Investasi Semen Indonesia Ikut Membengkak - Dampak Penguatan Dollar AS

NERACA

Jakarta – Banyak pelaku usaha tidak merasakan hapy disaat dollar AS menguat tajam terhadap rupiah, lantaran biaya produksi juga ikut terkerek naik yang umumnya masih didapatkan dari impor dan begitu juga bagi perusahaan yang memiliki utang dalam bentuk dollar AS. Apa yang dikeluhkan pelaku usaha, rupanya juga dialami PT Semen Indonesia Tbk (SMGR). Pasalnya, investasi pembangunan pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah terkerek naik signifikan karena nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia, Agung Wiharto mengatakan, melemahnya nilai tukar rupiah menjadi beban bagi perusahaan, “Yang cukup berdampak lebih ke investasi pembangunan pabrik baru, packing plant. Meskipun sebagian besar peralatannya dari Eropa dan membayar pakai mata uang Euro tapi ada yang harus bayar pakai dolar AS,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Investasi pembangunan pabrik Rembang berkapasitas 3 juta ton, sambung Agung, contohnya yang semula ditaksir dengan perhitungan Rp 3,7 triliun (kurs sekira Rp 10 ribu per dolar AS) pada 2012, kini melonjak karena depresiasi kurs rupiah, “Sekarang menjadi Rp 4,4 triliun dengan kurs hampir Rp 13 ribu per dolar AS. Jadi selisih penambahannya mencapai Rp 700 miliar," jelas Agung.

Lebih jauh dia mengatakan, saat ini pembangunan pabrik Rembang milik PT Semen Indonesia Tbk terus berjalan dan diperkirakan rampung pada akhir 2016. Sehingga perseroan harus mengkalkulasi kembali investasi proyek tersebut sejak 2012 sampai sekarang. Disebutkan, perkiraan dana Rp 4,4 triliun sampai selesai nanti dengan perhitungan kurs yang sekarang. Namun bila kurs dolar AS turun, maka biaya juga akan turun.

Selain itu, kata Agung, dampak pelemahan rupiah kepada biaya operasional perusahaan tidak terlampau besar. Disebutkan, struktur beban pengeluaran perseroan cuma 7% yang menggunakan dolar AS. Dimana penggunaan bentuk dollar AS, antara lain untuk perawatan seperti membeli suku cadang, craft paper yang sebagian pakai dolar dan Euro.

Meski begitu, dia sangat berharap pergerakan kurs rupiah lebih stabil. Volatilitas tidak terlalu tinggi sehingga dapat menghitung biaya pengeluaran tanpa ada perubahan."Kami tidak suka (rupiah melemah), karena inginnya stabil agar bisa memprediksi pergerakan ke depan seperti apa. Itu pun kami bisa absorb dari ekspor semen yang dibayar dalam bentuk dolar AS," tegas Agung.

Sebagai informasi, laba Semen Indonesia yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun buku 2014 meningkat sekitar 3,64% menjadi Rp5,565 triliun dari 2013 sebesar Rp5,370 triliun. Disebutkan, kenaikan laba seiring dengan pendapatan perseroan pada 2014 yang meningkat sebesar 10,14% menjadi Rp26,987 triliun dibandingkan pencapaian tahun 2013 sebesar Rp24,501 triliun. Pendapatan perseroan terdiri dari dalam negeri sebesar Rp25,610 triliun, dan luar negeri Rp1,376 triliun. (bani)

Related posts