum sesuai ekspektasi masyarakat. Bahkan program swasembada pangan dengan menciptakan lahan pertanian baru di luar Jawa sebanyak 1 juta hektar juga direspon skeptis dan begitu juga halnya dengan swasembada gula dinilai hanya gombal semata.

Pengamat ekonomi UI Sulastri mengatakan, swasembada gula yang ditargetkan pemerintah hanya gombal semata. Hal ini dikarenakan belum ada aksi yang jelas dari pemerintah untuk melakukan swasembada tersebut,”Gombal gimbal saja upaya pemerintah untuk swasembada itu,”ujarnya di Jakarta, Senin (23/3).

Menurut dia, kekurangan 350 ribu ha lahan untuk produksi tebu tidak akan diperoleh di dalam pulau Jawa. Padahal, tanaman tebu tidak dapat tumbuh di sembarang tempat,”Dapat 350 ribu ha itu dari mana? Jawa kan sudah penuh, otomatis harus di luar Jawa. Padahal tanaman tebu ini enggak bisa sembarangan," ujarnya.

Selain itu, hingga saat ini Sulastri mengatakan bahwa pemerintah belum terlihat pro pada petani tebu. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan negara lain,”Pemerintah maunya apa, siapa yang mau dibela apakah petani atau konsumen. Harus clear dulu. Negara lain semua petani dibantu, ada subsidi di mana-mana seperti Amerika, Jepang, Thailand," ujarnya.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) HM Arum Sabil pernah mengingatkan, tanpa kesungguhan dan dukungan penuh pemerintah bagi penguatan industri dan bisnis gula di dalam negeri, maka swasembada gula dalam dua sampai tiga tahun ke depan hanya merupakan fatamorgana,”Swasembada gula dalam dua sampai tiga tahun ke depan jangan hanya fatamorgana. Swasembada komoditas strategis itu sangat tergantung pada kesungguhan dan niat baik pemerintah. Pemerintah jangan membiarkan adanya kepentingan tertentu di balik kebijakan impor gula," katanya.

Arum menjelaskan, secara umum produktivitas industri gula nasional masih rendah, yakni baru mencapai sekitar empat sampai enam ton gula per hektare dengan komponen berat tebu 70 ton per ha dan rendemen enam sampai 7,5%.

Sebelumnya Kementerian Pertanian mencatat, produksi gula pada 2014 hanya mencapai 2,58 juta ton atau meleset dari angka taksasi produksi sebesar 2,7 juta ton. Dengan capaian produksi sebanyak itu kebutuhan gula nasional masih jauh dari tercukupi. Langkah pemerintah untuk mengatasi kekurangan gula di dalam negeri adalah dengan membuka keran impor. Namun arus impor gula yang relatif deras merembes ke pasar tradisional dan menekan harga gula lokal. Gula kristal rafinasi untuk keperluan industri makanan dan minuman banyak merembes ke penjualan eceran.

Menurut Arum, produksi gula nasional yang sangat terbatas tidak bisa dilepaskan dari kondisi pabrik gula yang sudah berusia tua, bahkan sejumlah pabrik gula masih tercatat sebagai warisan pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, pabrik gula yang ada sudah tidak efisien dan membuat harga gula lokal tidak bisa bersaing dengan harga gula impor,”Kalau saja pemerintah memberikan penyertaan modal dengan fasilitas perbankan nasional kepada 50 pabrik gula masing-masing sebesar Rp 1 triliun, maka akan ada keleluasaan bagi industri gula untuk meningkatkan produktivitas untuk mencapai swasembada gula, sementara nantinya mereka akan mengembalikan pinjaman sesuai ketentuan," katanya.

Selain perlunya revitalisasi mesin atau pembelian mesin baru untuk industri gula, Ketua Umum APTRI juga menjelaskan kendala lain dalam pengembangan industri gula nasional, yakni keterbatasan lahan dan bibit tebu varietas unggul serta perlunya perbaikan sistem pengairan,”Disamping itu penelitian dan pengembangan harus terus dilakukan. Para peneliti bahkan merupakan garda terdepan bagi pengembangan industri gula. Maka, dalam kaitan ini kesejahteraan peneliti harus benar-benar diperhatikan agar mereka bisa fokus serta tidak lagi memikirkan masalah kekurangan finansial keluarganya masing-masing," tuturnya.

Dia juga menyatakan, keberhasilan industri gula nasional tidak hanya dinilai dari kemampuan berswasembada dan peningkatan daya saing pada era perdagangan bebas, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah tercapainya kesejahteraan petani tebu. bani

Related posts