Perbankan Diminta Salurkan Kredit di Bawah 10% - Industri Kecil dan Menengah

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian, Euis Saidah, meminta agar perbankan ramah terhadap industri kecil dan menengah. Ramah dalam artian mau memberikan kredit pada IKM, dengan bunga yang rendah. “Selama ini bank hanya mau memberikan kredit kepada korporasi besar, sedangkan IKM serasa dianaktirikan. Oleh karenanya saya meminta pada perbankan agar ramah dan mau memberikan kredit pada IKM nasional,” katanya kepada Neraca, di Jakarta, Senin (23/3).

Selain itu, dirinya juga meminta selain ramah terhadap IKM, bank juga bisa lebih peduli dalam memberikan kredit, meskipun suku bunga acuan tinggi berada di level 7,5%. "Saya minta bank jangan mematok kredit tinggi ke IKM. Kalau bisa di bawah 10%,” imbuhnya.

Meski dirinya mengakui, bank punya kekhawatiran IKM tidak mampu membayar kredit, tapi bank juga bisa selektif dalam membarikan pinjaman kredit. Toh menurut Euis, tidak semua IKM tidak mampu bayar kredit, banyak juga IKM-IKM nasional yang sudah mapan. “Bank bisa melihat mana IKM yang bagus dan tidak. Jadi, tinggal bank selektif saja dalam memberikan kredit," terang Euis.

Berdasarkan pantauan Kemenperin, banyak juga IKM yang secara laporan keuangan sudah bagus dan tidak ada salahnya bank kini harus ramah pada IKM. Apalagi pemerintah baru saja memberikan penyertaan modal negara kepada bank-bank BUMN. "Jadi tidak ada salahnya bank sudah harus mulai melirik IKM. Jika saja bank mau memberikan kredit kepada mereka maka IKM nasional lebih berkembang lagi. Terlebih, potensinya sangat besar sekali," tandasnya.

Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian mendapatkan tambahan anggaran sebanyak Rp300 miliar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015."Semula sudah ada tambahan Rp105 miliar, nanti mau ditambah lagi Rp200 miliar yang diambil dari pos anggaran Direktorat Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri, jadi total tambahannya sebanyak Rp300 miliar," kata Euis.

Berkat total tambahan tersebut, pos Ditjen IKM Kemenperin memiliki anggaran Rp600 miliar dari total Rp1,8 triliun untuk keseluruhan Kemenperin dalam APBNP 2015.Euis menuturkan dengan besaran anggaran senilai tersebut, pihaknya memprioritaskan langkah dan upaya untuk mendorong penambahan wirausahawan baru yang berbasis hilirisasi sektor agro dan tambang, sebagaimana tercantum dalam 10 program quick wins Kemenperin 2015-2019.

Ditjen IKM Kemenperin menetapkan target penambahan sebanyak 4.500 industri menengah dan 20.000 industri kecil selama lima tahun ke depan. [agus]

Related posts